Yang paling melelahkan adalah masuk ke setiap ruangan dengan wajah yang tepat, nada yang tepat, dan respons yang tepat, sebelum orang lain sempat memutuskan apakah mereka bisa menerima versi mereka aslinya
Teruntuk adik-adikku, atau sesiapapun yang ingin berkuliah di luar negeri dengan beasiswa,
kalau kalian memang pintar dan punya potensi besar untuk dikembangkan dengan jalur pendidikan negara luar,
ada sedikit saran:
Berhubung negara ini dipenuhi orang-orang bermental kepiting, alangkah baiknya jangan ambil beasiswa dari LPDP.
Selain berat bebannya balas budi ke negara, belum lagi kondisi lapangan yang birokrasinya berantakan, kalian juga akan dipandang sebelah mata oleh sebagian rakyat pembayar pajak yang merasa berkontribusi besar untuk pendidikan kalian.
Carilah beasiswa lain atau beasiswa di negara tujuan. Tidak mudah memang, tapi itu lebih baik daripada harus menanggung beban berat, apalagi jika kontribusi tidak sesuai dengan pikiran mereka, akan dianggap kontribusi sampah.
Berat betul jadi penerima beasiswa di negara yang dari dulu masih berkembang.
Mereka berharap, orang yang kuliah keluar negeri, pulang-pulang bisa jadi Tony Stark atau setara BJ Habibie.
Padahal, mereka di sana ya, kuliah, belajar.
Bagaimana mereka bisa mengabdi penuh kalau setelah lulus dipaksa harus balik tanpa praktik langsung pada industri terkait? Dan praktik yang kumaksud di sini bukan sekadar magang beberapa bulan, tapi terjun dan menyelam sedalam-dalamnya agar bisa menguasai penuh ekosistem industrinya.
Kalau tuntutannya besar sih, kata aku mending kalian cari beasiswa lain saja.
Jangan pakai LPDP deh, yang ada stress duluan sama bebannya.
Hari ini kebetulan lagi libur kerja.
Aku ke pasar, minta dianter istri. Pengen makan masakan rumah.
Sampai di sana malah bingung mau beli apa.
Motor kuparkir tepat di depan tukang tahu kopong.
Entah kenapa, langkahku langsung berhenti.
Tiba-tiba ingatan itu datang.
“Mah… kan almarhum Bapak dulu waktu aku kecil paling suka sayur lodeh pakai tahu kopong. Tolong beli ya, Mah. Ayah pengen sayur lodeh yang kayak gitu.”
Kalimat yang sederhana.
Tapi rasanya menyesakkan.
Baru sekarang sadar, hal-hal kecil yang dulu kita anggap biasa saja, ternyata justru menjadi momen-momen terbesar dalam hidup kita.
Dan di dalam hati, cuma ada satu keinginan:
andaikan Bapak masih ada…
pengen banget ngajak beliau makan. Apa saja. Terserah beliau mau apa.
Karena ternyata, yang bikin rindu itu bukan makanannya.
Melainkan orang yang dulu duduk di meja rumah itu.
Waktu memang tak akan pernah kembali.
Sedetik pun tidak akan pernah kembali
Alfatihah Bapak ……..🙏🏻
@txtdarionlshop Itu biskuit hup seng dari kecil kami di kepri udah makan itu, beredar luas di supermarket sejak dulu, rasanya enak lemak, produk malaysia,
Berikut video analisa Dr. Dino Patti Djalal mengenai "9 Pelajaran Penting dari Tsunami 2004 utk Penanganan Banjir Sumatra". Silahkan disimak & bantu sebarkan kpd Pemerintah, aparat, publik, korban & keluarganya. Media boleh kutip freely. @prabowo@SBYudhoyono@fpcindo@BNPB_Indonesia #banjirsumatra
Akses ke sini sulitnya luar biasa, selama 5 hari warga Pantai Cermin, Tanjungpura, Kabupaten Langkat terkepung banjir. Belum ada bantuan yang sampai kesini. Allahu akbar, perjalanan kemarin ini dimudahkan.
Bapak yang terhormat, kalau mksd dan tujuan tweet ini untuk orang NU ya bilang aja BUDAYA NU, jangan di bumbui pakai Islam NUsantara, karena kami yang islam dan tinggal di nusantara ini tidak sudi jongkok-jongkok gitu hanya karena ingin menghormati org lain
Tahu tidak?
Membungkukkan badan ataupun berpose rukuk kpd manusia dlm rangka memberikan penghormatan, hukumnya HARAM!
Karena apa?
Karena sujud & rukuk adalah pose paling rendah & karenanya dikhususkan hanya utk Allaah ta'ala saja!
Wallaahu a'lam.
#YTTA
https://t.co/tpFnGCWotV
Dalam kasus SIM, jelas-jelas kpolisian menciptakan environment utk mempersulit ujian dan menyediakan cara mudah utk lulus. itu Fakta. Gak usah ditutup2i. Hampir semua teman saya yang pernah ujian sim mengeluh karena lebih dari 3x ujian tdk pernah lolos. Manusia tdak punya endurance tinggi utk hanya sekedar mencari sim. Maka mereka milih jalur cepat. Bukan kami yang salah, tapi sistem diciptakan utk membentuk kami menjadi bajingan sejak dini. Pun itu terjadi di kasus Haji ini. Semua dikondisikan agar antrian reguler tak punya pilihan, sehingga antrian 'direbut' by sistem, dg dalih tidak mencederai aturan. Jangan pernah husnuzon dg pemerintah, apalagi yg berlindung di intitusi agama. (yg seharusnya punya standar akhlak lebih tinggi dari lainnya). Itu perbuatan mungkar mas.