Essen, kota yang dulu jadi jantung industri batu bara Jerman, kini berubah total! Di lantai 22 Balai Kota, Stadtdirektor Peter Renzel bercerita bagaimana mereka menyulap kota penuh polusi jadi European Green Capital.
Beberapa hari lalu kami bertemu dengan pemerintah kota Essen dan lembaga pengelola air sungai Emscher. Kami berdiskusi soal Smart City mereka, mulai layanan digital, data geospasial, pengelolaan air, sampai kesehatan masyarakat. Transformasi Essen jadi bukti nyata bahwa perubahan besar itu mungkin kalau kita berani ambil langkah baru.
Banyak pelajaran soal ketahanan kota dan adaptasi iklim yang bisa kita bawa pulang untuk kota-kota di Indonesia. Jangan ragu belajar dari yang terbaik di seluruh dunia! 🇮🇩🫱🏼🫲🏻🇩🇪
Di twit saya di bawah ini, kok banyak banget yg tanya loker, bukannya tingkat pengangguran paling rendah sejak 1998? Kenapa masih banyak yg gelisah soal lapangan kerja? Mungkin ini penjelasannya…
Halo! Akhir pekan ini, insyaAllah kami akan berkunjung ke Jerman dan Belanda.
Di Jerman, kami akan berdialog di Universität Duisburg–Essen, membahas tentang pendidikan, kebangsaan, dan kiprah diaspora. Lalu berlanjut ke Belanda, berbagi gagasan di Wageningen University & Research dan University of Amsterdam tentang demokrasi, integritas, dan peran generasi muda.
Bagi teman-teman yang sedang berada di Jerman atau Belanda, mari bertemu dan berdiskusi langsung. Informasi waktu dan pendaftaran ada di poster masing-masing acara.
Sampai jumpa di sana!
Yang motoran lewat jembatan ini tiap hari, pasti jago ikut lomba trail.
Doakan ikhtiar renovasinya lancar ya, biar enggak perlu lagi uji nyali tiap musim hujan.
Banyak anak muda hari ini merasa seolah masa depan menutup pintu di depan mata mereka. IP-nya bagus, CV-nya rapi, semangatnya tinggi, tapi kesempatan itu tak kunjung datang.
Bayangkan rasanya, setiap pagi bangun dengan harapan baru, tapi setiap malam tidur dengan rasa gagal yang sama. Lama-lama bukan hanya lelah, tapi kehilangan arah. Mereka tahu ada yang tidak beres, bahwa sistem ini sering membuat mereka merasa kecil di negeri sendiri.
Anak muda tidak malas. Mereka sedang berjuang di dunia yang menutup ruang bagi mereka untuk tumbuh. Negara bisa memberi jalan. Kalau kita mau masa depan bangsa cerah, jangan biarkan anak muda terjebak dalam kegelapan pengangguran, karena setiap kesempatan kerja yang layak adalah investasi bagi seluruh negeri.
Alhamdulillah, buku Leadership XYZ akhirnya hadir. Buku yang kami tulis bertiga: Anies Baswedan, Dedi Wijaya, dan Sarah Ardiwinata. Buku ini lahir dari dialog tiga generasi (X, Y,Z) tentang hidup dan kepemimpinan. Setiap generasi membawa warna dan pengalamannya, tapi semua dipertemukan oleh satu tujuan: menghadirkan kepemimpinan yang memberi manfaat bagi sesama.
Sebelum di mimbar, kepemimpinan dimulai dari diri sendiri. Dari keberanian mengambil keputusan, dari kesediaan menanggung konsekuensi, hingga dari kemampuan menggerakkan banyak orang untuk berjalan bersama.
Semoga buku ini menjadi pengingat bahwa setiap kita punya peran. Mari membaca, merenungkan, dan melanjutkan estafet kepemimpinan agar jejak kebaikan terus berlanjut lintas generasi.
Usai meninjau jembatan di Kendal yang insyaAllah segera direnovasi, kami berkesempatan dijamu makan malam di rumah dinas Bupati Kendal. Terima kasih kepada Ibu Bupati Tika beserta keluarga—Pak Murdoko dan Mbak Nattaya—serta seluruh jajaran Pemkab Kendal yang telah menerima dengan hangat.
Apresiasi khusus atas kolaborasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Kendal, mulai dari jajaran teknis hingga Karang Taruna, yang bahkan ikut turun langsung saat survei kemarin. Semangat gotong royong ini membuktikan bahwa pembangunan tidak bisa dijalankan sendiri, melainkan dengan saling bahu-membahu.
Semoga kerja sama ini terus terjaga, dan setiap langkah kecil yang kita lakukan bersama menjadi jalan bagi masyarakat Kendal untuk lebih maju dan sejahtera.