Menurut beberapa pendapat, di sebagian kita itu ada mentality kalau kita sudah maju, sulitkan orang lain maju. Kalau saya dulu susah, harusnya kalian juga merasakan yang sama.
Kami dulu sulit, enak saja mau gampang.
Bukan yang, dulu kita sulit, kita tahu masalahnya dimana, ayo kita perbaiki.
Sebenarnya kalau itu hal substansial nd apa. Tapi kadang-kadang tidak substansi juga tetap saja begitu.
Salah satu quotes terbaik yang pernah gue baca adalah “you can’t beat someone who is having fun”
Dan ini circulating pas Alysa Liu jadi Olympic champion dengan bubbly personality-nya
Bayangin lo ngelawan orang yg talented, obsessed sm gameplay-nya, stay composed di situasi apapun, tahan pressure/psy-war, and on top of that, is just… having fun?
How could you possibly beat them?
Budaya konformis ini bermetamorfosis menjadi budaya gatekeeping dengan dalih moral: “jangan ngomong diluar bidang karena akan menyesatkan”
mindset linear itu lahir dari budaya konformis; science itu dari kata scientia yang artinya pengetahuan, bukan fisika, matematik, biologi. Itulah mengapa jarang Jurnal akademik Indonesia yang masuk Q1 apalagi setara Nature/Science. Karena disangka penemuan baru/inovasi itu terjadi didalam silo. Dalam satu contoh paper di Sci Advances misalnya; geologist, chemist dan matematikawan bekerjasama dengan ahli serangga untuk menelisik bagaimana membuat bangunan yang bisa “bernafas” https://t.co/TMPiB6lQRC
I say no — more speech. more dialogue. smarter society. Who are you to say who can or cannot talk.