Guys, kalian tau Aldi Taher kan.
Yang komen-komen random di mana-mana.
Yang tiba-tiba nongol di postingan orang dengan Aldis Burger Cempaka Putih, rotinya lembut, dagingnya juicy, bisa pesan online.
Yang diblok Deddy Corbuzier.
Yang bikin grup WhatsApp mantan istri tapi yang ngobrol dia sendiri.
Ya.
Orang itu.
Dan gue baru tau satu hal soal dia yang bikin gue diem sebentar.
Istrinya Salsa Billy cerita soal momen pertama dia sadar Aldi itu orang yang layak dijadiin suami.
Bukan waktu Aldi ngasih bunga.
Bukan waktu dia romantis-romantisan. Bukan waktu dia kaya atau terkenal.
Tapi waktu Salsa pertama kali datang ke rumah Aldi dan lihat satu hal
Aldi lagi mandiin ibunya.
Gantiin pampers.
Dan Salsa bilang
Waktu itu aku belum pernah lihat laki-laki kayak gitu. Yang beneran oh, kayaknya nggak salah nih.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Di luar sana Aldi Taher dikenal sebagai orang yang absurd.
Yang random.
Yang bikin orang ketawa sekaligus geleng-geleng kepala.
Tapi di rumah dia yang nyuci,
yang urus anak
yang ingetin istri buat nggak marah ke anak dengan cara kasar,
yang bilang salah nggak salah, minta maaf aja,
kita dapat pahala juga.
Nggak ada kamera.
Nggak ada penonton.
Nggak ada yang tepuk tangan.
Dan mungkin itu yang paling langka dari seorang laki-laki
Baik bukan karena dilihat.
Tapi karena emang begitu orangnya.
Salsa juga cerita awal nikah lagi COVID.
Nggak ada syuting.
Uang tipis.
Mereka buka barbershop.
Buka mie ayam.
Aldi sendiri yang nyukur rambut temennya buat bertahan hidup.
Dan sekarang burger Cempaka Putihnya viral gara-gara dia komen random di mana-mana dengan cara yang orang bilang "nggak ada konsepnya."
Tapi Aldi sendiri bilang "Konsepnya Allah."
Gue nggak tahu apakah itu wisdom atau dia emang nggak bisa jelasin konsepnya.
Mungkin dua-duanya.
Tapi satu hal yang gue yakin orang yang di puncak kesibukan hidupnya masih mandiin ibunya sendiri, itu bukan orang yang perlu kita ragukan karakternya.
Sisanya biar Allah yang urus.
Guys, gue baru dengerin obrolan Vincent Verhaag dan Jedar di podcast dan ada beberapa hal yang bikin gue diem sebentar.
Bukan karena dramatis.
Tapi karena beda dari yang biasanya gue denger dari pasangan selebritis.
Jedar bikin "pasal" buat rumah tangganya.
Dan Vincent accept dan nurutin semua itu
Isinya antara lain kalau aku marah kamu sabar. Kalau aku diam kamu harus peka.
Kalau aku salah, kamu minta maaf lebih dulu.
Di luar konteks kedengarannya satu pihak banget. Dan Vincent sendiri ngakui "agak NPD ya istrinya."
Tapi yang menarik dia tetap accept.
Bukan karena takut.
Tapi karena dia baca pasalnya, setuju, dan nganggap itu bagian dari komitmen yang dia pilih.
Dan pasal yang paling gue suka?
Pasal 5
"Kamu boleh sukses setinggi langit.
Tapi pulangnya tetap ke aku.
Karena aku itu rumah, bukan alamat."
Tapi yang paling bikin gue mikir bukan pasalnya.
Tapi empat hal yang Jedar tetapkan sebagai garis merah sejak sebelum nikah dan ini nggak ada kompromi, nggak ada diskusi kalau udah kejadian.
Narkoba cerai.
Selingkuh cerai, harta jatuh ke istri.
Judi cerai.
KDRT cerai, harta dan hak asuh ke istri.
Dan Vincent setuju bukan cuma di mulut.
Tapi masuk ke perjanjian pranikah.
Tertulis.
Legal.
Bahkan untuk El Barak anak Jedar dari pernikahan sebelumnya yang secara hukum bukan tanggung jawabnya Vincent masukin ke perjanjian bahwa dia akan tanggung jawab sama seperti anak kandungnya sendiri.
Dan dalam keseharian ini bukan cuma omong kosong.
Empat tahun menikah.
Vincent bilang dia nggak pernah keluar malem tanpa istri.
Nggak minum alkohol.
Bukan karena dilarang tapi karena dia sendiri yang ngerasa "what am I doing here" setiap kali nyoba.
"My target of having fun is at home."
Dan waktu mereka sempat di titik paling berat baru nikah, COVID, uang hilang hampir Rp10 miliar kena penipuan, bayi baru lahir, susu nggak keluar karena istri stres mereka nggak sampai ke titik "mendingan pisah."
Mereka cuma jadi jauh sebentar.
Lalu balik lagi.
Yang gue pelajarin dari cerita ini:
Bukan soal pasalnya yang menguntungkan satu pihak.
Bukan soal siapa yang lebih dominan dalam rumah tangga.
Tapi soal satu hal yang jarang banget ada di pasangan manapun
Aturan main yang jelas, disepakati dari awal, dan dipegang berdua.
Banyak rumah tangga yang hancur bukan karena ketiadaan cinta tapi karena ketiadaan kesepakatan soal hal-hal yang nggak bisa dikompromikan.
Jedar dan Vincent dengan semua keabsurdan pasal-pasalnya setidaknya tahu persis garis merahnya di mana.
Dan Vincent tahu persis konsekuensinya kalau dia langkahi.
Menua itu wajib.
Bosen itu haram.
Gampang diucapkan.
Susah dijalankan.
Tapi kalau lo udah nentuin dari awal bahwa bosan bukan pilihan bukan karena romantis, tapi karena sadar bahwa lo yang tua bareng orang itu, bukan anak-anak mungkin persepsinya beda.