Jika negara ini adil kepada rakyatnya, mungkin sang ayah akan pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli 1 ekor ayam untuk keluarga tercinta dirumahnya.
Negara ini terlalu jahat untuk rakyat yang hanya mencoba untuk bertahan hidup. Bahkan si miskin pun tak berperikemanusiaan ketika melihat kejahatan kecil di depan matanya, sedangkan kejahatan-kejahatan besar si miskin hanya menonton dari layar kaca hpnya saja.
Si miskin selalu melampiaskan kekesalannya kepada si miskin karna si kaya selalu dilindungi negara ketika melakukan kejahatan yang sangat besar. “Bapak, Bapak, Bapa”🥹🥹🥀🥀🥀🥀
Ayu jack @jokowi jangan ngumpet Terus‼️
Kami yg Waras tidak percya 11 000 T ijzah mu asli,apa lagi setelah adanya berbagai macam Bukti
Yang Waras Teruslah Berisik demi Negri yg kita Cintai ini‼️
#Tangkapjackurap#NegaradikuasaiBajingan
Kasus ini ngeri-ngeri sedap krn kasus ini adalah kasus pengadaan yg dilakukan srlh Petral “dihidupkan” kembali.
Petral sblmnya sdh di non aktifkan dan diganti oleh ISC tapi dihidupkan kembali thn 2008.
Bisnisnya belum jelas, alat angkutnya sudah duluan dibeli.
Yg pasti biaya operasi & perawatan mobil & pajak kendaraan bermotor langsung jadi beban biaya bisnis. Sedangkan pendapatan saja belum pasti.
Ini model bisnis ala Konoha
Kami mempertanyakan pada @IraninIndonesia@iranin_arabic@IranIntl@IranIntlbrk @IranMilittary, mengapa binatang ini masih dibiarkan hidup..?
Menteri Keamanan Nasional Israel Ben Gvir, di luar ruang sidang Knesset, merayakan pengesahan undang-undang hukuman mati untuk tahanan Palestina.
Hewan ini mencatatnya sebagai peristiwa bersejarah dan mengatakan, “Segera kita akan membunuh mereka satu per satu.”
Sepertinya Presiden takut sama Trump shg tdk berani komunikasi dg Pimpinan Iran - beda dengan PM Malaysia, dia berani berdiri tegak hadapi AS demi rakyat dan negaranya.
Ini penghinaan luar biasa menurut saya.
> Dari penampakannya, parcel dibuat dadakan (kek apa gitu…), asal jadi
> Habis diberi ditinggal
> Pintu ditutup saat tamu msh didepan pintu
> Senyum & keramahan semu
Arogansi yg tiada tara, spt meludahi pecundang
Wajib Lapor Setiap Minggu
Hari ini Sabtu, 14 Maret 2026
Hari libur bagi banyak orang, tetapi tidak bagi saya, karena Wajib Lapor saya harus datang ke POLDA setiap Minggu, hari Senin sampai Jumat karena saya sibuk menyelesaikan persiapan ujian Doktoral, sehingga yang tersisa adalah hari Sabtu ini.
WAJIB LAPOR menjadi kewajiban yang harus saya jalani sebagai Tersangka sejak ditetapkan tanggal 7 November 2025 lalu.
Tanpa terasa sudah empat bulan berlalu, tanpa ada tanda-tanda kapan kewajiban yang sesungguhnya adalah nama lain dari Tahanan Kota ini selesai saya jalani.
Ruang Pemeriksaan KAMNEG DITRESKRIMUM menjadi ruangan yang akrab buat saya.
Seperti hari Sabtu ini, ketika saya ketok ketok pintu yang sepi seperti kamar hantu, setelah lima hari hingar bingar dipenuhi Tahanan dan Polisi dan Reserse dan Pengacara.
Setelah pintu dibuka tampaklah sejumlah Polisi Muda yang wajah kuyu kucek kucek mata. Oh rupanya mereka lembur periksa tersangka dan baru tidur melepas lelah siang ini.
Ada satu hal yang mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Bahwa pada suatu hari, setiap minggu, saya harus melangkah menuju kantor polisi untuk wajib lapor.
Seperti hari Sabtu ini,
Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap. Jalanan Jakarta masih lengang. Banyak orang menuju tempat rekreasi, tempat ibadah, atau sekadar menikmati sarapan bersama orang yang mereka cintai.
Saya melangkah melalui gedung bertuliskan Tahanan Polda Metro Jaya setiap Minggu, dengan satu pikiran yang sama :
Ini bukan tentang saya.
Ini tentang harga dari sebuah keberanian untuk berbicara.
Saya tidak pernah mencari jalan ini.
Tetapi ketika kebenaran memanggil, kita tidak selalu diberi pilihan untuk hidup nyaman.
Ada rasa perih, tentu saja.
Ada rasa lelah, pasti.
Ada juga saat-saat ketika hati bertanya dalam diam:
Apakah semua ini akan dimengerti suatu hari nanti?
Tetapi setiap kali pertanyaan itu muncul, saya mengingat satu hal yang jauh lebih besar daripada rasa takut.
Bahwa sejarah selalu ditulis oleh mereka yang tetap berdiri ketika tekanan datang.
Setiap minggu bagi saya sekarang bukan lagi sekadar hari Wajib Lapor.
Setiap Minggu menjadi pengingat.
Pengingat bahwa jalan kebenaran tidak selalu mudah.
Pengingat bahwa suara hati kadang harus dibayar mahal.
Dan pengingat bahwa ketegaran sering lahir dari tempat yang paling sunyi.
Saya datang, saya melapor, saya pulang.
Lalu hidup berjalan lagi seperti biasa.
Karena pada akhirnya saya percaya satu hal:
Kebenaran mungkin bisa ditekan,
Tetapi tidak pernah bisa dihentikan.
Dan selama napas ini masih ada,
saya akan tetap berjalan.
Setenang mungkin.
Seteguh mungkin.
Setegar mungkin.
Karena banyak doa dan harapan bertaburan dan memberi saya kekuatan.
Hasbunallah wanikmal wakil.
Nikmal maula wanikman Nashir.
La haula wala quwwata ila billah.
Lah, saya malah mau menertibkan anda. Sebagai pemimpin anda tidak tertib. Urusan bisnis anda cepat menyembah asing. Giliran warga anda disiram air keras. Anda malah diam. Tak ada kecaman, apalg mnemukn pelaku. Yang anda maksud dg ditertibkan itu apa?