| A husband | a father | a son | Ambivert | #bahagia | don't dream it's over | likes and RT are not endorsement | Nino is Needy Inside, Naughty Outside™ |
Akhirnya ada yg menuangkan dlm bentuk tulisan. Terima kasih, semoga thread ini bisa memberi kesejukan bagi kita yg sdg panas. Aamiin. https://t.co/3YtcNaqoeI
Hai.. jual rumah jalan raya kavling DKI,
Lt 165m2 dan LB 208m2
SHM + IMB ✓
Semenit jalan kaki ke Mesjid,
Dekat Tifosi Radin Inten, keluar jalan raya ada
puteran balik arah kalimalang
Posisi antara Kalimalang dan BKT kol. Sugiono
Minat DM ya.
Nego sampai Deal
Hai.. jual rumah jalan raya kavling DKI,
Lt 165m2 dan LB 208m2
SHM + IMB ✓
Semenit jalan kaki ke Mesjid,
Dekat Tifosi Radin Inten, keluar jalan raya ada
puteran balik arah kalimalang
Posisi antara Kalimalang dan BKT kol. Sugiono
Minat DM ya.
Nego sampai Deal
Inilah alasan kenapa LKY mendorong agar kantor dan sekolah memiliki AC.
Karena emang benar.
Semakin panas suatu ruangan, semakin susah orang di ruangan itu untuk fokus dan produktif.
Boro-boro kerja. Yang ada orang ngeluh mulu
Apalagi, Singapura sama kek Indo. Daerahnya tropis dan lembap.
FOTO: Facebook/Andrew Mah
Kasus pengendara Alphard arogan di Bundaran HI ini hanya puncak gunung es problem mentalitas aparatur yang bermasalah. Dan ini bukan masalah individual, ini institusional.
Bagaimana bisa terjadi, aparat yang tugasnya menjaga ketertiban termasuk lalu lintas, justru melakukan pelanggaran di jalan, bukannya mengaku salah malah arogan dan mengintimidasi, dan diduga menggunakan plat kendaraan palsu?
Semakin memperkuat tesis bahwa selain kecakapan teknis, aparatur negara wajib dibekali kecakapan etis, supaya paham benar/salah dan baik/buruk, sehingga bisa menjadi teladan, bukan beban.
Buat teman2 yg suka selal selip di tol.
Kami, kaum slow driver, jaga jarak dengan mobil di depan bukan supaya kalian bisa nyelip, tapi biar gk terjadi tabrakan beruntun seperti video dibawah.
Enggak pernah nyaman sama opini middle ground gini.
Terlihat netral tapi sebenernya tidak adil karena memberi fokus atas kesalahan dua pihak, jadi tampak sama-sama salah. Alih-alih bicara keadilan.
Aparat TNI mukulin rakyat itu pelanggarannya konstitusi. Fokus itu dulu. Gaada pembenarannya.
Warung madura kasih biaya admin ke QRIS itu perkara edukasi aja. Transaksi di bawah 500rb setauku ga kena biaya admin. Penjaga warungnya mungkin belom tau.
Melanggar konstitusi ga pantas di “sama-sama tidakdibenarkan” dengan perkara kurang edukasi.
Gue lagi scroll balas-balasan pendapat ini. Soal kasus korupsi dan soal guru. Semakin lama semakin luas, semakin muddy. Makin banyak pertanyaan dan hampir tidak ada jawaban.
Banyak plot-hole dari narasi yang dibangun yang gw ga bisa “shake it off” karena sticky banget pertanyaannya di kepala gue.
Tapi biarlah itu di kepala gue aj karena ga ada untungnya buat saya diungkapkan toh juga ga akan dapat jawaban.
Hanya saja,
Ada satu titik di mana gue hilang respek ketika ada yang “mengatur” kebebasan pendapat.
Se ga biasa itukah mendengar pendapat yang berbeda jadinya sangat defensif dan reaksi awalnya adalah “ngatur” yang berpendapat plus prejudice.
Kenapa refleksnya ke sana? Kenapa langsung ke sana?
— berkaca ama pengalaman sendiri —
Sampai detik dari dulu sampai mau ngeblok dan cancel karena barang sepele semacam vercel dan bahasa cosplay.
Itu masalah sangat sepele, buat gw itu tidak harmful sama sekali dan kenyatannya ya emang kaya gitu.
Kenapa langsung menuduh motivasinya. Kenapa langsung ada ekstrapolasi luar biasa layaknya teori konspirasi.
Ending-endingnya jadi perca-perca artikel wattpad yang isinya fitnah. Lalu disebar biar jadi fakta.
— end of pengalaman pribadi —
Yang jadi pertanyaan. Kenapa seperti itu refleksnya? Apa backgroundnya? Apa motivasinya?
Masih ga terjawab karena ga masuk akal. Bisa-bisanya bahasa pemrograman, framework, dan profesi jadi identitas yang ga bisa digali, kritisi, atau sesimple di-teasing.
Kenapa tiba-tiba berhenti critical thinkingnya ketika itu terjadi di Industri yang saya tahu sangat mengkampanyekan critical thinking, skeptisisme, dan pragmatisme.
Yang “tokoh-tokoh” nya ketika berbicara di depan umum baik lewat event fisik maupun podcast selalu berbicara soal itu.
Tapi kemudian kok tidak match dengan apa yg dikampanyekan selama ini.
Namanya orang sedang berusaha ya apa saja pasti diusahakan. Kalau ada orang yang berlawanan dan ada di sisi seberang ya bukan berarti dia jahat apalagi tidak terlibat langsung di kasus yang bersangkutan.
Menyuarakan kepentingan yang dia tau, yang dia mengerti. Ya bikin narasi bebas-bebas aja. Kebebasan berpendapat dilindungi UU.
Refleks untuk selalu mengatur dan menentukan orang lain harus ngapain, kapan, itu tuh bibit-bibit sikap diktator antikritik.
Ini kayaknya yg bikin tekbro dibenci. Refleksnya terhadap pendapat yang berbeda yang mereka ga suka.
Terbiasa di lingkungan top down kah? Yang kalau kamu udah dianggap di atas maka ga boleh dikritik?
Yang “wisdom” nya dianggap selalu benar karena kamu kerja di mana? Jabatannya apa? Di luar itu harus di-dismiss?
Kalo iya itu namanya appeal to authority. Dan itu berlawanan 180 derajat dengan critical thinking. Kalo belain karena kesamaan (bahasa, industri, profesi) itu namanya tribalisme, dan kalau dari delivery namanya appeal to emotion.
Itu karakter kultus, bukan outcome dari “wisdom” orang yang sehari-harinya selalu mengajak berpikir kritis dan rasional.