btw aku baru tau loh, ternyata piggy bank itu asalnya dari indo. aku lihat banyak animasi barat selalu ada piggy bank, kukira ini budaya mereka, ternyata kita??
pertama, ternyata dari segi ekonomi, waktu majapahit berjaya di abad 13 sampai 14, ada perubahan besar dalam cara masyarakat menyimpan uang.
waktu itu banyak koin tembaga cina yang disebut kepeng masuk ke jawa. koin kepeng itu kecil, bulat, dan ada lubang di tengahnya. nah inituh jumlahnya banyak banget.
kedua, dari sisi budaya dan simbolisme. babi hutann di jawa punya makna yang cukup dalam. udahla subur, punya nafsu makan besar, dan suka berkubang di lumpur. semua itu dianggap sebagai simbol kemakmuran, keberuntungan, dan hubungan dengan roh bumi.
"lah tapi gimana bisa nyebar sampe luar sana?"
nah, kemungkinan, celengan berbentuk babi ini menyebar ke eropa lewat jalur perdagangan.
salah satu teorinya, seorang pendeta italia bernama Odorico da Pordenone yang pernah berkunjung ke majapahit di abad ke 14, membawa pulang ide ini ke eropa.
nah, dari sana tradisi menyimpan uang di bentuk babi mulai menyebar ke jerman, inggris, dan negara eropa lainnya. jadi piggy bank yang sekarang jadi ikon global itu, akarnya justru dari Nusantara.
di Eropa sendiri, ada teori lain yang bilang kata "piggy bank" berasal dari kata "pygg" dalam bahasa Inggris kuno, yaitu sejenis tanah liat oranye yang sering dipake bikin peralatan dapur.
katanya karena pengucapan yang mirip, lama-lama tempat menyimpan uang yang dulu disebut "pygg jar" berubah jadi "pig jar", lalu "piggy bank."
tapi teori ini sebenernya dibantah banyak ahli etimologi. ga ada catatan sejarah yang pasti soal adanya tanah liat bernama pygg, dan ceritanya kemungkinan besar cuma folklore.
jadi teori yang paling kuat justru mengarah ke indonesia. celengan berbentuk babi itu lahir di tanah jawa, di masa kerajaan majapahit, dan dari sana menyebar ke seluruh dunia.
Fun fact tentang Kota Solo
Nama 'Kota Solo' itu sebenarnya GAK ADA secara administratif.
Kalau kita nulis alamat kan biasanya desa, kecamatan, kota/kabupaten, trus provinsi. Nah... 'Solo' itu gak masuk salah satu dari itu.
Secara administrasi, nama resminya adalah Kota Surakarta bukan Solo. Ia hanya sebutan terkenal yang tidak bisa dihilangkan dari ingatan masyarakat.
Fakta menarik kedua, mbah² jaman dulu itu kalau melafalkan 'Solo' itu tidak menggunakan huruf O seperti pada kata 'Soto'. Tapi seperti huruf shad pada bahasa Arab dan lo nya pun demikian.
Selat Solo itu bukan sekadar makanan, melainkan jadi simbol diplomasi. Dulu, hidangan ini sering disajikan saat jamuan resmi untuk tamu2 Belanda di keraton.
Orang Belanda biasa makan makanan dari daging sapi dan sayur2an. Sementara, selera masyarakat Jawa lebih suka masakan yg kaya rempah, berkuah, dan cenderung manis.
Maka jadilah Selat Solo. 🍛