"ernyata ada sistem tidur 5 jam doang, tapi segernya kayak 8 jam...
pas tes 14 hari.
Gila sih. Bangun jam 5 pagi, otak waras. Dulu gue tidur jam 10 bangun jam 6.
Masih aja ngantuk, muka kusut, emosi ancur
Ternyata salah gue doang
أنا سيئٌ في التعبير عن حبي، لكنني لا أمزح أبداً عندما أحب شخصاً ما.
“Aku buruk dalam mengungkapkan rasa cintaku, tetapi aku tidak pernah bercanda ketika mencintai seseorang.”
ثلاثة لا يخفيها أجمل ثوب: فقر الأدب، وغرور النفس، وجهل العقل
"Ada tiga hal yang tidak dapat disembunyikan bahkan oleh pakaian yang paling indah sekalipun: kurangnya tata krama, kesombongan diri, dan kedangkalan pikiran."
إذا كنتَ تبحث عن الجمال، فطهِّر نظرك أولًا،
فالعين لا تُبصر حقًّا
إلا بصفاء القلب.
— شمس التبريزي
Jika Engkau Mencari Keindahan, Bersihkanlah Pandanganmu Terlebih Dahulu,
Karena Mata Tidak Benar-benar Melihat
Kecuali Dengan Kejernihan Hati.
— Shams Tabrizi
﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ﴾.
Golongan orang orang yang tidak dilalaikan oleh jual beli mereka dari mengingat alloh.
Bisyr bin Al-Harits ra :
Setiap manusia akan mendapatkan ujian, adakalanya Allah swt mengujinya dengan kenikmatan, agar tahu seberapa syukurnya, dan adakalanya Allah swt mengujinya dengan bala' / musibah, agar tahu seberapa sabarnya.,
Diantara kebiasaan orang2 salaf sholeh ialah ketika memulai membaca atau menghatamkan kitab mereka mengadiahkan bacaan Al Fatihah untuk mualifnya (pengarangnya). Dan mereka tidak membaca Fiqih kecuali dibarengi dengan Tasawuf.
Kalau istri melarang suami memancing atau menjalankan hobinya, apakah suami harus selalu menuruti?
Jawabannya tidak sesederhana "iya" atau "tidak". Islam memiliki prinsip mu'asyarah bil ma'ruf yang mengajarkan keseimbangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Yuk, kita bahas.
Perumpamaan orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu / mencari ilmu selama 40 sampai 50 tahun, tetapi tidak di amalkan adalah seperti orang yang berwudhu' berulang-ulang sepanjang waktu tersebut, tetapi tidak melaksanakan sholat satu rakaat pun, sebagaimana....
Percayalah, jalur langit tak pernah pulang dengan tangan kosong.
Tidak ada doa yang sia-sia.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
-Allah akan menjawabnya dengan tiga cara: dikabulkan, diganti, atau ditunda untuk sesuatu yang lebih baik.
Salam Jumaat Al Mubarak
BAB KE 114
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
وُرُودُ الْإِمْدَادِ بِحَسَبِ الْاِسْتِعْدَادِ ، وَشُرُوقُ الْأَنْوَارِ عَلَى حَسَبِ صَفَاءِ الْأَسْرَارِ
Datangnya bantuan Allah sesuai dengan tingkat kesiapan, dan terbitnya cahaya sesuai dengan kadar kejernihan jiwa..
DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH kepada hamba-Nya bergantung pada kesiapan seorang hamba membersihkan hatinya dan seberapa sering ia melakukan wirid. Oleh sebab itu, dikatakan, "Bersihkan hatimu dari dunia maka Kami akan mengisinya dengan makrifat dan rahasia."
Setiap warid akan selalu mengikuti wirid, sesuai kondisinya. Jika wiridnya sempurna, misalnya bersumber dari hati yang bersih, warid-nya pun akan sempurna. Jika wirid kurang, warid pun akan kurang. Jika wiridnya banyak, warid-nya akan banyak. Setiap warid akan bergantung pada wiridnya. Jika wiridnya dilakukan terus-menerus, warid pun akan mengalir terus-menerus.
Oleh sebab itu, amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling sering dilakukan walaupun sedikit. Jika amal itu sering dilakukan, bantuan Allah pun akan sering diberikan.
Kalimat "terbitnya cahaya sesuai dengan kadar kejernihan jiwa" merupakan penegas dan penjelas ungkapan sebelumnya. Maknanya, terbitnya cahaya keyakinan dan makrifat bergantung pada kejernihan batin dari kekotoran yang diakibatkan sikap bergantung pada dunia. Kejernihan batin itu sendiri tidak akan terjadi, kecuali dengan seringnya melakukan wirid.
مجالس الخير تجعلك الخير
ولو انت من الا شرار،
ومجالس الشر تجعلك الشر
ولو انت من الاخيار
Perkumpulan yang baik akan menjadikan engkau baik, meski engkau orang yang jahat
Dan perkumpulan yang jahat akan menjadikan engkau jahat pula, meski engkau orang baik.
كلُّ ما لا تستطيعُ قولَه…دَعْهُ للسُّكوت؛
فالسُّكوتُ أيضًا لُغة
Segala sesuatu yang tak bisa kau katakan, biarkanlah tetap dalam keheningan; Karena keheningan pun adalah sebuah bahasa.”
— Maulana Jalaludin Rumi
وما الحب من حسن ولا من ملاحة - و لكنه شيء به الروح تكلف
Cinta itu bukan tentang ketampanan dan kecantikan seseorang tetapi cinta itu tentang sesuatu yang bisa membuat jiwa tertarik.
Imam Al-Ghazali ra :
Orang yang memperjuangkan agama dengan cara yang salah bisa lebih berbahaya ketimbang orang yang memusuhi agama dengan cara terang-terangan.,
PERNIKAHAN MENGALAMI 6 FASE, tapi sebagian berhenti di fase ke-3.
1. Fase Romantis (Awal Menikah)
Semuanya terasa sempurna. Setiap hal kecil terasa manis. Tapi fase ini bukan selamanya ini adalah masa adaptasi penuh cinta.
2. Fase Realita Mulai sadar
pasangan punya kekurangan. Kebiasaan yang dulu lucu, sekarang bikin jengkel. Inilah masa transisi dari “jatuh cinta” ke “belajar mencinta.”
3. Fase Konflik dan Ujian
Mulai ada benturan ego, lelah, salah paham, bahkan keinginan untuk menyerah. Tapi justru di sinilah cinta diuji: apakah tetap bertahan, atau hanya ingin menang.
4. Fase Penyesuaian dan Pemahaman
Mulai belajar komunikasi dengan hati, bukan emosi. Mulai memahami bahwa pernikahan bukan tentang bahagia terus, tapi tentang bersama dalam segala musim.
5. Fase Kedewasaan
Cinta Suami istri mulai saling menerima tanpa banyak tuntutan. Tidak lagi sibuk mencari siapa yang benar, tapi fokus memperbaiki diri masing-masing. Cinta jadi tenang, sederhana, tapi dalam.
6. Fase Kebersamaan Spiritual
Fase di mana pasangan mulai menyatu bukan hanya secara fisik dan emosi, tapi juga dalam arah hidup dan ibadah. Mereka tak lagi saling mengandalkan, tapi sama-sama menggantungkan diri pada Allah.
Jika sekarang kamu sedang di fase berat, jangan buru-buru menilai pernikahanmu gagal. Mungkin Allah sedang memindahkan cintamu dari sekadar rasa, menjadi ibadah yang berharga.
Rezeki itu luas, seluas prasangka baikmu.
Hidup itu indah, seindah prasangka baikmu.
Masa depan itu cerah, secerah prasangka baikmu.
Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.
Maka, teruslah berprasangka baik kepada Allah.
_ (HR. Bukhari dan Muslim)