Rowena Ravenvale of Maison House KR: @Ensity_RP ✦ A matchmaker in curating destinies with elegance and a touch of faith who trades coincidences for soulmates.
@talecnted “Aduh!” Reflek. Ia mengusap dahi; meringis pelan. “Yang benar saja—Dominic, nanti kalau dahiku merah dan lama sembuhnya bagaimana? Ini sakit tahu,” komentarnya panjang lebar membesar-besarkan. Bukan sebal, lebih kepada ingin saja bersuara demikian.
Rowena selalu punya alasan untuk mengajak seseorang bicara. Termasuk untuk meminta pendapat—yang berkedok pastinya sebuah pertemuan. Maka dari itu kali ini biarlah Dominic yang jadi tujuan baginya untuk mencari >
< betapa akrabnya mereka berdua.
Ia baru tahu kalau di tempat ini ada bar juga. “Kalau begitu di sini saja.” Rowena menyetujui, membiarkan Dominic lebih dahulu memimpin langkah. “Aku sedang ingin /open table/. Di sana saja,” tunjuknya pada sudut ruangan—persisnya >
@Vessarien “Hm… karena aku suka /steak/ jadi aku akan merekomendasikan itu,” kata Rowena. “Kau bisa pilih yang /ribeye/. Itu yang paling sering kumakan dan aku bisa jamin rasanya enak. Dan, untuk minumannya—kau suka koktail? Aku ingin merekomendasikan >
@sou_ltaker < ID—do you feel like going to the hospital now? If you don’t want it, then… we can just stopped by into pharmacy and I’ll buy any emergency kit.”
@sou_ltaker Got no ID? Rowena wondered who you might be—but she didn’t intend to ask more, she just thought that explanation could come later and she needed to save you from terrible bleeding. “I’ll take care of your hospital, I have friends working in the field. Even if you got no >
@talecnted < mereka malah tidak pulang dan bermalam di bar karena mabuk berdua. “Kita ke tempat biasa?” Tentu saja ke bar langganan mereka. “Atau kau mau coba ke tempat lain?”
@northrane Kalau aku tidak sedang dilanda pekerjaan yang banyak—ku sudah pasti berdiam diri di kamar dan menyalakan AC 24 jam. Sayang sekali, Dakota… pekerjaan menungguku.
@tragovin “…? Kau yakin?” Agaknya tidak tega melihatmu begini, tapi—bagaimana pun kamu yang paling tahu kondisi tubuhmu. “Sudah minum obat? Kalau sudah, istirahatlah. Semoga kau lekas membaik. Kalau butuh sesuatu, beritahu aku, oke?”
< jika Dominic butuh dan ia bisa menyanggupi, kenapa tidak?
“Ya sudah, ayo! Ini sudah hampir menjelang malam. Sudah waktunya untuk kutraktir minum. Alkohol itu sudah menunggu kita,” sambungnya. Lantas berbalik dan berjalan lebih dahulu ke arah pintu keluar. < @talecnted >
< Rowena melewatkannya. “Kita pergi bersama. Kau luangkan waktu saja, nanti undangannya aku kirimkan. Oke?” Ia mengedip jahil. Nampaknya ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Dominic tapi ia tidak peduli—ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya berpikir >
@talecnted < “Kapan peragaan busana itu akan diadakan? Ayo, kita bisa pergi bersama.”
Ini baru permintaan dari sang pemenang. Masa hanya minta dibayari minum saja sudah cukup? Duh, Rowena bahkan bisa berikan lebih dari itu jika Dominic yang minta—yang sulit sekalipun ia akan usahakan.
@talecnted “Tentu saja aku suka!” Rowena mengiyakan dengan cepat. Betapa senangnya dia waktu kamu justru mengucapkan kata itu. Fesyen selalu jadi alasan bagi Rowena untuk terus berkarya. Karena fesyen yang ia sukai bisa ia kenakan di setiap hari waktu ia bekerja. >