Intinya kalo finansialnya ngepas, pengeluaran buat hobi direm dulu.
Terutama buat ekonomi menengah.
Mitigasi risiko sampe 3 bulan ke depan, cek situasi.
Kalo pengeluaran kaum finansial atas, emng sulit terpengaruh.
Karena layer finansial nya udah berlapis2.
Tahu kah kamu?
Dengan cukup memangkas MBG Rp36-40 triliun saja, pemerintah sebenarnya tidak perlu menaikkan BBM.
Tapi pemerintah lebih memilih menaikkan Pertamax Rp3.950 dan Pertamax Green Rp4.100 per liter, yang efek dominonya jauh lebih luas ke seluruh masyarakat.
Padahal keduanya sama-sama bisa hemat Rp36,3 triliun di APBN.
Naik BBM = menekan daya beli kelas menengah, memicu kenaikan harga barang, memicu inflasi.
Pangkas MBG = memengaruhi kelompok rente, mengurangi dana bancakan.
Ada cara yang jauh lebih ringan buat hemat, tapi kenapa malah pilih yang membebani rakyat?
Why?
Ini yg dikemukakan ama beberapa ahli ekonomi tempo hari.
Kenaikan barang itu terjadinya perlahan, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, baru bahan jadi.
Kenaikan bensin itu baru langkah awal, yg akan memberikan efek domino ke naiknya harga2 yg lain.
Yg tercekik itu yg finansialnya dan gajinya terbatas.
Anggaran infrastruktur banyak dipangkas, sekolah dijadiin KDMP, ada bangunan SPPG lebih bagus daripada sekolah, dollar otw 19 ribu, lapangan kerja menipis, sekarang Pertamax naik 30%.
Pertimbangkan lebih banyak naik transum atau non-motorized transport. Tapi, gimana dengan kota-kota kecil atau daerah yang transumnya belum banyak menjangkau?
Ujung-ujungnya tetep ngandalin kendaraan pribadi, atau paling mending naik ojol. Tapi, dengan harga bensin yang udah naik, apa ojol ga makin kegencet?
Hari Rabu, 10 Juni 2026 baru berjalan 2 jam 45 menit, dan udah ada 1 berita buruk.
Pak, Bapak tau kan kalo perbandingan gaji dokter umum dan dokter spesialis itu rata rata 1:5?
Bukan dokter spesialis yang kegedean, tapi emang dokter umumnya yang kekecilan.
Bahkan ada yg dibawah 5jt.
Jadi bukan dokter Indonesia yang unik, tapi murni setiap orang berhak untuk mendapatkan dan memilih kehidupan yang lebih baik.
Gausah kita bahas pengabdian, karena dokter itu profesi. Keyakinan ini didukung oleh hak asasi manusia yang mendasar, di mana setiap individu berhak untuk mengembangkan diri, mengubah nasib, dan hidup sejahtera.
Dari 9 shampoo ini, gw gak pake satupun. Bukan karena jelek. Tapi karena mayoritas shampoo di mass market masih pakai SLS/SLES sebagai surfaktan utama.
Kalau lu anak gym dan keramas tiap hari, saran gua cari shampoo non SLS
KITA HIDUP DI NEGARA YANG MASYARAKATNYA SUKA NANYA "KOK BELUM?"
Umur 17:
"KOK BELUM KULIAH?"
Umur 22:
"KOK BELUM KERJA?"
Umur 25:
"KOK BELUM NIKAH?"
Umur 30:
"KOK BELUM PUNYA RUMAH?"
KOK BELUM PUNYA ANAK, KOK BELUM INI, KOK BELUM ITU, SEGALA MACAM PERINTILAN "KOK BELUM"
Makanya gw paham kenapa orang luar heran lihat anak Indonesia masuk kuliah umur 17-18. Hidup disini emg kayak lagi dikejar setan🤣
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Selalu amazed banget melihat gmn tubuh kita tuh capable dlm melakukan hal segila ini.
Liat aja, dari yg bersih pink glowing, ususnya berubah jd bercorak tutul macam jaguar begitu 😫🥴😢
Penumpukan pigmen lipofusin kek gini tuh trjd ketika orang pake pencahar yg berlebihan, terutama yg ada kandungan anthraquinone.
Coba cari tahu deh negara mana yang mengharuskan ganti plat kendaraan setiap 5 tahun.
Cuma ada 1 negara yang gitu!
Di kebanyakan negara plat itu berlaku sampe rusak/hilang.
Yang harus ganti juga paling 10 tahun (supaya plat jelas)
Intinya memang pemerintah kita ribet aja.
harga barang yang berpotensi naik,
efek 1 $USD = Rp.18.000
tapi tenang sobat, tidak akan ada demo. selama bbm tdk di naikkan harganya. @prabowo tau banget soal ini.
1). Mi instan
2). Tahu dan tempe
3). Tepung terigu
4). Roti dan kue
5). Smartphone / Handphone
6). Laptop dan komputer
7). Komponen PC (seperti RAM, kartu grafis/VGA, dan prosesor)
8). Daging ayam potong
9). Telur ayam ras
10). Obat-obatan (baik generik maupun obat paten)
11). Suplemen dan vitamin impor
12). Alat kesehatan (seperti masker medis, alat cek darah, dan perban)
13). Suku cadang (*spare parts*) mobil dan sepeda motor
14). Mobil dan sepeda motor baru
15). Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi (Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex)
16). Susu formula anak (yang menggunakan bahan baku bubuk susu impor)
17). Produk kosmetik dan perawatan kulit (skincare) merek luar negeri
18). Barang elektronik rumah tangga (Televisi, AC, Kulkas, Mesin Cuci)
19). Pakaian, sepatu, dan tas bermerek impor
20). Daging sapi impor (*frozen beef*)
21). Bawang putih (karena mayoritas pasokan nasional masih diimpor)
22). Buah-buahan impor (seperti apel, anggur, pir, dan kurma)
23). Gula pasir (sebagian besar bahan baku gula mentah/rafinasi didatangkan dari luar negeri)
24). Gas LPG non-subsidi (Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg)
25). Keju, mentega (*butter*), dan krim olahan susu impor
26). Konsol game (PlayStation, Nintendo Switch, Xbox)
27). Kamera digital dan lensa fotografi
28). Smart TV dan Android TV
29). Perangkat audio (Speaker bluetooth, *headphone*, dan *earbuds* nirkabel)
30). Powerbank dan aksesori pengisi daya (charger serta kabel data)
31). Oli dan pelumas mesin kendaraan (bahan dasar *base oil* menggunakan standar harga global)
32). Ban kendaraan bermotor (menggunakan komponen kimia pengolah karet impor)
33). Aki kendaraan (battery mobil dan motor)
34). Pupuk kimia non-subsidi (bahan baku fosfat dan kalium sepenuhnya diimpor)
35). Biji plastik (bahan baku utama pembuatan botol, kantong, dan wadah kemasan industri)
36). Kertas fotokopi dan kertas cetak (harga bubur kertas/pulp terikat harga komoditas global)
37). Besi beton dan baja ringan untuk konstruksi pembangunan
38). Cat tembok dan cat industri (menggunakan pigmen dan bahan kimia inti impor)
39). Sepatu olahraga merek global (seperti Nike, Adidas, Puma, dll.)
40). Parfum original merek luar negeri
41). Pakaian dan jaket dari lini mode internasional (fast fashion retail)
42). Mainan anak bermerek impor (seperti Lego, diecast Hot Wheels, dan action figure)
43). Alat musik modern (Gitar listrik, keyboard, piano digital, dan drum elektrik)
44). Alat olahraga impor (Raket badminton/tenis, sepeda, dan peralatan gym)
45). Pakan kucing dan anjing (pet food) merek internasional
46). Susu kedelai kemasan pabrikan
47). Cokelat batangan dan produk berbasis kakao olahan dari luar negeri
48). Saus dan bumbu masakan kemasan impor (seperti saus pasta instan, kecap Jepang, dan mayones)
49). Suplemen kebugaran (seperti whey protein, kreatin, dan susu diet impor)
50). Tiket pesawat terbang rute internasional (karena biaya avtur global dan sewa pesawat menggunakan mata uang USD)