Yups karena aku suka lupa, menulis jadi salah satu rutinitas yang enggak pernah aku lewatkan sihhh.
Aku juga suka bgt analisis atau bikin brainstorming wkwk. Abistu aku ceritain ke temen yang mau denger.
🫰🏻😁
Saintis di Finland menjalankan satu eksperimen yang mana mereka menukar halaman tadika yang asalnya berbatu kerikil kepada tanah hutan sebenar, lengkap dengan rumput dan blok tanah gambut.
Selepas hanya sebulan kanak-kanak bermain di situ, ujian darah menunjukkan perubahan yang luar biasa.
Kepelbagaian bakteria pada kulit mereka meningkat, dan sel imun yang berfungsi untuk menenangkan badan daripada reaksi alahan (macam debunga atau kacang) bertambah dengan ketara.
Sebaliknya, kanak-kanak yang kekal di kawasan kerikil tidak menunjukkan sebarang perubahan positif ini.
Pakar berhipotesis bahawa punca utama kepada lonjakan penyakit asma dan alahan makanan dalam kalangan kanak-kanak sejak beberapa dekad kebelakangan ini adalah kerana kanak-kanak "terlalu bersih."
Lihat saja taman permainan sekarang yg dahulunya berlantaikan rumput dan pasir, bertukar menjadi getah dan plastik.
Statistik di Amerika Syarikat sangat membimbangkan. Misalnya, alahan kacang dalam kalangan kanak-kanak setahun melonjak tiga kali ganda antara tahun 2001 hingga 2017.
Sistem imun kanak-kanak hari ini membesar dalam persekitaran yang kekurangan pendedahan kepada bakteria semula jadi yang sepatutnya melatih badan mereka untuk jadi lebih kuat.
Tambah pula gaya hidup moden yang mengehadkan masa bermain di luar — 37% kanak-kanak prasekolah di Amerika hanya luang masa kurang sejam sehari di luar rumah — telah melumpuhkan kemampuan semula jadi badan untuk beradaptasi.
Bak kata Aki Sinkkonen (ketua penyelidik yg jalan kajian, "Paling bagus kalau kanak-kanak boleh bermain dalam lopak air dan semua orang boleh menggali tanah organik."
Sekarang, kerajaan Finland dah ambil langkah drastik dengan membiayai transformasi halaman tadika di seluruh negara untuk mengembalikan tanah dan alam semulajadi ke dalam kehidupan harian kanak-kanak.
@zakiberkata Rabu Kamis biarkan teduh aja om, biar tenang prosesi kurbannya.. bandung raya hujan terus beberapa hari ini, dayeuhkolot masih banjir belum surut jg
Menarik ketika akun media melakukan catatan reflektifnya.
Yang menjadi sorotan utama dalam artikel BNFI ini bukan sekedar akun parodi indonesia (termasuk kritik kedalam BNFI nya sendiri, karenanya saya menyebut ini catatan reflektif), melainkan krisis kepercayaan dalam ekosistem informasi.
Akun parodi berada dalam posisi gejala yang muncul dari krisis tersebut. Sebagai perubahan struktur ekosistem informasi dari kondisi lama yang terpusat dan relatif stabil menuju kondisi baru yang tersebar, cair dan didorong oleh ketidakpercayaan kolektif.
Pada umur berapa kalian mulai menyadari bahwa rasa putus asa setelah berbuat dosa justru bisa menjadi bentuk kesombongan yang paling halus?
Banyak orang mengira bahwa kehilangan harapan akan rahmat Tuhan saat terjatuh dalam maksiat adalah tanda penyesalan yang tulus.
Ibnu Atha'illah melihat sebaliknya.
Beliau membongkar “kepalsuan batin” ini lewat bait pertama kitabnya:
مِنْ عَلَامَاتِ الاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ - نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ.
"Di antara tanda bersandar pada amal adalah berkurangnya rasa harap kepada Allah ketika terjadi kekhilafan."
Saat kalian dirundung duka yang mendalam setelah melakukan maksiat, ego kalian sebenarnya sedang memprotes runtuhnya citra diri sebagai orang suci. Kalian kecewa karena identitas ideal sebagai hamba yang taat, tiba-tiba hancur.
Inilah wujud keangkuhan tersembunyi.
Kalian merasa “terlalu bersih” untuk melakukan kesalahan, seolah kesalehan masa lalu terjadi berkat kendali penuh daya pribadi kalian. Rasa frustrasi ini membuktikan bahwa kalian mengandalkan kesucian diri sendiri dan mengabaikan rahmat-Nya.
Ibnu Abbad ar-Rundi menjabarkan bahwa kaum arif yang mengenal Allah selalu memandang takdir di atas hamparan kedekatan spiritual.
Ketika mereka taat, mereka tidak melihat kekuatan diri di sana. Ketika mereka tergelincir, mereka menyaksikan pengaturan Tuhan yang berlaku atas diri mereka, tanpa membuat rasa takut atau harap mereka berubah sedikit pun.
Sebaliknya, orang-orang yang lalai terjebak bersama nafsu mereka.
Mereka menghitung amal sebagai modal transaksi dagang, sehingga saat kesalahan terjadi, benteng harapan mereka runtuh karena sandarannya goyah.
(Sumber: Ibnu Abbad ar-Rundi, Al-Hikam al-Atha'iyyah wa Syarhuha, hlm. 90).
Mumpung market lg gak enak, saya mau ngajak belajar bareng buat nambah2 pengetahuan dan skill tipis2
yang mau ikut bisa tulis komen atau QRT/RT post ini
Pemateri
@keharyapatihan@MikaelDewabrata@riantisilvi@karimakayyim
Masih mau ngajakin yg lain (TBC)
@bepituLaz pemateri founder stage in Code with Claude at London
@Rudiyanto_zh@cettabox@donnyjustinvest
Buat yg berminat ngisi kelas ini bisa DM saya ya buat diatur jadwalnya
Ada 2 tulisan saling terkait hari ini di @jakpost dan @hariankompas.
Jadi aku mau tanya, apa yang membuatmu masih percaya ahli, berita, atau institusi (ini govt dan non-govt ya)?
Atau faktor apa yang membuatmu mempercayai sebuah sumber (apapun itu)?
Pernah dengar Jong Jawa? Itu kapal-kapal gede buatan galangan kapal di Jawa yang ukurannya berkali-kali lipat lebih besar dari kapal armada Portugis (Flor do Mar).
https://t.co/jLhNRjMwDf
Kita memproduksi dan mengekspor kapal-kapal raksasa ini.
Gak cuma itu pas era Majapahit, kita udah memproduksi senjata api dan Cetbang (meriam Nusantara) dengan teknik metalurgi yang canggih.
Jadi, dulu kita itu jualan alutsista dan kendaraan berat, bukan cuma metik hasil bumi aja.
SEMUA BERUBAH KETIKA VOC DATANG
Penjajah secara sistematis menghancurkan industri lokal (seperti galangan kapal, pandai besi, dan tekstil Nusantara) melalui monopoli dan pembatasan dagang.
Tujuannya yah buat mematikan daya saing lokal agar Nusantara murni menjadi kebun ekstraktif yang menyuplai bahan mentah untuk revolusi industri di Eropa.
Mentalitas pengepul inilah yang menjadi warisan kolonial yang ditanamkan secara paksa, dan gak pure DNA asli kita.
Ternyata bangsa kita gaes udah jadi pengepul dan pedagangan komoditas dari dulu
Bisa dilihat dari postingan ini.
Dulu jualannya:
-Rempah-rempah
- emas
- logam
-perkayuan
- batu2 berharga
Sekarang jualannya:
- Sawit
- Batubara
- Nikel
- Kopi dkknya
Kita masih ga berubah selama 1000 tahun. Bangsa lain sudah jualan barang jadi, kita masih jualan barang mentah. Eksploitatif dan ngerusak lingkungan lagi.
Source gambar: https://t.co/FhcxqQKor4
Misool (Raja Ampat), pusat perbelanjaan
Mereka memiliki kapal2 besar, seperti kapal2 Jawa yng gunakan untuk berlayar:
Buton: kapas
Timor: kayu cendana
Bima: emas, amber, lilin
Bali: emas, selimut
Madura: besi
Jawa: menjual kayu masoyi untuk ditukar dengan keris
✍️M. Brito 1583
@rdmakbar honor sdm itu basic, infrastruktur jg basic. pengadaan teknologi itu jg basic kalo kita bicara teknologi sederhana.
pengadaan teknologi yg lebih canggih secara logika mengikuti, jika kebutuhan dasar sudah terpenuhi layak.
ekosistem yg sudah terbangun kuat tentu bisa scaleup.
@rdmakbar 2. kalo pakai pendekatan spasial, tiap daerah punya masalah berbeda. gunakan pendekatan yg berbeda pula. tentukan permasalahn, tentukan prioritas. bisa gunakan jg tipologi. tentukan dr kebutuhan yg paling basic needs sampai kebutuhan yg paling strategis.
@Ari_Berboedi@kak_farras Bertahap, gak langsung ke scaleup. Dr skala paling mikro aja yg dominan dan basic, kita masih banyak PRnya. Tahapan harus dilalui, tapi tidak pernah benar2 dikerjakan. Dari kurikulum di kampus, dari fasilitasi akses basic yg harusnya diberikan pemerintah, sampai mental orang2nya
@lycorisuru @kak_farras Semua poin itu bisa diusahakan kalo setiap pihak mau, bersuara yg sama, dan siap menanggung segala kekalahan dan kegagalan bersama, akan berkali-kali, sampai bisa berhasil. Siklusnya secara makro demikian. Kita gak punya mental itu.
@4rdn4n@kak_farras Kampus bisa langsung punya banyak unit bisnis. Bukan cuma lab. Lebih terpercaya karena ahli bidang apapun tersedia. Lulusan bisa langsung terserap sebagain. Kampus mana yg sudah seperti ini di kita?
@cigafteries@Stakof Mungkin circle nya dia lebih sehat dibanding menteri lain.
Jd sudut pandang berfikirnya lebih luas selain mungkin terbiasa disiplin menentukan langkah termasuk bicara dalam kondisi dan waktu yg terbatas secara taktis. Gak cuma praktis terus blunder. Wkwkwk
jadi... kenapa gaji guru kacau
karna negara hanya menyebut jenis-jenis gaji/ honor
tanpa menyebut batas bawahnya bahkan ada ratusan ribu guru, gajinya dibawah UMR
menyedihkan @Abe_Mukti
@Friday_SOL@CryptoEights@fierzafajri@handierawan@yonathandinata@EvilPanda@cipherwebthree Dosen dikampus kena, spoofing cc uob, pakai otp, ngerembet ke mbanking beberapa bank di satu hp, ratusan juta: transaksi e-commerce, padahal beliau gak punya akun, transfer va dll). Laporan cybercrime Polda. Pelaku dr Cengal. Korban banyak tp gak banyak yg speakup apalagi laporan