Dulu khalifah Harun Al Rasyid pernah dipanggil2 sama orang yang dianggap “gila” dengan sebutan “gila”
Khalifah bukannya marah malah penasaran kenapa dia dipanggil gila sama orang tadi, akhirnya disamperin dah tuh
Beliau bertanya
“Kenapa kamu memanggil ku gila?”
Dijawab lah sama orang tadi
“Aku mengetahui bahwa istanamu tidak kekal, tapi kuburan itu kekal, itulah kenapa aku bilang begitu, kamu sibuk menyiapkan istana mu, tapi kamu melupakan kubur mu, kamu takut dipindahkan dari dunia yang fana (dunia) ke alam yang kekal (akhirat) padahal itu adalah hal yang pasti. Aku duduk diantara para kuburan itu, bertanya2 mana yang dulu orang yang mulia, mana orang yang dulu lemah, mana orang yang dulu kuat, mana orang yang dulu lemah, cacing tanah menghapus semua kesombongan, apakah kamu mendapatkan pelajarannya? Jadi sekarang siapa yang gila ya Harun?”
Khalifah menjawab:
“Sungguh semua kata2 mu benar”
Akhirnya karena nasehat itu khalifah ingin memberikan hadiah kepada orang tadi, ketika ditawarkan hadiah orang tadi bilang
“Aku punya 3 permintaan”
Khalifah bertanya “apa saja itu?”
“Yang pertama, tambahkan lah umur ku”
Khalifah menjawab “aku tak bisa”
“Yang kedua, lindungilah aku dari malaikat maut”
Khalifah menjawab “aku tak bisa”
“Yang ketiga, masukkan aku ke surga dan jauhkan aku dari neraka”
Kembali dijawab “aku tak bisa”
Lalu orang tadi tertawa dan bilang
“Maka sadarilah, engkau ini bukan ‘raja’ tapi seorang ‘hamba’”
selepas solat subuh bacalah
"Allohummaghfirli watub ‘alayya
innaka anta tawwabur rahim"
sebanyak 70X, InsyaAllah hajatmu, rezekimu, jodohmu, hutangmu, mase depanmu semua akan dipermudahkan
Aku ga pengen jadi pendendam ya Allah, tapi tolong semua rasa sakitnya diganti dengan kelancaran rezekiku, dimudahkan dan dilancarkannya segala urusanku, diikhlaskan hatiku dan dibahagiakan serta diberkahi kehidupanku ya Allah
"Kenapa kita butuh sholat 5 kali sehari?
Karena gak ada satu pun didunia ini yang rela bertemu denganmu lima kali sehari, dalam keadaan senang, sedih, susah, patah hati atau kuat, kecuali Allah."
Such a beautiful reminder.
Lagi overthinking tiba-tiba nemu kalimat cantik banget :
“Jika Tuhan begitu presisi mengatur miliaran bintang agar tidak bertabrakan, yakinlah Tuhan juga presisi dalam mengatur skenario hidupmu agar selamat sampai tujuan.”
Percayalah, Tuhanmu lebih ingin kamu selamat daripada kamu sendiri.
Kalau berdasarkan OPINI temanku yg pindah ke 🇯🇵 Jepang …
Tinggal & kerja di sana gak se-indah bayangan awal mereka.
😔 Budaya kerjanya disiplin & keras banget.
😕 Level profesionalisme & penguasaan skill yg dituntut jauh lebih tinggi & perfeksionis dibanding di Indo.
😥 Gaji entry-level bwt yg baru pindah pas2an.
Tapi kembali lg, dengan segala kesejahteraan yg ditawarkan:
☑️ Fasilitas publik. (udah terkenal banget misalnya dengan MRT/subway/Shinkansen)
☑️ Kesehatan kerja sangat diperhatikan walau berat. (temenku yg jadi kasir shift malam dikasih screening fisik & psikologis rutin bwt menghindari sakit)
☑️ Pengalaman budaya unik yg gak ada di negara lain. (Otaku sih dijamin gak mau pulang sekalinya udh mendarat)
Masih lebih enak hidup menderita di Jepang daripada hidup menderita sebagai WNI 😬
Jadi buat kalian yg lg mempertimbangkan, lgsg cek aja utasnya kak Samuel di bawah ini 👇
Imam al-Ghazali berkata:
“Selama seseorang hidup dalam keadaan aman, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu,
maka kesedihan dan kegelisahannya karena urusan dunia adalah tanda kekurangan dan kebodohannya.”
Artinya, jika seseorang sudah berada dalam keadaan aman, sehat, dan tercukupi kebutuhannya, tetapi masih larut dalam kesedihan karena urusan dunia, maka itu menunjukkan cara pandangnya yang keliru, ia lebih sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri nikmat yang sudah ada.
sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, bahwasanya setiap langkah perjalanan hidup kita, dengan siapa kita kenal, dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita berjodoh, dan kapan ajal kita tiba. jadi jangan khawatir dengan perjalanan hidup kita, nikmati semua prosesnya.
Saya coba masukin pertanyaan berikut ini ke ChatGPT: "Apa yang bisa dipelajari negara lain dari MBG di Indonesia?" , dan jawabannya begini:
"Kalau dilihat dingin, kasus MBG di Indonesia memberi satu pelajaran besar: program makan publik bisa gagal bukan karena niatnya salah, tapi karena cara menjalankannya keliru. Dan justru di situlah negara lain bisa belajar banyak.
Pertama, jangan memaksakan skala sebelum sistem siap. Program makan untuk anak itu sangat sensitif—soal higienitas, distribusi, dan kualitas. Begitu dipaksakan cepat dalam skala besar tanpa infrastruktur dapur, rantai pasok, dan pengawasan yang matang, risikonya langsung muncul: makanan tidak aman, kualitas turun, bahkan membahayakan. Negara lain perlu memastikan pilot project benar-benar solid sebelum diperluas.
Kedua, hindari “proyekisasi” program sosial. Ketika program pangan berubah jadi ajang penyerapan anggaran atau distribusi proyek ke berbagai aktor non-teknis, fokusnya bergeser dari gizi ke administrasi. Ini yang sering membuat standar dilonggarkan. Pelajarannya jelas: feeding program harus dipimpin oleh sistem profesional, bukan jejaring kepentingan.
Ketiga, keamanan pangan adalah fondasi, bukan tambahan. Kasus kontaminasi—apa pun bentuknya—menunjukkan bahwa standar dasar seperti sanitasi dapur, penyimpanan, dan distribusi belum dijaga ketat. Negara lain harus menempatkan food safety sebagai syarat mutlak sejak awal, lengkap dengan audit rutin dan sistem pelaporan terbuka.
Keempat, akuntabilitas tidak boleh berhenti di atas kertas. Jika penyedia bermasalah tetap berjalan tanpa konsekuensi berarti, itu menciptakan budaya impunitas. Negara lain bisa belajar untuk membangun sistem evaluasi yang benar-benar mengikat: ada sanksi, ada transparansi, dan ada perbaikan nyata—bukan sekadar laporan.
Kelima, libatkan keahlian, bukan sekadar otoritas. Program seperti ini butuh ahli gizi, kesehatan masyarakat, dan manajemen sistem pangan. Ketika keputusan diambil oleh pihak yang tidak punya kompetensi teknis, kualitas jadi taruhan. Ini pelajaran klasik tapi sering diabaikan.
Keenam, jangan abaikan suara penerima manfaat. Anak-anak yang mengeluh soal rasa atau kualitas bukan sekadar “rewel”—itu indikator penting bahwa program tidak berjalan baik. Negara lain perlu membangun mekanisme umpan balik yang benar-benar didengar dan ditindaklanjuti.
Pada akhirnya, pelajaran paling keras dari MBG adalah ini:
memberi makan anak dalam skala nasional bukan sekadar logistik—itu ujian integritas sistem negara.
Kalau sistemnya rapuh, yang muncul bukan hanya makanan buruk, tapi juga erosi kepercayaan publik. Dan itu jauh lebih sulit diperbaiki daripada sekadar memperbaiki menu."
Kamu mungkin ngerasa gak punya apa-apa. No privilege, no backing, no connection.
Tapi Allah punya cara dari arah yang gak kamu sangka, ngangkat kamu, dan mempertemukan kamu dengan orang-orang yang tepat, di waktu yang paling tepat juga.
Jadi tenang aja, yang kamu butuhin cukup percayakan sama Allah.