Aku mulai kasih diri sendiri hadiah al-fatihah setiap habis solat abis itu aku usap seluruh badan sambil bilang kalau surat ini aku hadiahin buat diri sendiri sebagai penyembuh luka luka yang kelihatan secara fisik dan luka jiwaku, berikut bekasnya biar aku engga lagi pemarah..
Pernah baca bahkan firaun aja mulutnya sampai disumpal pake tanah sama malaikat Jibril krn dia mau ngucap tauhid pas tenggelam. Gara2 malaikat Jibril takut nanti firaun diampuni Allah kalo beneran ngucap tauhid krn pengampunan Allah gede 😭
Rupanya menurut psikologi,
cewe yang hyperindependent nih, semua dikerjain sendiri dan susah banget minta tolong, bukan karena dia dilahirin kayak gitu atau emang mau.
Mungkin dia punya childhood trauma atau trauma response yang disembunyiin, kayak dulu dipaksa mateng sebelum waktunya, dipaksa harus settle semua sendiri.
Atau dia udah terbiasa hidup tanpa bergantung sama siapa-siapa, atau mungkin emang gak ada pilihan lain, dia harus jadi independent buat survive dan ubah nasib keluarganya 🥺
suamiku jujur awal nikah dia gbs pake mesin cuci krn semuanya selalu ibu dia yang kerjain 😅 akhirnya ku ajarin. salah? gak ku ambil alih. ku ajarin terus² an sampe ibunya sendiri blg ke dia "enak msh jadi anak ibu kan ga perlu pegang mesin cuci"
trs dia jawab—
Gimana sih pertolongan pertama saat emosi/marah/benci/sakit hati tapi biar ga jadi penyakit?
Nama metodenya R.A.I.N, metode ini diajarin temenku yg psikiater biar lebih mindfulness dan meredam emosi supaya ga jadi tekanan batin:
1. R - Recognize
Identifikasi perasaan kita, "aku merasa sakit hati", "aku merasa marah", dsb
2. A - Allow (or Accept)
"Wajar klo aku marah karena omongannya nyakitin banget", dsb
3. I - Investigate
Investigasi efek di diri, "Saking marahnya tenggorokanku terasa tercekat", "saking sedihnya sampe dadaku sakit"
4. N - Nurture
Sayangi diri sendiri, tenangin diri dengan segala kelebihan kita:
- "engga ko, aku tau bahwa aku ga seperti yg dia bilang, aku cerdas, baik, dsb apa yg dia omongin ga bener"
- "dia gatau aku kyk gimana, makanya ngomong seenaknya" dsb
Supaya lebih lega jg bisa dengan ditulis ya.
Jangan malah: "ih kata dia aku bego, iyani emang aku bego ga bisa apa2" itu namanya jahat ke diri sendiri, klo diterusin bisa depresi.
Jadikan diri kita orang yg paling sayang ke diri sendiri. Karena yg bisa menyelamatkan diri kita, ya kita sendiri (dan Allah tentunya).
Jika sulit mengurai harus minta bantuan psikolog/psikiater ya:
Jangan nunggu sampe depresi dulu, krn klo depresi otaknya jd berkabut (brain fog) ga bisa berpikir jernih dan malah jd repot sendiri krn jd penyakit, sedangkan orang yg dibenci malah lg menikmati hidup.
Semoga bermanfaat 😊👍
Gue takut banget masuk ke fase "bawaannya pengen tidur terus" lagi. Biasanya ini jadi tanda awal kalau gue lagi mulai lost, ngerasa kosong, dan pengen ngejauh dari semua orang. Gue nggak mau masuk ke fase itu lagi, please. Gue nggak mau kehilangan diri gue sendiri untuk kedua kalinya. 😔
Semoga kita semua selalu kuat dan bisa menang ngelawan semua hal yang selama ini cuma dipendem sendiri, yang nggak pernah kita ceritain ke siapa pun. Sending big hugs buat kalian semua
Di balik diemnya seseorang,
kadang ada hati yang lagi capek banget berjuang buat tetap kuat setiap hari.
Dan walaupun hidup sering banget nyakitin kamu,
jangan sampe capek jadi orang baik.
Karena dunia ini masih butuh orang-orang tulus,
yang tetap bisa bikin orang lain nyaman walau dirinya sendiri lagi hancur pelan-pelan dalam perjuangannya.
Tetap kuat yaa…
Allah tau semua tangis yang kamu pendam dan semua luka yang ga pernah kamu ceritain ke siapa-siapa 🤍
she lost her spark...
ga seceria dulu,
ga banyak cerita lagi,
lebih milih diem.
but her eyes tell everything 🥀
teruntuk kamu yang lagi ada di fase ini,
semoga segera pulih yaa,
semoga hari-hari baik segera datang kembali 🌹✨
Gue pernah coba jadi orang yang selalu available buat semua orang.
Chat dibales cepet. Dimintain tolong langsung bantu. Dicari pas lagi sedih, selalu nyempetin hadir.
Tapi suatu hari gue capek banget.
Gue milih diem dulu sebentar. Cuma pengen lihat, siapa yang bakal nyari gue.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Berdasarkan observasi, cara paling efektif (dan paling “manusiawi”) supaya seseorang bisa jatuh cinta kepada kita itu bukanlah dengan trik manipulasi, bukan dengan menjadi sempurna, bukan dengan love bombing. Cara paling ampuh ialah:
“kita membuatnya merasakan versi paling hidup, paling utuh, dan paling bebas dari dirinya sendiri hanya ketika dia berada di dekat kita.”