Good morning everyone.
Below is my latest macro view on Indonesia, originally prepared for my employer and published with permission for public discussion.
Indonesia remains one of Southeast Asia’s largest economies, but beneath the headline 5% GDP growth lies a far more fragile macro picture. The country is increasingly facing a triple deficit:
• Fiscal deficit: Debt-to-GDP remains relatively low, but debt servicing now consumes more than half of government revenue, leaving limited fiscal flexibility. The constitutional 3% fiscal deficit cap remains Indonesia’s most important macro anchor. Breaching it would severely damage policy credibility, weaken the rupiah, raise borrowing costs, increase the risk of sovereign rating downgrades, and potentially trigger capital flight.
• External deficit: The commodity-driven trade surplus is narrowing. Coal faces long-term structural pressure as renewables gradually displace thermal generation, while Chinese downstream investment is becoming increasingly selective amid rising policy uncertainty.
• Confidence deficit: Perhaps the most dangerous of all. Investors are increasingly questioning fiscal discipline, regulatory consistency, governance quality, banking independence, and policy predictability. Once confidence deteriorates, higher interest rates alone are unlikely to stabilize the currency.
Indonesia still possesses enormous strengths: a young population, abundant natural resources, and tremendous tourism potential. However, demographics alone cannot compensate for weak execution, declining education quality, a shrinking middle class, or an increasingly uncertain policy environment.
I would be happy to hear your views, challenge my assumptions, and discuss where Indonesia goes from here.
curhatan member AC soal timoti :
- Membungkus bisnisnya dengan istilah "akademi"
- agar terkesan resmi & berkualitas
- Pengajarnya dipanggil "Prof" meski sebenarnya bukan profesor
- hanya S2 di bidang ekonomi, bukan spesialisasi pasar keuangan
- Menjanjikan keuntungan hingga 90% atau ratusan persen
- larang diversifikasi ("cuma buat pengecut"),
- larang stop loss,
- suruh all-in di satu koin (terutama koin MANTA)
- Member harus bayar mahal untuk akses lifetime (disebut sekitar ratusan juta)
- Member disuruh "copy-paste" strategi tanpa diajari analisis mandiri,
- berlawanan dengan modul resmi yang sebenarnya ada materi risk management
- 600.000 lebih member terdaftar, sebagian besar (~90%) mengalami kerugian, bukan untung
- Ada korban rugi hingga miliaran rupiah, sampai jual rumah/mobil, cerai, bahkan ada yang disebut jadi "linglung"
Bagaimana cara mengalahkan IHSG yang turun terus sejak awal tahun?
Gampang
Bikin akun saham, diemin saja, nggak usah trading sama sekali. Otomatis you beat the market 😁
Di bear market, semakin kamu gatel pingin trading, semakin gampang modal terkuras
Kenapa?
Karena probabilitasnya tidak mendukungmu. Ibarat nekat menanam di musim paceklik. Boro-boro berbuah, benihnya juga susah tumbuh
Di dalam kondisi market tertentu, kadang inactivity lebih baik daripada activity
Ada beberapa cara menentukan TP (Target Profit) dalam trading:
1. Menggunakan posisi support & resistance
Posisi buy = TP di level resistance
Posisi sell = TP di level support
2. Menggunakan RRR (Risk Reward Ratio)
Hitung risknya (CL), untuk menentukan reward (TP)
Biasanya reward minimal 2 kali risk, bisa 3, 4, 5 dst
Misalnya CL -7% berarti TP minimal profit +14%
3. Menggunakan indikator
Misalnya ATR (Average True Range)
ATR mengukur seberapa jauh rata-rata pergerakan harga aset harian. Kita bisa menggunakan angka ATR sebagai target profit
4. Menggunakan tools
Misalnya Fibonacci Retracement
Tool ini membantu memproyeksikan sejauh mana harga berpotensi bergerak. Gunakan level-level di Fibonacci Retracement tsb sebagai target profit
Semoga bermanfaat 🙏
Ciri pasar saham yang tidak kondusif (cenderung downtrend/bearish):
1. Grup saham mulai sepi, tadinya rame banget. Satu persatu member mulai ilang, nggak aktif lagi
2. Member grup saham yang tersisa pada ribut satu sama lain. Full sensi
3. Sosmed sepi dari yang pamer profit
4. Sosmed mulai ada trader / investor curhat / stres / marah-marah
5. Guru saham mulai ilang. Mungkin lagi semedi "memperdalam" ilmu
6. Guru saham yang masih aktif lebih sering memberi motivasi daripada call saham
7. Yang jualan sinyal, kelas, grup vip lenyap tak berbekas
8. Ngga ada yang teriak "ARA kan ndar"
9. Ngga ada yang bilang "I TOLD U"
10. Banyak trader yang pensiun dini, tobat massal setelah "memperoleh pencerahan untuk menjadi investor"
Memang bearish market menyedot "semangat kehidupan" bagi banyak orang
Tahukah kamu kalau sekitar 74 persen saham DSSA dipegang institusi besar dan sekarang harganya cuma 800-an perak aja? Apalagi mereka baru bikin pusat riset AI! Yuk kita bedah saham Dian Swastatika Sentosa Tbk. Kira-kira raksasa energi ini layak dikoleksi gak nih?
prabowo lagi lagi di sorot media asing soal patriot bond:
- Indonesia buka pintu untuk uang kotor judul artikelnya
- Aturan kebal hukum ini lebih ekstrem dari tax amnesty Argentina, Italia, Rusia udah kayak kartel meksiko
- dan tidak ada batas waktunya
- Ini seperti kesepakatan permanen berkedok obligasi
- terlalu desperate tarik uang gelap
- pintu terbuka untuk kripto, kejahatan pasar modal, penggelapan pajak masuk ke kas negara
- Indonesia bisa masuk grey list FATF lagi, investor bagus justru kabur
- Purbaya coba tenangkan pasar
- tapi analis bilang: "Kalau data pembelian tidak bisa jadi bukti, jejak uang hilang"
- Dunia luar sudah melihat Indonesia sedang jual reputasinya demi tarik uang gelap masuk ke Danantara
5 Alasan Investor Asing Kabur dari IHSG dari podcast leon dengan rudiyanto:
- APBN boros MBG & program besar-besaran bikin defisit
- investor itu udah liat 5-10 tahun kedepan
- ada sesuatu yang gk nyaman invest di IHSG semenjak prabowo menjabat
- Rupiah melemah masuk untung, keluar rugi kurs
- Kebijakan tidak pasti & berubah-ubah
- Bobot Indonesia di MSCI anjlok dari 2% jadi 0,4%
- Komunikasi pemerintah buruk investor tidak percaya
- Bukan soal teknis pasar tapi soal kepercayaan yang hilang
- IHSG murah di mata lokal belum tentu murah di mata asing
Berdasarkan IDX, kepemilikan ETF pada saham Indonesia turun dari Rp 115 T pada Akhir April 2026 menjadi Rp 100 T pada akhir Mei 2026
Sebagian disebabkan karena harga turun, sebagian lagi karena ada penjualan
Saham apa saja yang masih dimiliki ETF di atas Rp 100 M ??
Analogi utk paham cara baca pengumuman MSCI
Market Accesibility Review 19 Juni 2026 — Medical Check Up
MSCI 23 Juni 2026 — Dokter menjelaskan cara baca hasil MCU dan vonis sehat atau perlu perawatan
Penentuan Emerging Market itu yang 23 Juni (24 Juni waktu Indonesia)
Intinya:
VanEck (Market Vectors) tanggal 12 Juni 2026 umumkan rebalancing Q2 2026 untuk GDX (Gold Miners ETF, AUM ~Rp435T) dan GDXJ (Junior Gold Miners ETF, AUM ~Rp135T)
Kabar bagusnya:
• ✅ Tidak ada satu pun saham emas Indonesia yang keluar dari kedua indeks
• ✅ Tidak ada saham baru yang masuk (semua emiten tambang emas-perak sudah terdaftar)
Penyesuaian bobot (yang paling penting):
Di GDX:
• AMMN: 0.48% → 0.53% (+0.05%) → estimasi inflow +Rp217M
• BRMS: 0.37% → 0.39% (+0.02%) → estimasi inflow +Rp87M
Di GDXJ:
• BRMS naik paling kencang: 0.67% → 0.74% (+0.07%) → +Rp94.5M
• EMAS turun tipis (-Rp13.5M)
• ARCI turun (-Rp27M)
• PSAB naik kecil (0.02% → 0.03%) → +Rp13.5M (ada koreksi di thread)
Total keseluruhan: Masih net inflow positif buat sektor tambang emas Indonesia, meski nilainya nggak triliunan. Nunjukin sentimen asing masih positif.
Bonus outlook:
• AMMN berpotensi masuk GDXJ di rebalancing September nanti.
• EMAS punya peluang naik ke GDX kalau harganya naik cukup tinggi.
Secara keseluruhan: Angin positif buat saham-saham emas Indo dari ETF global.
Bukan rekomendasi buy/sell/hold ya, cuma ringkasan fakta dari thread-nya. Have a nice day! 🪙
Apakah secara historis reversal dari bottom harus didukung foreign net inflow?
IHSG naik 7,6% Selasa dan 2,7% Rabu.
Asing? Masih net sell Rp 2,45 T dan Rp 3,13 T.
Banyak yang menyimpulkan Asing masih buang barang atau ini rally ini palsu.
Sounds logical.
Tapi premisnya layak diuji dengan data.
Apakah flow Asing/Domestik ini relevan dalam menentukan ini reversal atau bukan?
Saya backtest 4 crash terbesar IHSG: GFC 2008, Taper Tantrum 2013, koreksi 2015, dan COVID 2020.
Tiga dari empat reversal dimulai saat asing masih net sell.
Di 2013 dan 2015, kumulatif flow bahkan masih negatif di bulan keenam, padahal index sudah naik 15–16%.
Inflow besar baru datang di bulan ke-5 sampai ke-12, setelah recovery terbentuk.
COVID paling ekstrem: IHSG naik 56% dalam 12 bulan, dan sepanjang itu asing tetap kumulatif net sell sekitar Rp 27 T.
Asing baru berbalik net buy bulanan pertama kali November 2020, saat index sudah jauh di atas bottom.
Apakah ini berarti 8 Juni sudah pasti THE bottom?
Tidak ada yang bisa menjamin itu, termasuk saya.
Yang bisa dikatakan dengan jujur: rebound dua hari ini terjadi di atas turnover yang naik (Rp 21,7 T → 28,0 T → 31,7 T), breadth-nya lebar, dan absennya foreign inflow bukan alasan valid untuk mendiskreditkan rally, karena secara historis memang tidak pernah jadi prasyarat.
Satu catatan lagi yang jarang dibahas. Label "asing" di data bursa itu flag pada order broker, bukan beneficial ownership.
Dengan makin umumnya struktur nominee dan jasa "masking" kepemilikan.
Garis pemisah antara "real" foreign vs domestic makin kabur.
Watch the tape, not the nationality flag on it.
patut dicurigai permainannya:
pertama, stok batubara masih sangat melimpah, tapi stoknya sengaja diekspor ke luar negri.
kedua, hasil ekspor batubara mendatangkan banyak dollar ke dalam negri, akhirnya rupiah mulai menguat.
ketiga, pemerintah jadi pahlawan karena bisa mengatasi lemahnya rupiah.
kesimpulan, rakyat tetaplah jadi korban blackout, industri rumahan terganggu, dan ekonomi macet.
mafia tambang menang, yang kalah seluruh rakyat indonesia, dan embege akan masih jalan.
5.98% saham perusahaan ini dikuasai Saratoga. Non-komoditas, yield dividen 10%+
Salah satu koleksi potensial untuk para calon OKB baru yang tercipta dari market crash tahun ini?
Global investors?
Kayaknya cuma si Boubouras ini doang yg diwawancara dan bilang "Sell Indonesia."
Hedge fund? K2 is kind of local fund invests in stocks listed on the ASX, according to data from Bloomberg terminal. He manages a $178.3 mio fund, far from "about $4.3 bio."
Semua ambrol 😓
Investor menjual saham, obligasi, Bitcoin, dan emas pada hari Jumat setelah rilis data pekerjaan yang kuat. Hal ini diperkirakan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga Fed. Selain itu investor juga melepas saham berbasis AI
Indeks S&P500 turun -2,64%. Sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun 4,18%
Data NFP 172K, melampaui ekspektasi. Pasar tenaga kerja yang kuat diduga dapat menggeser fokus Fed untuk memprioritaskan inflasi, meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun ini
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga acuan pada bulan Desember sebesar 43%, naik dari 26% sebulan yang lalu
Berbagai aset lain juga anjlok tajam. Harga emas turun di 4300-an, Bitcoin mampir di 60 ribuan. Dollar AS menguat
Btw EIDO -6,34%
Dengan pasar saham dunia yang anjlok, plus sentimen dalam negeri yang kurang mendukung sepertinya minggu depan IHSG potensi koreksi lagi
Fasten your seatbelt