🐎 | Er staat een paard in de gang... uh we bedoelen tunnel? Een bijzondere melding vanuit de Wijktunnel (#A9) waar een kudde paarden op een drafje de tunnelbuis uit kwam rennen. De tunnelbuis richting Alkmaar is afgesloten terwijl we de paarden van de weg af begeleiden.
Inilah wajah brutal ketidakadilan iklim: mereka yang paling sedikit menyumbang emisi justru membayar harga paling mahal. Nepal tidak membangun kemakmurannya dengan membakar fosil dalam skala besar, tetapi rakyatnya kini harus menggali lumpur, mencari orang hilang, dan menguburkan korban bencana yang diperparah oleh pemanasan global.
Bukan piluhan mereka lahir di Himalaya, di garis depan krisis yang tidak mereka ciptakan. Karena itu, keadilan iklim bukan sekadar belasungkawa. Negara dan industri yang paling banyak mengemisi harus memikul tanggung jawab lebih besar dengan membiayai adaptasi, loss and damage, dan pengurangan emisi.
Artikel ini ditulis awal 2026 sebagai refleksi atas bencana banjir. Namun ternyata, di pertengahan tahun ini isinya masih relevan. Tinggal ganti kata "tebang" dengan "bakar". Ramalan dari La Galigo, barangsiapa menyakiti pohon/hutan, maka siap-siap kena imbasnya.
Pak Menteri HAM, negara sedang punya terlalu banyak persoalan serius untuk diukur dengan “lautan manusia”. Ada gempa Flores, kebakaran hutan, konflik berdarah di Papua, konflik agraria, tekanan terhadap masyarakat adat, hingga perampasan ruang hidup. Di tengah semua itu, seorang Menteri HAM mestinya berbicara dengan martabat seorang pejabat negara, bukan seperti orang yang masih berkampanye.
Saya juga tidak pernah percaya survei sebagai satu-satunya ukuran kepuasan rakyat. Tetapi menjadikan kerumunan sebagai “indeks paling real” justru lebih absurd. Lautan manusia bisa hadir karena hiburan, makanan, suvenir, atau sekadar ingin melihat keramaian, bukan otomatis karena puas kepada pemerintah. Kalau mau mengukur kepuasan rakyat, lihat juga mereka yang tanahnya dirampas, masyarakat adat yang ruang hidupnya terdesak, warga yang terdampak bencana, dan mereka yang hidup dalam konflik. Di sanalah negara diuji, bukan di tengah panggung yang penuh sorak-sorai.
Orang ini ditugasi Gus Dur buat berdialog dengan para Eksil politik di Belanda.
Orang-orang dikumpulkan. Ada harapan kembali ke tanah air dan kembali mendapatkan kewarganegaraan.
Pulang dari Belanda, orang ini malah nulis "bahaya komunisme, komunisme tidak dapat diterima di Indonesia dan Islam tidak mungkin dapat dikompromikan dengan komunisme."
Hingga Gus Dur lengser, tidak ada tindak lanjut dari pertemuan di Belanda.
Ingat namanya, Yusril Ihza Mahendra, orang yang telah berdosa kepada para Eksil.
Please distribute widely. I'm thrilled to be one of the organizers of what promises to be a landmark conference on the history of Indonesian internationalism, to be held July 14-16 at UGM in Yogyakarta. Email me for more info. https://t.co/RmSv0afSpd
BRIN ini salah satu warisan buruk era Jokowi juga sih.
Bandingkan saja janjinya dan realisasinya.
Selain soal hasil riset dan inovasi, yg baru-baru ini ramai soal kripik, genteng hingga sepatu, kita perlu fair lihat bagaimana pendanaannya.
BRIN menjadi lebih besar, karena menggabungkan banyak lembaga, tetapi dana riset tidak ikut terkonsolidasi sebesar yang diharapkan. Ini mungkin justru bagian paling penting untuk menjawab apakah merger berhasil.
Kajian ISEAS menemukan bahwa setelah integrasi, BRIN menyerap SDM dari lima institusi besar dan lebih dari 40 unit riset kementerian/lembaga. BRIN kemudian memiliki sekitar 11.000 peneliti dan 4.000 staf pendukung.
Tetapi dari sekitar Rp26 triliun dana riset pemerintah yang sebelumnya tersebar di berbagai lembaga, hanya sekitar Rp7 triliun yang masuk dalam anggaran BRIN pada 2023.
Dengan kata lain, kelembagaan riset terkonsolidasi, tetapi uang riset tidak terkonsolidasi dengan skala yang sama.
bisa baca risetnya di sini: https://t.co/Cuz24opwPz
Indonesian President Prabowo Subianto took power in 2024 with a bold and simple pledge to deliver free school meals for every child — a goal that seemed unimpeachably laudable for a nation with widespread malnutrition. But it all went wrong. Find out why: https://t.co/DpMaQiRuqv
Glen Hansard, the Irish musician who starred in the 2007 film “Once” and won the best song Oscar for “Falling Slowly,” died on Wednesday in a motorcycle crash. He was 56.
According to the BBC, Hansard was killed in a single-vehicle crash in his home city of Dublin. https://t.co/YUoXsI7kOO