Kalo ada wanita yang setelah menikah masih suka nyeletuk:
‘tubuhku milikku sepenuhnya, jadi kalau aku nggak mau, berarti tanpa consent’,
Maka perlu ditanya balik, kalo begitu, bagaimana kalo suami juga bilang:
"uangku milikku sepenuhnya, jadi aku nggak consent untuk nafkahin? Adil kan?!"
Tapi anehnya, kalo suami ngomong gitu, langsung dilabeli mokondo dan nggak bertanggung jawab. Tapi giliran istri menolak kewajiban batin, malah dibela pakai jargon korban.
Sadar enggak sih pernikahan bukan transaksi sepihak. Kalo wanita menuntut nafkah, keamanan, kasih sayang, dan kesetiaan, maka wajar jika suami juga menuntut haknya. Kalo semua pakai alasan 'nggak consent', pernikahan jadi ladang egoisme, bukan ibadah.
Jadi kalo nggak siap memberi, jangan marah saat tak lagi diberi.
Ketahuilah, pernikahan dibangun di atas saling pengertian, bukan saling pembenaran. Jika yang satu terus menuntut, sementara yang lain terus diminta mengerti, itu bukan pernikahan itu perbudakan yang disamarkan dengan status halal..
KALIAN BANGSAT !!!
Saya betul-betul marah atas temuan PPATK bhw 36,67 % dana Proyek Strtaegis Nasional (PSN) masuk ke kantong pribadi ASN dan politisi.
PSN antara lain proyek jalan Tol, penanganan Covid-19, Bandara, Bendungan, Irigasi dll sdh habiskan sktr Rp 1.500 trilyun.
Ini sebenarnya yang menjadi pokok pangkal “MISI WAJIB MENANG” yang dijalankan secara kolektif oleh kelompok Penyeludup Dana Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terdiri dari politisi elite Parpol, para pemangku kekuasaan dan kroninya.
Mengapa gerakan ini dilakukan kolektif karena bagaikan menarik “Ketela Singkong”, pokok terangkat akar pun tercerabut.
Akan ada ancaman besar bagi mereka yang menggarong uang negara, di penjara dan di miskinkan jika kekuasaan beralih kepada koalisi yang tidak sejalan dengan pemerintahan Jokowi saat ini.
Itu sebab sejatinya Pilpres 2024 bukanlah kontestasi antar Kandidat Capres, melainkan perseteruan antara RAKYAT melawan REZIM JOKOWI.
Pertarungan antara “WAJIB MENANG” dengan “WAJIB KALAH”.
Semoga saja TNI dan POLRI senantiasa berada di sisi rakyat, sehingga diujung akhir cerita prosesi peralihan atau berkelanjutan kekuasaan ini, tidak ada yang “Berkalang Tanah dan Bermandikan Darah”.
Ada tokoh yg merasa paling nasionalis, paling ikhlas, paling tahu, paling banyak pengabdian sehingga seakan paling berhak di hormati, dihargai, dipuji-puji shg marah kalau dikritisi.
Kalian pasti punya teman, yang kalau menang pas main, sombongnya minta ampun. Tapi kalau kalah, nangis-nangis.
Kita dulu gak terlalu suka berteman sama yang model begituan.
Mending gak usah diajak main, ntar kalau kalah, nangis-nangis lagi.