Selamat kpd POLRI yg tlh menjebol tembok penyembunyian harta2 yang diduga hasil korupsi di sebuah kafe dan beberapa titik lainnya. Selamat kpd KEJAGUNG yang terus memburu koruptor di BGN dan MBG. Silahkan berlomba utk saling bongkar korupsi. Itu bagus utk pemberantasan korupsi.
@Jakartalk It’s funny how he used to complain about everything the government did, saying they never thought about the people. Now that he’s the one in charge, he’s complaining that there are too many complaints 😅
Jika peristiwa penangkapan pada malam ini adalah murni tindakan tegas dan sebuah proses hukum, maka, lazimnya, seharusnya, output-nya adalah embege dilakukan PEROMBAKAN TOTAL. Atau ya bagus-bagusnya TUTUP dan BUBAR.
Bila per esok hari tidak ada perubahan sama sekali, maka benar apa yang dikatakan oleh @zalkad, bahwa penangkapan ini bukanlah murni sebuah proses hukum, tapi hanya proses 'pengamanan' tokoh sentral saja agar bagian bawah gunung esnya tetap aman dan tentram, setidak-tidaknya perspektif publik berhasil dibelokkan oleh rezim menjadi seolah-olah bahwa rezim ini tidak pandang bulu kepada koruptor. Padahal?
Intinya, selama mekanisme embege masih kuat melibatkan swasta, mitra, yayasan, atau apalah itu, dan masih gencar dibangun kubangan-kubangan lumpur (espepege), tidak memprioritaskan pada daerah 3T, tidak melibatkan pakar dan praktisi gizi berpengalaman, maka celah korup masih amat sangat terbuka lebar. Lingkaran setan ini tak akan pernah berhenti.
Lihat ini, apa ndak rusak birokrasi pemerintahan?
Kita memilih @Prabowo di Pilpres sebagai Presiden, sebagai pucuk pimpinan pemerintahan, bukan Teddy. Tapi setelah jadi Presiden, malah semua urusan pemerintah di bawah kendali Teddy.
Makanya kacau balau pemerintahan ini
The Economist (May 16th, 2026) menulis soal rezim Prabowo. Dari cara-caranya membungkam aktivis Andrie Yunus hingga pemborosan anggaran. Masa lalu Prabowo juga diungkit.
Benar2 menuju apocalypse 🫣
The sprawling multi-ethnic archipelago cannot simply be given orders as if it were an army unit. It needs a leader who listens to many voices, rather than one who surrounds himself with yes-men https://t.co/3Rf4W3HXnX
The Economist can milk this article however much it wants, and I'll just keep reposting because much of the country's media landscape doesn't even have the balls to say what needs to be said.
Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia
Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi
Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter
Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal.
========
Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko
Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya.
Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
cuma mau ngingetin kalau Rupiah itu sekarang jd mata uang paling lemah no.5 di dunia dan akhirat versi Forbes. Nilai tukar uang kesayangan kita ke Dolar bahkan lebih lemah dari negara-negara di Afrika dengan ekonomi paling lemah kaya Somalia, Kongo, Sudan dll.
Beda memang seorang pemimpin yang tidak butuh validasi dan tidak NPD akut.. Tidak merasa rendah diri dan merasa imperior dari negara ASEAN lainnya, PM Singapura Lawrence Wong tiba di bandara komersial tanpa memamerkan apapun soal negaranya karena memang sudah diakui..
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.