Yth. Bapak Sudaryono selaku Kepala BGN.
Izinkan kami memberikan saran dengan sesantun-santunnya bahasa, sesuatu yang sangat amat jarang kami lakukan, namun kali ini, kami merasa sangat perlu untuk melakukannya.
Dengan bahasa santun, mungkin Bapak berkenan untuk menaruh atensi, berkenan untuk membaca.
Bapak, tolong hentikan drama murahan Bapak. Dulu, Ibu Nanik juga kerap menangis tersedu-sedu setiap kali memergoki SPPG yang tata kelolanya buruk dan berpotensi menyebabkan keracunan, ia juga menangis pada korban-korban keracunan di klinik-klinik, bahkan juga menangis karena sebab yang tidak jelas, di depan khalayak, di depan kamera.
Apakah Bapak kira kami peduli? Apakah Bapak kira kami menganggap tindakan tersebut murni sebab nuraninya yang tergugah? Sebab empatinya yang membuncah? Tidak, Pak.
Maaf ya, Pak, kami harus menyampaikan kalau baik Bapak, maupun kepala-kepala BGN sebelumnya, itu sangat buta dan tuli, padahal kami meyakini Bapak memiliki kuasa dan kekuatan besar untuk mengubah total arah angin pergerakan BGN. Tapi apa? Yang Bapak dan pimpinan-pimpinan sebelumnya lakukan hanyalah tindakan-tindakan nirguna dan nirdampak.
Berapa kali kawan-kawan MBG Watch melakukan unjuk rasa di depan kantor Bapak? Pernahkah barang 1x saja Bapak menemui mereka? Pernahkah Bapak membuka ruang dialog? Bukannya di antara salah satu pengunjuk rasa itu ada juga yang bernasib seperti Ibu-Ibu yang memarahi Bapak? Yang anak-anaknya juga keracunan.
Mohon beri atensi pada tuntutan kami apabila Bapak sungguh-sungguh ingin kejadian keracunan seperti ini tidak terjadi lagi, Pak. Kami mohon.
Kami menuntut agar:
1. Stop total dulu MBG selama sedikit-sedikitinya 6 (enam) bulan. Selama 6 bulan itu silakan Bapak dan jajaran Bapak mengkaji betul-betul bagaimana agar tata kelola MBG bisa berjalan dengan sangat baik. Libatkanlah ahli, libatkanlah orang-orang berpengalaman.
2. Setelah 6 bulan mengkaji, lakukanlah voting kepada calon penerima manfaat yang konon jumlahnya 60jt++ itu untuk mengumpulkan data, berapa banyak orang tua yang masih mau menerima MBG dan berapa yang tidak mau menerima. Hormati keputusan yang tidak menerima. Berikan sanksi yang tegas apabila ada pihak-pihak tertentu yang melakukan pemaksaan.
3. Hapus sistem SPPG yang dikelola oleh swasta. Swasta mungkin membantu, tetapi jarak antar bangunan berpotensi besar terjadinya kontaminasi pada panganan. Bangunlah dapur-dapur MBG di sekolah-sekolah.
4. TUTUP PERMANEN dapur-dapur yang memiliki rekam jejak meracuni lebih dari 50 korban keracunan. Tiada ampun. Umumkan di media sosial resmi BGN. Jika hasil investigasi dari polisi terbukti kalau dapur menjadi penyebab keracunan, maka WAJIB untuk diberi garis polisi. Lalu dapur dengan rekam jejak tutup permanen tidak boleh diberi ruang untuk beroperasi kembali.
Jika tidak bisa memenuhi poin 1 hingga 4, kami mohon dengan sesantun-santunnya SILAKAN BAPAK MUNDUR. Kami mohon.
Mohon atensi ya, Pak. Kami sudah berusaha sesantun mungkin untuk menyampaikan ini kepada Bapak. Kami beri waktu 1 (satu) pekan sejak permohonan ini kami terbitkan untuk Bapak memikirkan tuntutan-tuntutan kami. Apabila selama satu pekan tidak terjadi apa-apa, maaf, maka kami akan kembali pada setelan bahasa seperti biasanya. Tidak ada ruang hormat sedikitpun dari kami kepada Bapak. Kami akan kembali mencaci dan mencemooh dengan keras setiap kali terjadi penyimpangan tata kelola MBG. Akan kami seret Bapak dan kami paksa untuk mundur.
Terima kasih banyak atas atensinya, Pak Sudaryono. Semoga senantiasa sehat selalu. Salam hormat (untuk saat ini) dari kami yang muak dengan drama pejabat-pejabat BGN, Tim Menu Embege Jelek.
Kenapa jadi RS yang diaudit, wong RS tahu ada kasus Raya ini karena pasiennya dibawa ke sana. Kemudian menempatkan spesialis di puskesmas apa gunanya, ini bukan solusi dan tidak membereskan akar masalahnya. Ga ngerti cara mikirnya bapak saha ini
Indonesia nih kalo ga nyalahin RS, dokter, dan nakes tuh ga afdol ya idupnya?
Kenapa jadi RSUDnya yg diaudit? Salah ape tu RS pak?
Harusnya anda sebagai pemerintah yg diaudit. Kenapa bisa ada WARGA YANG LUPUT DARI PENGAWASAN ANDA, DAN BARU KETAUAN PAS MENINGGAL?🥴
SubhanAllah! In all my life, I have never seen Masjid al-Haram as filled with worshippers as it is today. May Allah accept our worship and grant us goodness in this world and the Hereafter. 🕋 🤲🏽
Akhirnya ketemu footagenya, clear ini jelas terowongan di tutup full ambulan ga bisa maju, sesuai kesaksian kawan disana. MAU BERKILAH APA LAGI KALIAN?
Jumlah difabel di Malaysia ada 640 rb jiwa, anggarannya 4.1 triliun. Di Indonesia ada 23 jt jiwa difabel tapi anggarannya cuma 3 miliar.
Alias 1 difabel hanya kebagian Rp130 perak.
anggota dpr korsel mati-matian tengah malem lari ke gedung parlemen buat bela rakyat sampe manjatin tembok. kalo di sini mati-matian NUTUP tembok dan gerbang untuk menentang rakyat yah hehe kentut