Salah satu alasan saya menyukai konsep ibadah Islam adalah siapa pun (laki-laki) boleh menjadi imam (asal bacaan dan hafalannya bagus) dan bisa berdiri di baris mana pun.
Tidak ada kasta hirarkis profesi. Pedagang cilok bisa sejajar dengan bupati sekalipun jika sudah shalat jamaah.
Bahkan pedagang tersebut bisa saja mengimami seorang presiden.
Tidak ada istilah “tempat ini khusus untuk bapak/ibu A, B, C (donatur utama, pejabat, orang penting) seperti di agama sebelah.
Seorang muslim ketika shalat juga melepaskan semua harta bendanya di lantai (hape, tas, dompet dll).
Tidak ada yang dibawa dan dipegang lagi kecuali iman dan takwa.
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.
@ikanatassa@bukugpu Aku masih dalam perjalanan membiasakan diri untuk membaca, karena perasaan suka bisa muncul karena terbiasa. Belakangan ini, aku lagi suka bacain fiksi, menyenangkan bisa memasuki dunia lain. Lumayan, untuk melatih imaji dan empati.
Kemiskinan adalah komoditas bagi politikus, pejabat dan negara ini tidak serius untuk memberantas kemiskinan dan kemiskinan harus tetap ada agar mereka tetap eksis mengendalikan negara ini
Coba pikir kalau rakyat udah sejahtera semua, siapa yang mau dikasihani? Siapa yang mau diiming-imingi bansos tiap musim pemilu? Siapa yang mau percaya janji “akan kami entaskan” padahal udah 79 tahun kita merdeka dan grafik kemiskinan itu turunnya kayak sinyal di daerah blank spot pelan, sering putus, dan nggak bisa diandalkan
Mereka butuh lo tetap lapar. Bukan lapar yang bikin mokat, tapi lapar yang bikin lo nurut. Lapar yang bikin lo jual suara seharga 50 ribu dan sebungkus sembako. Lapar yang bikin lo terlalu capek buat nanya ke mana larinya anggaran triliunan itu
Program pengentasan kemiskinan? Ada. Anggarannya? Ada. Hasilnya? Tiap tahun angkanya diupdate, tapi yang berubah cuma metodologi hitungannya bukan nasib orangnya.
Ini bukan soal nggak mampu. Ini soal nggak mau. Karena sistem yang rusak itu menguntungkan mereka yang duduk di atasnya. Dan selama kursi itu masih nyaman, jangan harap ada yang mau ganti fondasinya
Lo miskin bukan karena lo malas. Lo miskin karena ada yang berkepentingan lo tetap di posisi itu
Koreksi if gue wrong