Salah satu alasan aku menentang keinginan mama supaya aku jadi PNS aja, aku gak cocok banget lip service, pasang muka palsu, baik-baikin atasan pemalas & korup.
Dulu magang di kementrian, plus kerjaanku sering bgt miting sama seragam kopi susu, ya Allah beneran efektif banget sebagai penangkal agar aku gak jadi abdi negara 😭🙏🏻 najis ilfil berattttt sama mereka
no na nih beneran talented tapi kadang creative direction-nya harus dipertanyakan.
om telolet om kan identik dengan bus AKAP kenapa malah nunjukin angkot?
eike khawatir mereka kebanyakan gaul sama kulit putih jadi suka sembarangan comot budaya warga.
Bule ini kasih tau kalau kemampuan warga di sebuah negara untuk bisa jalan2 keluar negeri adalah hasil dari keputusan politik.
Dia orang Belanda. Kasih contoh kalau dia mau ke Indonesia, dia tinggal terbang aja. Sementara orang Indo mau ke Belanda mesti buat visa dan bisa sebulan nunggu.
Contoh lain, meski bukan jalan2. Ada seorang supir taxi di Bali, tiap ditanya ttg resto apa yang enak, si supir sarankan ke resto bebek tertentu. Tapi, selama hidupnya, dia gak pernah makan disitu. Pertama kali dia makan, itu diajak sama turis yang naik taksinya.
Jadi kalau ada yang gak peduli sama politik, ya lu liat tuh. Lu bisa pergi keluar negeri dengan mudah/sulit bukan faktor duit doang, tapi faktor pemerintah lu jago atau katrok.
Persis! Maka dari itu ada tahapan verifikasi dan kritik sumber dalam sebuah metode penelitian sejarah. Dan biasanya ini yang bikin sebuah riset sejarah jadi lama kelarnya. 😃
Enak ya jadi tentara IDF? Setelah memb*nuh anak Gaza pensiun lalu bangun villa mewah di Canggu, kini bisa membangun hidup baru, tinggal di Bali, menjadi influencer, dan bahkan diajak kolaborasi oleh brand-brand besar di Indonesia. Ironi yang memicu banyak pertanyaan.
Diksi “Londo Ireng” itu sebenernya berbau rasisme.
Lucunya, yang paling lantang ngecap jurnalis sebagai “Londo Ireng” justru keturunan langsung dari The Real Londo Ireng-nya.
Buyutnya dulu ikut bantu Belanda lawan Diponegoro.
Apa gak malu?
Di DR Kongo ada yg namanya Mobutu Sese Seko, dia gemar mengganti nama, membentuk institusi baru, dan menciptakan simbol-simbol negara yang berpusat pada dirinya. Namun, warisan yang kemudian lebih melekat justru adalah kemerosotan ekonomi dan kleptokrasi.
Banyak penguasa percaya bahwa nama akan abadi lewat proyek-proyek besar. Sejarah berkali-kali menunjukkan, yang paling lama diingat justru tagihan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dan itu kerap melahirkan ingatan yg buruk.
baru tau ternyata sikap ga mau “ngerepotin” orang lain itu bukan karena kita baik, tapi karena kita takut, kita tumbuh dengan keyakinan kalo kebutuhan kita itu beban, makanya kita belajar menghilang, bukan bersandar.
Kalo denger cerita temen2 yg pergaulan bebas paling mentok2 di seks
Kalo denger cerita temen yg orang have, bisa bisa ngeceritain ngancurin idup or ngeilangin orang jir🙃🙃
Informasi yang menarik,
Apakah sebuah kebetulan?
Biasanya orang yang suka menuduh tanpa dasar itu proyeksi psikologis dirinya sendiri kata Sigmund Freud.
Kalo dulu ga ada pres media kek Medan Prijaji, Sinar Hindia, De Express, dll kita dulu pas dijajah ga akan punya kesadaran nasional senasib sepenanggungan untuk berjuang lawan kolonial.
Kalo ga ada jurnalis dan pekerja media pasca proklamasi yg berjuang buat nyebarin info di Jakarta udah dibacain proklamasi kemerdekaan, daerah-daerah di Indonesia ga akan tau kalo Indonesia udah merdeka.
Jadi plisssss stop menuding tanpa dasar pekerjaan pres media dan tolong belajar sejarah lagi 😔
Saya sih, akan selalu ngmg:
Akui saja, relijiusitas orang Indonesia itu sebagian besar cuma sebatas ritual saja. Ga sampe ke tahap relijius nilai. Ga ada internalisasi nilai-nilai agama. Cuma ritual aja. Terus menganggap diri paling relijius dan seringnya merasa punya hak buat ngejudge orang lain 😌
Bahkan, secara nilai, banyak negara lain yang jauh menginternalisasikan nilai-nilai agama dibanding kita 😅