Kayaknya memang setelah MBG, perhatian publik perlu lebih banyak ke KDMP, yg dampaknya bakal lebih dahsyat ini.
Coba baca berita ini. Di Jateng saja, sebanyak 1.297 bangunan KDKMP berdiri di lahan yang bermasalah. Dan yg mengkhawatirkan adalah logika kebijakannya, ketika sebuah program diberi embel-embel Merah Putih, seolah-olah aturan bisa dilanggar.
Ada sekitar 1.100 KDKMP berdiri di LP2B, lahan yang justru dilindungi agar tidak dialihfungsikan. Artinya, program yang katanya untuk memperkuat ekonomi desa malah berpotensi dimulai dengan menggerus salah satu fondasi ekonomi desa, yaitu lahan pangan.
Dan ini baru satu lapis masalah. Sebelumnya sudah ada persoalan pembiayaan, tata kelola, kesiapan koperasi, hingga risiko kredit. Sekarang muncul persoalan tata ruang dan perlindungan lahan pangan.
Kalau pola seperti ini terus terjadi, kita bisa menebak ending-nya. Aturan dilanggar demi mengejar target. Setelah bangunan berdiri, pelanggaran berubah menjadi masalah administratif. Lalu dicari dispensasi, revisi aturan, pemutihan, atau legalisasi.
Pada akhirnya, bukan program yang menyesuaikan diri dengan hukum. Hukumnya yang dipaksa menyesuaikan diri dengan program. Dan semuanya bisa saja dibungkus dengan satu kalimat sakti “Demi Merah Putih.” Dan kita tahu siapa yg kerap memakai kalimat itu...
https://t.co/E6hY5vn5Et
Menyimak Pidato Mr P pagi ini, sambil ngopi.
Prabowo mengatakan MBG, bansos, dan hilirisasi sudah berjalan dan manfaatnya mulai dirasakan rakyat.
Tetapi ada dua angka yang membuat klaim itu patut diuji. Pada kuartal I-2026, kelompok atas tumbuh 8%, sementara kelompok bawah hanya 3,6% dan menengah 3,5%. Di saat yang sama, utang pemerintah mencapai Rp10.293,69 triliun, rekor tertinggi--- ini yg belum disebut dlm pidato.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar apakah program berjalan, tetapi siapa yang menikmati hasilnya dan siapa yang menanggung biayanya?
Kalau yang di atas tumbuh lebih dari dua kali lipat kelompok bawah, sementara negara menambah utang hingga rekor tertinggi, maka narasi “manfaat sudah dirasakan rakyat” itu hanya omon-omon.
I am in shock - watching Israeli mobs and army destroying Palestinian life.
States recognising Palestine,
Norway as the guardian of the Oslo Accords,
Heads of UN agencies, World Bank,
ICRC, NGOs sur place,
Palestinian Authority:
what are you doing to stop the violent pogroms??
Sebenarnya pertanyaan kayak begini tuh selalu menarik buat dibahas, karena di situ kita bisa lihat bagaimana bahasa itu bekerja di luar logika asal-usulnya.
Kata rohani memang murni dari bahasa Arab rūḥānī (روحاني), yang berasal dari rūḥ (روح) artinya roh atau jiwa. Jadi secara etimologis, kata ini sangat dekat dengan tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam.
Sementara religi masuk ke bahasa Indonesia lewat jalur Eropa, dari Latin religio (yang sering dikaitkan dengan religare = mengikat kembali, atau relegere = membaca ulang), lalu lewat Belanda religie. Jadi secara asal-usul, “religi” justru lebih dekat dengan tradisi Kristen-Romawi.
Tapi kenapa di Indonesia malah kebalikannya?
Karena bahasa tidak pernah bekerja berdasarkan etimologi murni. Bahasa selalu dibentuk oleh praktik sosial, sejarah, dan budaya penutur.
Kata “rohani” sudah masuk ke dalam bahasa Melayu jauh sebelum Kristen menjadi komunitas besar di sini. Dia dipakai secara luas untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan “jiwa” atau “spiritualitas”.
Ketika komunitas Kristen berkembang, mereka mengambil kata yang sudah tersedia dan akrab di telinga orang Melayu-Indonesia untuk menamai musik keagamaan mereka. “Lagu rohani” terdengar natural, lembut, dan langsung mengarah ke dimensi batin. Tidak perlu menciptakan kata baru.
Sementara “lagu religi” muncul belakangan, kira-kira sejak era musik pop Islam modern (tahun 80-an–90-an ke atas). Kata “religi” dipilih karena terasa lebih netral, modern, dan bisa mewadahi genre yang lebih longgar—bukan cuma nasyid klasik atau lagu-lagu qasidah, tapi juga lagu pop yang berisi pesan keislaman.
Ada juga unsur kehati-hatian di sebagian kalangan, kata “musik” atau bahkan “lagu” sendiri masih diperdebatkan statusnya, tapi aku tidak membahas itu.
Kata “Religi” jadi semacam label yang lebih aman dan lebih kontemporer.
Jadi ironi yang kita lihat sekarang bukan karena orang Indonesia salah pakai kata, tapi karena sejarah pemakaian kata itu sendiri yang tidak selalu sejalan dengan asal-usul katanya. Kata Arab dipakai oleh komunitas yang secara historis lebih dekat dengan Latin, sementara kata Latin dipakai oleh komunitas yang secara historis lebih dekat dengan Arab.
Ini contoh klasik bagaimana bahasa selalu lebih kuat dibentuk oleh siapa yang memakai, kapan dipakai, dan untuk membedakan diri dari siapa, daripada oleh asal-usul kamusnya.
Etimologi itu hanya memberi kita peta. Yang menentukan jalur akhirnya adalah praktik budaya dan relasi kuasa di lapangan.
wowwwww! warga kalimantan harus apalagi nih? setelah listrik yang terus padam, pertalite langka, kabut asap tiap pagi, dan air pdam yang udah kayak coca cola loh ini???? niceeee🙌 berita kayak gini masuk gak sih di media-media??
Intinya, kita udah ga bisa dilaporin sama pendukung atau simpatisan presiden lagi.
Harus orangnya sendiri yang mengadu.
Respect buat 12 kawan-kawan mahasiswa yg berani ngajuin permohonan ini, walaupun pasal 218 dan 219 akhirnya ga dibatalkan, setidaknya mereka udah berani mempertanyakan aturan yg berpotensi bikin orang takut buat bersuara.
Kritik ke presiden itu bagian dari demokrasi, kita ga harus setuju sama semua yg pemerintah lakukan, dan rakyat juga nggak seharusnya takut buat mengkritik kebijakan.
SEBANYAK 5 SEKOLAH DI KABUPATEN KARO SUMUT DIDUGA KERACUNAN MBG DARI SPPG MILIK KODIM.
Ratusan murid dari 5 sekolah di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG). MBG yang dikonsumsi murid di 5 sekolah itu berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur milik Kodim.
Keren parah👏
Sejumlah insinyur teknologi melakukan aksi protes secara langsung kepada CTO Amazon, Werner Vogels. Para pekerja juga menyuarakan kekhawatiran terkait penggunaan teknologi yang mereka kembangkan untuk mendukung aktivitas yang berkaitan dengan kekerasan terhadap rakyat Palestina.
IMPORTANT.
A CNN journalist witnessed Israeli settlers abduct and blindfold a Palestinian farmer for refusing to leave his land, as IDF soldiers stood guard.
He was later shot, while the IDF blocked the road to prevent anyone from coming to his aid, making sure he would die.