DULU MALAYSIA MURID KITA, SEKARANG KITA KETINGGALAN 25-35 TAHUN
KOK BISA?
Baca ini sampai selesai.
Karena ini bukan soal iri.
Ini soal introspeksi.
Tahun 1957.
Malaysia merdeka dari Inggris.
Saat itu, Malaysia masih sangat muda sebagai negara.
Infrastruktur belum matang.
Sumber daya manusia terbatas.
Dan tahukah Anda, ke mana mereka mengirim pelajar-pelajar terbaik mereka untuk belajar?
Ke Indonesia.
Bukan ke Eropa.
Bukan ke Amerika. Tapi ke Indonesia.
Indonesia yang merdeka 12 tahun lebih awal dari Malaysia. Indonesia yang pada era 1950-an dan 1960-an sudah punya Universitas Indonesia, ITB, UGM, dan IPB yang diakui sebagai universitas kelas Asia. Indonesia yang pada waktu itu punya profesor, dokter, insinyur, dan ilmuwan yang diakui dunia internasional.
Ratusan pelajar Malaysia dikirim ke Bandung, ke Yogyakarta, ke Jakarta, untuk belajar teknik, kedokteran, pertanian, hukum, dan ilmu sosial. Mereka tinggal di Indonesia, bergaul dengan rakyat Indonesia, belajar dari dosen-dosen Indonesia.
Bahkan bahasa Melayu modern yang digunakan di Malaysia hari ini memiliki akar dan pengaruh kuat dari Bahasa Indonesia.
Guru kita. Murid mereka.
SEKARANG, LIHAT ANGKA INI
Malaysia:
Rata-rata gaji Rp 12 sampai 14 juta per bulan
Bensin RON 95: Rp 8.500
Pajak mobil: Rp 400 ribu
Indonesia:
Rata-rata gaji Rp 3,29 juta per bulan
Bensin RON 92: Rp 16.250
Pajak mobil: Rp 4 juta
Biarkan angka ini berbicara sendiri.
Di Malaysia, orang bergaji empat kali lebih besar dari kita.
Tapi bensin mereka separuh harga kita. Pajak kendaraan mereka sepersepuluh dari kita.
Artinya daya beli rakyat Malaysia untuk kebutuhan transportasi sehari-hari jauh jauh lebih ringan dibanding rakyat Indonesia.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana murid bisa melampaui gurunya sejauh ini?
KENAPA MALAYSIA BISA MELESAT?
Pertama, mereka punya visi jangka panjang yang konsisten. Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia yang menjabat dari 1981 hingga 2003, membangun Wawasan 2020, sebuah cetak biru pembangunan nasional 40 tahun ke depan. Semua kabinet, semua birokrasi, semua BUMN, semua mengacu ke satu arah. Tidak berubah setiap ganti pemimpin.
Kedua, mereka investasi besar di pendidikan tanpa kompromi. Petronas, perusahaan minyak negara Malaysia, bukan hanya menghasilkan uang. Petronas membiayai ribuan beasiswa mahasiswa Malaysia ke universitas-universitas terbaik dunia: Oxford, Cambridge, MIT, Imperial College, hingga Universiti Teknologi Petronas yang mereka bangun sendiri. Hasilnya adalah generasi eksekutif, insinyur, dan ilmuwan berkaliber dunia yang kembali membangun negerinya.
Ketiga, Petronas dikelola dengan disiplin dan jauh dari jangkauan politik partisan. Pendapatannya diinvestasikan kembali ke rakyat melalui subsidi BBM yang kuat, infrastruktur, dan pendidikan. Di Indonesia? Pertamina yang jauh lebih besar dari Petronas justru bertahun-tahun menjadi ladang politik dan korupsi.
Keempat, Malaysia membuka diri pada investasi asing secara strategis. Proton boleh jadi tertinggal, tapi kawasan industri di Penang, Johor, dan Selangor menjadi magnet manufaktur elektronik global. Intel, AMD, Infineon, dan ratusan perusahaan teknologi kelas dunia membangun pabrik di Malaysia. Hasilnya adalah lapangan kerja berkualitas tinggi dengan upah yang sepadan.
Kelima, reformasi birokrasi mereka lebih cepat dan lebih tuntas. Korupsi ada di mana-mana, termasuk di Malaysia, tapi eksekusi proyek infrastruktur, izin usaha, dan kepastian hukum untuk investor di Malaysia secara konsisten lebih baik dari Indonesia selama puluhan tahun.
INDONESIA TERTINGGAL BERAPA TAHUN?
Ini pertanyaan yang menyakitkan tapi wajib dijawab.
Dalam hal pendapatan per kapita, Malaysia saat ini berada di kisaran USD 13.000 sampai 15.000 per tahun. Indonesia masih di kisaran USD 4.500 sampai 5.000. Selisihnya tiga kali lipat lebih.
Para ekonom menyebut Indonesia setidaknya tertinggal 25 sampai 35 tahun dari Malaysia dalam hal kesejahteraan rakyat dan kualitas hidup rata-rata.
@Beritasatu Dan semua orang bisa menilai; lain x pejabatnya yg cerdas, zaman sekarang jejak digital susah dihilangkan, jd kalo memberikan pembelaan setidaknya dipikirkan dengan cermat, biar tidak menunjukkan kebodohan ganda.
@regar_op0sisi Ini playing victim, sdh ada penjelasan dari tt rw kepling setempat, kebetulan saya orang medan. Dan yg dipagar memang adalah hak perusaan tersebut dan bukan akses utama pemilik rumah dlm video, melainkan pintu samping yang dulunya adalah tanah kosong.
@siklopgoldlen Yg apel itu bukan apel sebenarnya tapi properti dekorasi dan pajangan, soalnya kami pernah pakai. Sedangkan durian dicelup obat jamur bukan kimia pemgawet atau pewarna.
@TwineBrother@sluttierrxbow Iya, baunya low budget, lol. Tp sekali lg ini tentang selera, lbh wangi enchanted purple. Tp aku semprot hanya utk pakaian, soalnya parfum murah kadang punya after effect bau di keringat kita.