Indonesian authorities used online disinformation campaigns to brand activists and journalists as "foreign agents" and silence dissent, sometimes leading to physical threats, Amnesty International said. https://t.co/sFoBm6AbMx
Halo min @jadijago@Tanyajago , ini tiap mau verif email via aplikasi kenapa kode OTP nya baru dikirim 10 menit kemudian setelah aplikasinya (bukan smartphone) auto lock/login via pin/biometricl?
Ditungguin email-nya ga muncul2
Trading Halt dan Potensi Lengsernya Prabowo
18 Maret 2025 menjadi hari yang mungkin akan dicatat sebagai sejarah bagi banyak orang di Indonesia, khususnya pelaku saham. Pada pukul 11:19 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 5%, turun 325,03 poin ke angka 6.146,91. Atas anjloknya harga saham, BEI harus menghentikan perdagangan sementara (trading halt), sesuatu yang terakhir kali terjadi saat pandemi COVID-19 melanda di Maret 2020.
Bayangkan, pasar saham yang biasanya ramai tiba-tiba “diam” karena semua panik. Namun, fenomena ini bukan hanya tentang saham atau uang di dompet para investor. Fenomena yang terjadi hari ini, berkaitan dengan cerita tentang hidup kita sehari-hari. Misalnya, harga beras yang naik, pekerjaan yang goyah, sampai harapan yang mulai pudar. Nah yang menjadi pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi di pasar saham?”.
Kalian bisa membayangkan kalau IHSG diibaratkan seperti termometer yang mengukur kesehatan ekonomi kita, dari akhir 2024 di angka 7.163, sekarang menjadi 6.146, turun lebih dari 11% dalam tiga bulan. Investor asing kabur membawa Rp 24 triliun, termasuk Rp 3,47 triliun sehari setelah Danantara diresmikan tanggal 24 Februari 2025. Trading halt diibaratkan sebagai tombol darurat yang ditekan oleh BEI, karena semua orang buru-buru menjual saham mereka.
Apa sih yang menyebabkan BEI menekan tombol darurat? Di dalam negeri, menurut saya terdapat tiga “biang kerok”: (1) Danantara, (2) pemotongan APBN, dan (3) RUU TNI. Sedangkan di luar negeri, tarif baru dari United State, perang Rusia-Ukraina, serta ekonomi US yang sedang sakit, membuat suasana tambah runyam. In my humble opinion, fenomena yang terjadi ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kepercayaan yang ambruk.
-Sebuah Esai-
@makodanchou @linkaja Dicoba2 aja terus menu pilihan nya biar bisa chat agen nya. Biasanya mereka on dari jam 07.00 sampe jam 17.00 aja. Diulang2 terus sampai bosen ya
halo kak, produk dari @Steam Valve Corp belum saya terima tapi pembayaran dari @linkaja LinkAja dianggap sukses, padahal saldo sudah terpotong, ini bagaimana ya?
sudah saya hubungi pihak Valve, namun belum menerima dana.
livechat linkaja juga tidak dibalas oleh agen
@linkaja Alhamdulillah, terima kasih @linkaja yang sudah bekerja susah payah (?) untuk menelusuri keluhan saya. Mohon maaf selama ini bila keluhan saya kurang bisa memberikan klarifikasi data yang cukup.
@fisik_sehat@Steam@linkaja Ada sih yg lebih parah, ada yg transfer balik ke bank 1 jt, 1.8 JT, tp ternyata gada yg masuk
Berharap apa sama perusahaan negara wkwkwk