WEMBY WAS UNBELIEVABLE IN HIS WESTERN CONFERENCE FINALS DEBUT 🤯
41 PTS (20 combined in 4Q, OT, and 2OT)
24 REB (new postseason career-high)
He becomes the youngest player in NBA history with 40+ PTS and 20+ REB in a postseason game, previously done by Kareem Abdul-Jabbar (1970)!
Seorang personel kepolisian di Deli Serdang berinisial FE mencuri sepeda motor milik sesama anggota polisi, Alfreezy Angga Sembiring (22). Pencurian terjadi saat korban memarkirkan sepeda motor trail Honda CRF di Barak Lajang Polresta Deli Serdang, Rabu (31/12), sebelum pergi ke masjid.
Kasi Humas Polresta Deli Serdang Iptu JM Gabe Napitupulu mengatakan, korban sempat melihat pelaku melintas di sekitar masjid dengan mengendarai sepeda motor miliknya. Korban kemudian menunggu FE kembali ke Polresta, namun hingga Jumat (2/1) pelaku tidak juga kembali sehingga korban melapor ke SPKT Polresta Deli Serdang.
“Korban melihat pelaku FE melintasi masjid dengan mengendarai sepeda motor miliknya yang sebelumnya terparkir di Barak Lajang Polresta Deli Serdang,” kata Gabe, Jumat (9/1).
Pelaku FE akhirnya ditangkap Satreskrim Polresta Deli Serdang pada Senin (5/1). Dari hasil pemeriksaan, FE mengakui perbuatannya dan mengaku telah menjual sepeda motor tersebut kepada seorang pria berinisial T di Kecamatan Medan Tembung seharga Rp 9.500.000. Motif pencurian disebut karena faktor ekonomi dan keinginan menguasai sepeda motor korban.
Kapolresta Deli Serdang Kombes Pol Hendra Lesmana menegaskan, FE merupakan personel Polri yang bertugas di Polresta Deli Serdang dan akan diproses tegas. FE terancam sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) serta dijerat Pasal 477 ayat (1) ke-f subsider Pasal 476 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
📸: Dok. Humas Polresta Deli Serdang.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
#newsupdate #update #news #oneliner #deliserdang #polisi #kriminal #oknum #pencuri #oknumpolisi #info #infoterkini #berita #beritaterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan
Terima kasih atas tulisannya Bapak 🙏🙏🙏Semoga semangat itu akan terus ada saat ini. Gotong royong bekerja membantu saudara saudara kita. Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada saudara2 kita yg terkena bencana. Juga membukakan hati kita semua untuk membantu mereka bangkit kembali.🙏🙏🙏🙏
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
🚨 BREAKING : FIFA telah merilis laporan investigasi Komite Disiplin FIFA terhadap dokumen kelahiran pemain yang diduga dipalsukan oleh FAM untuk keperluan pendaftaran pemain naturalisasi.
FIFA melalui sekretariat komitenya melakukan investigasi sesuai Pasal 30(1) dan 35(5) FDC. Mereka berhasil memperoleh salinan akta kelahiran asli nenek/kakek dari 7 pemain yang menjadi subjek penyelidikan.
FIFA kemudian membandingkan data asli tersebut dengan dokumen yang diserahkan oleh FAM ke FIFA saat proses pendaftaran.
Hasilnya menunjukkan bahwa tempat lahir pada dokumen-dokumen tersebut telah “diubah” (doctored) agar terlihat seolah-olah nenek/kakek pemain lahir di Malaysia.