Kalau Anda bertanya apa yang harus rutin diajarkan kepada anak hingga ia tumbuh dewasa. Maka ajarkanlah ia buang sampah yang benar.
Karena setelah dewasa ia akan tahu bagaimana cara membuang sampah makanannya dan bagaimana cara membuang sampah pikirannya.
@LancerDangan@foolinsights Sebetulnya jalan tol bukan cuman tentang transportasi yg punya mobil sih ya..
Ini menyangkut tentang komoditas juga.. Semenjak Adanya Trans Sumatra, Trans Kalimantan, Trans Papua, Trans Sulawesi.. Komoditas pangan, sandang, papan lebih mudah tersalurkan..
Memahami logika kerumunan domba cukuplah dengan memahami logika penggembalanya.
Bila padang rumputmu segar, dirimu tak perlu khawatir dombamu meninggalkanmu. Namun bila dombamu menerima selebaran negatif bahwa padang rumputmu itu beracun. Maka, jadilah penggembala yang baik.
Karena hukum Duniawi adalah hak Penciptanya. Sedang hukum-Nya itu berbunyi, bagi mereka yang tak bersungguh-sungguh atas tujuannya, niscaya takkan mencapainya.
Andai tujuan hidupmu meraih kekayaan, jalanilah prosesnya dengan bersungguh-sungguh.
Andai tujuan hidupmu meraih ridho Tuhan, jalanilah prosesnya dengan bersungguh-sungguh.
Andai tujuan hidupmu membuka tabir misteri semesta, jalanilah prosesnya dengan bersungguh-sungguh.
@bambangsknt@jadipossible Lebih tepatnya ini efek bias konfirmasi. Mirip kyk kepercayaan, "Kalo naro gelas isi air & d halangin anduk di atas kepala, maka bakal ngilangin pusing."
Substansi rasa takut itu berasal dari respon penolakan atas perubahan mendadak.
Ngomong-ngomong, plastik itu akan mudah dibentuk ulang saat kita menemukan suhu panas yang tepat.
Pada dasarnya amigdala itu sangat menolak perubahan kebiasaan. Dan selama ini kita terfokus pada keharusan Cortex untuk mengambil alih amigdala.
Sementara kita sebenarnya bisa memanipulasi keadaan saat itu terjadi. Dengan meyakini bahwa perubahan mendadak itu tidak berbahaya.
Dan sungguh bagi mereka yang berjiwa hamba itu akan mudah sekali merenungkan peringatan, sekalipun dari anak kecil dari keluarga orang miskin.
Dan akan merenungi nasihat kebajikan, sekalipun dari seorang preman sok tahu di dalam jeruji.
Jiwa hamba tak terbiasa berbesar hati.
Kalau orang Islam sudah memahami konsep "Hamba Allah (Budak yang mengabdi pada Tuannya)".
Mereka tidak akan takut imannya goyah kala ada umat lain bangun tempat ibadah. Karena mereka menyadari bahwa Tuannya melarang mereka untuk mengusik umat lain.
Karena pada dasarnya penderitaan itu datang dari konsekuensi hukum alam yang berlaku. Sedangkan ujian, pada dasarnya adalah rahasia Allah.
Seperti halnya terik matahari akan dianggap derita bagi sebahagian orang dan nikmat bagi sebahagian yang lain di waktu yang sama.
Mindset seorang hamba (budak) adalah pasrah, mudah memohon, tidak berani merendahkan pihak lain, mudah merasa takut terhadap apa yang tidak disukai tuannya, dan hanya memakan apa yang diridhai tuannya saja.
Lantas, apa yang membuatmu begitu merasa lebih tinggi dari yang lain?
Memahami cinta sebagai sebuah โseniโ itu lebih menenangkan daripada memahaminya sebagai lonjakan gairah.
Seni mencintai itu layaknya melukis, kita mempelajarinya hingga mahir dalam menciptakan keindahan di dalamnya.
Sementara gairah sendiri datang dan pergi tanpa kendali.
@Chart_Juve@B3doel___ Ada beberapa tipe orang yg ga tega kalau di suruh buang makanan. Sy kenal beberapa orang yang seperti itu biasanya udah sepuh2 dan mereka bener2 menghargai makanan bahkan hanya 1 butir nasi ajj..
Jd kalau penbuang makanan ya baiknya sm si mbaknya d terima dlu baru buang sndiri.