Bgst ini yg ngedit 😂... Rupanya di tengah kesibukan World Cup.. Messi ditemani presiden FIFA menyempatkan berkunjung ke rumah Bapak Jokowi meminta dukungan buat Argentina
Kortisol tinggi itu secara perlahan bikin lo cepet tua lebih parah daripada tanning bed.
Lo sering ngerasa sendi ngilu, mata panda susah ilang, otot lemes?itu tanda kortisol lo lagi tinggi banget.
Tenang, ini 7 cara alami buat nurunin kortisol tinggi lo tanpa obat sama sekali:
Guys, ada fenomena yang lagi ramai di media sosial yang menurut Prof. Rhenald Kasali perlu dibahas dengan kepala dingin sebelum ribuan UMKM kecil membuat keputusan yang justru menghancurkan bisnis mereka sendiri.
Gerakan "exit dari marketplace bikin website sendiri."
Dan gue mau kasih tahu: ini lebih kompleks dari yang kelihatan. Dan pemerintah ada di tengah-tengah semua ini tanpa jawaban yang jelas.
Mulai dari masalahnya dulu:
Seller UMKM di Tokopedia, Shopee, Lazada sekarang merasa tercekik.
Biaya admin naik.
Biaya iklan naik.
Biaya afiliasi naik.
Sementara daya beli konsumen turun karena rupiah melemah dan harga-harga naik.
Hasilnya:
omset tinggi tapi profit minus.
Jualan banyak tapi uangnya habis untuk biaya platform.
Dan ini nyata.
Ini bukan lebay.
Ini masalah struktural yang sedang dialami jutaan UMKM di Indonesia.
Tapi ini yang perlu dipahami kenapa marketplace menaikkan biaya:
Era bakar uang sudah selesai.
Selama bertahun-tahun Gojek, Tokopedia, Shopee, semua bakar uang investor kasih diskon besar, ongkir gratis, cashback gila-gilaan bukan karena mereka dermawan tapi karena model bisnisnya:
besarkan dulu nilainya, jual ke investor berikutnya dengan harga 10 kali lipat.
Sekarang investor tidak lagi mau bakar uang.
Mereka minta profitabilitas.
Maka platform mulai normalisasi:
naikkan biaya, kurangi subsidi.
Ditambah seluruh infrastruktur teknologi mereka berbasis dolar.
Server, software, keamanan siber semua dalam dolar. Ketika rupiah di Rp17.845 biaya operasional platform naik otomatis tanpa mereka bisa kendalikan.
Jadi platform juga sedang tertekan.
Dari atas investor minta untung.
Dari bawah seller marah karena biaya naik.
Di tengah konsumen yang daya belinya turun.
Tidak ada posisi yang nyaman di sini.
Dan ini tentang gerakan "bikin website sendiri" yang perlu dicermati:
Brand besar yang sudah punya nama, tim digital, dan basis pelanggan setia oke, ini masuk akal untuk mereka.
Tapi untuk UMKM kecil yang baru mulai ini bisa jadi keputusan paling mahal yang pernah mereka buat.
Bikin website: butuh developer, hosting, payment gateway, keamanan siber minimal beberapa juta rupiah awal.
Tapi yang paling mahal:
iklan untuk mendatangkan traffic.
Untuk mendapatkan traffic yang setara dengan satu hari di marketplace kamu perlu mengeluarkan jutaan rupiah per bulan di Google dan Meta.
Tanpa jaminan berhasil.
Dan rating bintang 4,9 dari 2.000 pembeli yang kamu bangun selama bertahun-tahun di marketplace tidak bisa dipindahkan ke website baru. Itu aset sosial yang hilang begitu saja.
Di marketplace ada puluhan juta orang yang datang setiap hari dengan niat membeli.
Di website milik sendiri kamu harus menarik mereka satu per satu dengan biaya iklan yang tidak murah.
Dan ini yang paling berbahaya yang tidak pernah disebutkan dalam kampanye "exit marketplace":
Kalau UMKM kecil berbondong-bondong keluar dari marketplace yang pertama jatuh adalah yang paling kecil.
Yang masih belajar.
Yang tidak punya modal cadangan.
Yang tidak punya nama.
Pintu masuk bagi pemula akan tertutup.
Sekarang dengan modal minimal dan handphone siapapun bisa mulai jualan.
Itu akan hilang.
Penipuan akan meledak karena sistem review, rating, proteksi pembeli, dan retur yang ada di marketplace — dibangun selama bertahun-tahun dan tidak bisa direplikasi di website kecil dengan mudah.
Ongkir akan naik untuk semua orang karena marketplace mengelola jutaan paket per hari yang membuat ongkir bisa Rp9.000.
Kalau volume tersebar ke ribuan website kecil efisiensi itu hilang.
Dan ini pertanyaan yang paling fundamental yang tidak dijawab oleh siapapun termasuk pemerintah:
Pemerintah menekan marketplace agar tidak mencekik UMKM. Itu bagus.
Tapi apakah pemerintah punya alternatif kalau marketplace itu akhirnya memilih keluar dari Indonesia?
Karena itu sudah terjadi di beberapa negara.
Platform pergi.
Yang tersisa: bukan kemerdekaan UMKM.
Yang tersisa adalah kekosongan dan pengangguran.
Dan ini yang Prof. Rhenald tanyakan dengan sangat tepat:
negara ini harus berpihak kepada siapa?
Kepada seller?
Kepada marketplace?
Kepada konsumen?
Jawabannya tidak sesederhana memilih satu pihak. Karena ini adalah ekosistem.
Seller menghidupkannya.
Konsumen mempercayainya.
Platform membangunnya.
Kalau satu pihak kolaps semua ikut kolaps.
Dan ini yang paling relevan dengan konteks kebijakan Prabowo sekarang:
Kita sudah lihat pola yang sama berulang: ojol dipotong komisinya mendadak 8% investor panik, 7 juta driver terancam kebijakan bingung antara jalan atau ditunda.
Alfamart ditutup 150 gerai 150 karyawan kehilangan pekerjaan. Ekspor satu pintu diumumkan tiba-tiba IHSG anjlok 3%, pembeli batu bara internasional lari ke Australia.
Dan sekarang tekanan pada marketplace untuk tidak menaikkan biaya tanpa ada infrastruktur alternatif yang disiapkan pemerintah untuk UMKM digital.
Prof. Rhenald menyebut ini dengan tepat: pemerintah absen membangun infrastruktur UMKM digital selama bertahun-tahun.
Semua diserahkan ke swasta asing yang membangun dengan uang investor.
Sekarang ketika swasta butuh bernafas secara finansial pemerintah tidak bisa hanya menekan tanpa menyiapkan alternatif.
Marketplace memang perlu dikritik tapi caranya, bukan keberadaannya.
Kenaikan biaya yang mendadak tanpa komunikasi yang baik adalah masalah nyata yang harus diselesaikan.
Tapi solusinya bukan panik keluar dari marketplace tanpa persiapan.
Dan solusinya bukan pemerintah menekan platform sampai mereka memilih keluar dari Indonesia.
Solusinya adalah: platform lebih transparan dan bertahap dalam menaikkan biaya.
Pemerintah akhirnya serius membangun infrastruktur digital untuk UMKM bukan sekadar program yang diumumkan tapi tidak punya detail implementasi.
Dan UMKM mulai berpikir strategi dua channel: marketplace untuk menjangkau pembeli baru, website atau WhatsApp untuk mempertahankan pelanggan lama.
Karena kalau ekosistem ini bubar yang pertama merasakan akibatnya bukan platform yang bisa pindah ke negara lain.
Yang pertama merasakan adalah jutaan UMKM kecil yang modalnya pas-pasan dan tidak punya rencana cadangan.
Guys, semua orang lagi puja-puji BYD.
Mobil paling laris di dunia.
Mengalahkan Tesla.
Masuk ke Indonesia dengan harga yang bikin Toyota dan Honda keringat dingin.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan jujur:
BYD menang karena lebih inovatif atau karena negara adidaya yang membiayai semuanya dari belakang?
Dan kalau jawabannya yang kedua implikasinya jauh lebih besar dari sekadar urusan beli mobil murah.
Mulai dari bukti yang paling konkret:
Antara 2018 sampai 2022 BYD menerima subsidi langsung sekitar 3,7 miliar dolar dari pemerintah China. Itu menurut riset dari Kiel Institute.
Tapi yang lebih mengejutkan:
di tahun 2019 jumlah subsidi yang diterima BYD
lebih besar dari total keuntungan operasional mereka. Artinya tanpa suntikan uang negara
BYD di tahun itu rugi total.
Mereka tidak menghasilkan uang sendiri.
Mereka bukan perusahaan yang profitable.
Mereka adalah entitas yang dihidupkan secara paksa oleh uang negara China.
Dan ini analoginya yang paling mudah dipahami:
Bayangkan kamu buka warung nasi padang.
Modal sendiri.
Sewa tempat sendiri.
Belanja bahan sendiri.
Bayar pajak sendiri.
Tiba-tiba muncul warung baru di seberang jalan. Tempatnya lebih bagus.
Porsinya dua kali lebih banyak.
Harganya 30% lebih murah.
Kamu pikir: wah, supply chain-nya pasti sangat efisien.
Tapi ternyata:
pemerintah kota menutup 60% biaya bahan baku mereka setiap hari.
Tanahnya dikasih gratis oleh negara.
Dan setiap pelanggan yang makan di sana dapat cashback langsung dari kas daerah.
Itu bukan kompetisi bisnis.
Itu pembantaian industri yang dibungkus rapi dalam istilah persaingan pasar bebas.
Dan persis itulah yang terjadi di skala global dengan BYD.
Dan ini kenapa China mau membakar uang puluhan triliun untuk satu perusahaan mobil:
Pertama — leverage geopolitik.
Kalau setengah armada bus di Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara pakai baterai BYD bayangkan apa yang terjadi kalau suatu hari China memutus supply chain suku cadang mereka.
Infrastruktur transportasi negara lain mati total. Ketergantungan strategis tercipta tanpa perlu satu peluru pun ditembakkan.
Kedua — reverse tech transfer.
Dulu China dipandang sebelah mata dan dipaksa membeli teknologi dari Amerika dan Eropa.
Sekarang dibalik: pabrikan Jerman, Jepang, dan Amerika yang antre untuk mengakses teknologi baterai murah dari China.
Ketiga — stabilitas sosial.
BYD dan seluruh ekosistem suppliernya mempekerjakan ratusan ribu orang di China.
Di negara otokratis manapun menyerap tenaga kerja massal dan membuat perut rakyat kenyang adalah alat politik paling ampuh untuk mencegah revolusi domestik.
Dan ini yang membuat BYD benar-benar tidak bisa dilawan bahkan oleh Toyota atau Ford:
Bukan teknologinya yang paling canggih.
Tapi vertical integration yang paling brutal dalam sejarah industri otomotif.
Tesla jago desain aerodinamis, bikin software, jualan mobil.
Tapi BYD jago menambang bahan bakunya, mencetak mesinnya, membangun jalan tolnya, membuat mobilnya, sampai menjual tiket tolnya.
Dari menambang litium di Tibet sampai pabrik sel baterai, chip semikonduktor, armada kapal kargo laut semua milik mereka sendiri.
Bukti paling nyata: krisis chip global 2021-2022.
Ford, GM, Toyota terpaksa parkir ratusan ribu mobil setengah jadi di lapangan terbuka karena menunggu chip dari Taiwan.
Rugi miliaran dolar.
BYD?
Tinggal telepon anak perusahaannya sendiri:
BYD Semiconductor.
Produksi tidak terganggu satu hari pun.
Tapi ini bagian yang tidak diceritakan oleh narasi BYD yang keren:
Awal 2025 lembaga riset independen GMT Research di Hong Kong merilis dokumen mengejutkan.
Hutang real BYD bukan 27 miliar yuan seperti yang tercatat rapi di laporan keuangan resmi mereka.
Angka real-nya diestimasi mendekati 323 miliar yuan hampir 12 kali lipat lebih tinggi dari yang dilaporkan ke publik.
Kemana ratusan triliun itu disembunyikan?
Dalam celah akuntansi yang disebut supply chain financing.
Standar industri otomotif global:
bayar vendor dalam 50-60 hari setelah barang dikirim.
BYD?
Memaksa vendor dibayar rata-rata dalam 275 hari hampir 9 bulan.
Artinya ribuan vendor kecil dan menengah dipaksa membiayai ekspansi gila-gilaan BYD dari kantong mereka sendiri tanpa bunga sepeserpun.
BYD pada dasarnya numpang hidup dari cash flow pihak ketiga.
Dan pola ini menurut analis Wall Street identik dengan yang dilakukan Evergrande sebelum kolaps dan memicu krisis ekonomi yang menggetarkan Asia.
Dan ini yang paling relevan untuk Indonesia:
BYD sudah ada di jalan tol kita.
Di lobi mall kita.
Pabriknya dibangun di Subang dengan narasi:
investasi triliunan, lapangan kerja puluhan ribu untuk warga lokal.
Tapi ingat kasus Brazil BYD masuk daftar hitam Kementerian Tenaga Kerja Brazil karena kondisi yang secara resmi digambarkan sebagai analog perbudakan.
163 pekerja didatangkan langsung dari China.
Paspor disita manajemen.
Kerja 14 jam sehari tanpa hari libur.
Dan Indonesia punya lebih dari 1.500 perusahaan komponen otomotif lokal di Cikarang sampai Karawang yang urat nadinya hidup dari mensuplai Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki.
Kalau pabrikan Jepang mulai tutup pabrik karena margin hancur vendor-vendor lokal itu bisa kolaps berantai.
Bisakah mereka beralih suplai komponen ke BYD? Hampir tidak.
Karena BYD memegang vertical integration yang sangat tertutup. Komponen utamanya dari ekosistem China sendiri.
Dan ini tiga skenario yang paling penting:
Skenario pertama:
kamu sebagai konsumen senang dapat mobil murah. Pabrikan Jepang panik kasih diskon puluhan juta.
Tapi kalau 3-5 tahun ke depan Toyota dan Honda memutuskan margin di Indonesia tidak sustainable lalu angkat kaki kamu 100% bergantung pada ekosistem service kendaraan China.
Kalau harga spare part tiba-tiba naik 300% tidak ada pilihan lain.
Skenario kedua: industri komponen lokal mati berantai tanpa bisa beralih ke ekosistem BYD yang tertutup.
Skenario ketiga: lapangan kerja yang dijanjikan dari pabrik BYD kalau polanya sama dengan Brazil bukan untuk rakyat Indonesia tapi untuk pekerja yang diimpor langsung dari China.
BYD bukan perusahaan biasa yang menang karena inovasinya paling hebat.
BYD adalah senjata ekonomi geopolitik China yang dibiayai uang negara dirancang untuk mendominasi industri otomotif global dengan cara yang tidak bisa ditandingi oleh kompetitor swasta manapun yang harus bermain dengan uang sendiri dan aturan pasar yang normal.
Apakah BYD akan bangkrut bulan depan? Tidak.
Mereka punya cadangan kas besar dan pelindung mutlak bernama negara adidaya.
Tapi sinyal alarm finansialnya nyata.
Hutang tersembunyi 12 kali lipat dari yang dilaporkan.
Pola identik dengan Evergrande.
Manipulasi angka penjualan yang bocor dari dalam.
Penarikan paksa ratusan ribu unit dalam dua tahun terakhir.
Dan kalau bubble ini meledak dampaknya tidak akan berhenti di Beijing.
Ia akan menjalar ke seluruh ekosistem otomotif global.
Termasuk ke konsumen Indonesia yang sudah terlanjur bergantung pada ekosistem yang supply chain-nya sepenuhnya ada di luar kendali kita.
Tadi pas break makan siang, gue baca artikel Laurie Whitwell di The Athletic yang judulnya:
"The inside story of how Michael Carrick saved Manchester United’s season – and made the job his own".
Article-nya lumayan panjang, tapi worth it untuk dibaca diwaktu santai. Ada satu part cerita yang menarik dan gue ngerasa harus share ini ke kalian.
Jadi waktu Carrick pertama datang di Januari, hal pertama yang dia lakuin ternyata bukan langsung pasang formasi atau teriak-teriak di sesi latihan buat langsung ngubah culture tim. Dia duduk satu-satu sama tiap pemain, dan nanya satu hal yang sangat sederhana: “menurut lo, posisi terbaik lo apa dan kenapa lo suka main di posisi tsb?”
Guys, bayangin. Skuad kita baru keluar dari era Amorim yang kata banyak pemain terasa dingin dan jauh. Trus tiba-tiba ada orang yang beneran mau duduk, dengerin, dan nganggep pendapat mereka penting. Itu bukan hal kecil buat pemain, terlebih buat mereka yang udah lama ngerasa nggak dihargai.
Dan kita semua udah liat hasilnya. Bruno dikembalikan ke nomor 10 dan sekarang mengakhiri musim sebagai Premier League Player of the Season. Mainoo yang saking terpinggirkannya, udah sempet 2x request buat dipinjemin saking suramnya masa depannya dibawah Amorim, dan sekarang baru teken kontrak sampai 2031 di Old Trafford. Skuad yang musim ini sempat keliatan hancur, pelan-pelan nyatu lagi.
Tapi yang paling bikin gue happy sebagai fans baca artikel ini adalah, bahwa setelah laga kandang terakhir musim ini, seluruh skuad ternyata pergi makan malam bersama di restoran Fenix di Manchester. Dan di makan malam tersebut suasanya digambarkan hangat bgt, nggak ada yang cabut duluan. Beberapa bahkan masih di sana sampai tengah malam.
Kapan terakhir kali kita denger cerita sesantai dan sesolid itu dari internal klub kita?
Carrick emang bukan nama paling glamor yang sempat dikaitkan ke United musim ini. Tapi rasanya dia justru yang paling ngerti apa yang skuad ini butuhkan.
#utdfocusid | @TheAthleticFC
Before this conversation, I thought I understood Bruno Fernandes.
I knew the numbers. The goals, the assists, the leadership, the criticism he’s faced over the years at Manchester United.
But I didn’t understand the mentality behind it.
Bruno has arguably become United’s greatest player of the post-Ferguson era, carrying their creativity season after season.
He’s won more club player of the year awards than Ronaldo, and only five players have scored more than his 70 league goals.
So I went to Manchester United Training Ground to ask him questions the footballing world wants to know.
Bruno spoke about growing up in Porto, watching his father sacrifice his own football career to provide for the family. He told me his dad never praised him for scoring goals. Instead, he’d point out the small things he still needed to improve.
And somehow that mindset shaped one of the most resilient athletes in world football.
We spoke about:
- Why he believes character matters more than talent in elite teams.
- How dressing room culture determines whether talent succeeds or fails.
- Why taking risks is essential if you want to create anything extraordinary!
- His honest opinion on pressure and why he thinks it’s a privilege.
- His thoughts on having Michael Carrick as a manager.
- Addressing Roy Keane’s criticism.
When you listen to Bruno speak, you understand that what makes him exceptional isn’t just technical ability. It’s his standards.
The standards he holds himself to.
The standards he expects from teammates.
The standards he believes define culture.
I really respect how Bruno chose to join United during instability because he believed in rebuilding something meaningful rather than joining an “easy” project.
I saw a much softer and more thoughtful side of Bruno that I don’t think people will expect. So, thank you Bruno for taking the time to sit down with me and for being so vulnerable.
Even if you don’t care about football, there’s a huge amount to learn from this conversation about leadership, resilience and high performance.
INCREÍBLE 😅
Armaron un compilado de 7 MINUTOS con errores arbitrales que favorecieron al Arsenal durante la Premier League 2025/26 😳 https://t.co/9opI7l4eS3
Damn! Elliot Anderson is really that good. If we’re going to prepare the live after Bruno, Anderson is definitely the man. Too bad we can’t match the asking price from Forest.
Imagine you are a Muslim and a child asks you: Why do we pray Dhuhr and Asr silently while we recite aloud in Maghrib and Isha
(And you don't know the answer)