Waktu mendarat di Banyuwangi, naluri arsitek kami langsung nyala begitu masuk ke terminalnya.
Bandaranya nggak besar, nggak megah, nggak mewah. Tapi ada satu hal bikin kami kagum sekagum-kagumnya:
Pencahayaan dan pengudaraanya alami semua.
Nyaris tanpa AC, nyaris tanpa lampu di siang hari.
Dan hebatnya, hal itu yang bikin dia menang salah satu penghargaan arsitektur paling bergengsi sedunia.
Mari kita bahas!
A thread 🧵 by Narasi Visual
MURID BARU.
---------------
Guru : "Kamu anak baru? Namamu siapa?"
Murid : "Demitri Saklitunov"
Guru : "Kamu lahir di Rusia?"
Murid : "mBoten, kelahiran Sewon.. mBantul Bu.."
Guru : "Apa Bapakmu Dubes?"
Murid : "Bukan Bu, tukang ojek.."
Guru : "Ibumu kerjane apa?"
Murid : "Jual jamu gendong.."
Guru : "Siapa nama bapakmu?"
Murid : "Triyono.."
Guru : "Ibumu?"
Murid : "Sademi.."
Guru : "Namamu kok kaya orang Eropa??"
Murid : "Itu singkatan Bu, saDEMI dan TRIyono, Jadi Demitri..."
Guru : "Ooowwh... Iha Saklitunov?"
Murid : "Saya lahir SABtu KLIwon TUJuh NOVember..."
Guru : "Terus panggilanmu???"
Murid : "DEMIT Bu.... 😰"
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Telah berpulang ke rahmatullah Nyak Sandang sang patriot asal Desa Lhuet, Aceh Jaya, yang dikenal sebagai salah satu donatur pembelian pesawat pertama Indonesia, Seulawah RI-001 cikal bakal pesawat garuda indonesia.
Wafat 7 april usia 100 tahun.
Selamat jalan sang pasukan pengintai lepas pantai saat melawan penjajah.
Selamat jalan sang patriot.
💔
Prabowo
TAK PERNAH JADI DANDIM
TAK PERNAH JADI DANREM
TAK PERNAH JADI PANGDAM
Tidak pernah berada benar-benar dari bawah.
Ia tidak lahir dari jalur kewilayahan.
Tak pernah ditempa oleh ritme desa,
tak pernah membaca denyut rakyat dari meja Danramil, tak pernah menghirup bau keringat petani lewat lintasan Babinsa.
Ia asing pada bahasa sungai, buta pada logika hutan, dan tak pernah memahami wilayah sebagai ruang hidup—bukan sekadar batas administratif.
Bagi dirinya, kewilayahan hanyalah koordinat di slide presentasi.
Ia berbicara wilayah seperti turis berbicara kampung:
fasih istilah, miskin pemahaman.
Yang muncul bukan kepekaan ruang,
melainkan refleks kekuasaan.
Rakyat direduksi menjadi objek bantuan, bukan subjek pemulihan.
Ia mengalami gagap struktural:
pengalaman komandonya terputus dari realitas tanah, sungai, dan desa.
Tak heran, kebijakannya sering jatuh seperti sepatu bot di lumpur:
berat, bising, namun tak pernah benar-benar melangkah.
Namun perlu ditegaskan:
🔹️Ini bukan soal kepedulian personal.
🔹️Ini soal formasi mental.
Sejak awal, ia dibesarkan untuk menguasai, bukan memahami.
Wilayah tidak pernah tunduk pada mereka yang hanya mengenal peta
tanpa pernah menjejak tanah.
Pada akhirnya, ini bukan kritik emosional, melainkan evaluasi struktural atas kepemimpinan yang kehilangan rasa tanah.
Karena negeri ini tidak dibangun dari PowerPoint, melainkan dari lumpur, sungai, hutan, dan manusia yang hidup di dalamnya.
Dan siapa pun yang gagal memahami itu, akan selalu salah alamat—betapapun tinggi jabatannya.
:: WeKa ::
𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗟𝗲𝗹𝗮𝘆𝘂
Sampun tilar donya pagi ini di RS.Sardjito, Seniwati tradisi Yogya :
Ibu Sumisih Yuningsih (Yu Beruk)
Nderek Belasungkawa, Swargi Langgeng.
Dulu pertama kali mengapresiasi Ketoprak langsung nonton beliau, bahagiaku🥲