Untuk mencegah aksi gorengan saham, free float saham akan dinaikan jadi 15% (tadinya hanya 7,5%).
Butuh sekitar dana Rp 250 triliun untuk menyerapnya. Uangnya dari mana??
Dari dana pekerja BPJS-TK? Wait.
Mari kita ulas.
Free float ini intinya saham yg dijual di BEI dan terbuka buat publik buat beli/jual.
Kalau porsi saham yg bebas dijual-belikan di BEI sedikit (misal hanya 7,5%), maka ini relatif mudah untuk digoreng. Tak butuh modal banyak bagi bandar buat melakukan aksi dongkrak harga secara artifisial.
Nah untuk membuat bandar sulit menggoreng, maka free float atau saham yg bebas dijual wajib minimal 15% dari total saham perusahaan itu.
Dengan porsi saham terbuka yg jauh lebih besar, maka logikanya butuh modal yg jauh lebih banyak untuk lakukan aksi manipulasi harga.
(Tentu saja selain free float, BEI wajib ciptakan beragam aturan lain untuk cegah manipulasi harga).
Cuma kalau saham yg bebas dijualbelikan naik jadi 15%, siapa yg akan beli? Siapa yg akan menyerapnya?
Dg free float naik jadi15%, estimasi dibutuhkan dana sekitar Rp 250 triliun untuk menyerapnya. Dananya dari mana?
Team Airlanggan bilang dana investasi beragfam lembaga pensiun (misal dari BPJS - TK), akan dilonggarkan. Selama ini maksimal hanya 8% yg boleh diinvest ke pasar modal. Maka akan ada aturan maksimal dinaikkan jadi 20%.
Artinya akan ada modal besar yg akan membanjiri pasar modal RI. Harapannya, free float 15% pada akhirnya bisa terserap pasar dengan baik.
Hanya saja perlu hati-hati.
Jika nanti investasi ratusan triliuan (sebagian bahkan dari BPJS - TK) ditaruh di Bursa Saham Indonesia, tapi kualitas emitennya kurang solid, bahaya juga.
Sayangnya, di RI ini emiten yg kualitasnya solid dan stabil (dan mampou serap dana investor mega trilunan) hanya sektor big banks (BBCA, BMRI dan BBRI).
Kalau kinerja emitennya banyak yang tidak bagus dan penuh financial engineering, maka investasi triliunan itu bisa menjadi loss yg amat besar.
As a hotel staff, gua awalnya bingung knp banyak bgt dari anak muda-mudi, ani-ani bahkan sampe om2 suka bawa gini. Akhirnya nemu lah link ini https://t.co/fkhUAJTmNn yg menjawab rasa penasaran guaa. Gila bgt sih jaman makin ngeri dan penyalahgunaan apapun makin bervariasi.
Suami yang sudah membiarkan
istrinya tidak bekerja dan
dinafkahi 100% harus di apresiasi
setinggi-tingginya, karena sudah
berhasil menjalankan tanggung
jawab sebagai seorang suami.
Terkait perdebatan GERD dapat menyebabkan seseorang m*ningg*l dunia, gua rasa artikel dari PB PEGI ini cukup menjelaskan, silakan dibaca, terutama yang di-highlight
Poin satu lagi yang sebenernya tidak kalah penting dan butuh perhatian lebih adalah perlunya membedakan antara GERD dengan serangan jantung (acute coronary syndrome), karena seringkali keluhannya serupa 🙏🏻
Dan bila ternyata serangan jantung, itu adalah suatu emergency yang risiko kematiannya tinggi dan membutuhkan penanganan segera
Ada empat hal pengeluaran yang ngga perlu terlalu pelit:
1. Kesehatan (beli vitamin, member gym, dumbbell buat workout di kamar, makanan sehat)
2. Pendidikan (beli course online, bayar coach, biaya S2, les berenang atau nyetir)
3. Networking (ketemu orang professional, liburan keluarga, ikut acara komunitas)
4. Efisiensi Waktu (Beli laptop yang lebih mumpuni dari sekarang untuk kerja dan belajar, naik gojek daripada tj pada beberapa kasus, bayar AI biar bisa kerjain tugas repetitif)
Tips sabar:
1. Jangan mantengin chart tiap menit. Harga naik-turun itu kerjaan market, bukan sinyal darurat. Makin sering dicek, makin kecil toleransi fluktuasi, padahal tren besar belum tentu berubah.
2. Inget alasan awal masuk. Beli karena valuasi, siklus, atau turnaround, bukan karena rame. Jadi komentar orang, mau muji, mau nyinyir, nggak relevan selama alasan itu belum rusak.
3. Ambil jeda itu penting. Market nggak butuh kita online terus. Kadang keputusan paling bener justru lahir setelah kita ninggalin layar. Tutup aplikasi, biarin harga jalan sendiri.
4. Pisahin noise sama fakta. Noise itu opini, emosi, dan prediksi tanpa data. Fakta itu laporan keuangan, guidance, aksi korporasi, dan perubahan fundamental. Timeline rame nggak otomatis ada masalah.
5. Terakhir, fokus ke yang bisa dikontrol: sizing, average price, risk, dan exit plan. Harga harian, opini orang, dan sentimen sesaat bukan wilayah kita. Biarin lewat, energi dipakai buat keputusan yang bener.