Warga Cimahi, drop jualan doang untuk acara kantor tiap bulan, sudah buntu ini makanan nya apa lagi, tiap bulan itu lagi itu lagi, kali aja banyak pilihan, ada yang nyangkut 🙏🏻
Sedih banget abis interview di tempat kerja temenku, seminggu kemudian Psikotest, ngga ada kabar lagi, tau nya gugur 🥹🥹🥹🥹
Bener bener sedih banget, bener bener berharap bisa kerja.
5 fitur. Semua gratis.
Semua udah ada di HP Bapak.
Vehicle Motion Cues = anak gak mual di mobil.
Live Listen = baby monitor gratis.
Screen Time = Family Media Plan.
Medical ID = darurat aman.
Shared Notes = dashboard rumah tangga.
Kadang solusi terbaik
bukan beli alat baru.
Tapi buka Settings yang gak pernah dibuka.
SAVE thread ini.
Kirim ke pasangan.
@jurnalsibapak
Gendra Wangsapati memimpin pasukan mayatnya menyisir desa dari arah utara, menuju tempat Dirga tergeletak. Sejauh ini, tak ada yang menghalangi. Semua orang telah terseret ke kekacauan di tempat lain.
Namun semakin dalam mereka memasuki sisi utara desa, sesuatu mulai berubah.
Satu mayat berhenti.
Ia… jatuh begitu saja. Tanpa perlawanan. Tanpa dramatisasi. Seperti lampu yang dipadamkan.
Gendra berhenti. Matanya menoleh pada tubuh yang kini tergeletak tak bernyawa.
Lalu satu lagi jatuh. Dan satu lagi.
Satu per satu, tanpa suara, tanpa perlawanan..mayat-mayat hidup yang selama ini ia kumpulkan dan pertahankan bertahun-tahun… tumbang di jalanan desa.
Seperti buah yang gugur saat angin yang tepat datang.
Gendra berdiri di antara mereka, matanya bergerak cepat membaca keadaan.
Dan ia merasakannya.
Rajah.
Goresan-goresan aksara tersembunyi di bawah tanah. Disisipkan di sela batu-batu yang tampak biasa. Diukir samar pada kayu pagar tua. Ratusan rajah kecil, tak mencolok, tak terasa dari jauh.
Namun begitu masuk ke dalam lingkarannya, begitu sudah berada di dalamnya…
tak ada jalan untuk menghindar.
Di antara semua makhluk malam itu, yang paling rentan terhadap rajah adalah mayat yang dipaksa hidup kembali mayat yang hanya meminjam nyawa, bukan memilikinya.
Dan seseorang telah mempelajari itu dengan sangat baik.
“Keluar kau!” geram Gendra.
Seorang pria muncul dari atap rumah. Rambutnya panjang, diikat ke belakang. Wajahnya menyimpan amarah yang dalam.
Tegar.
Ia melompat turun, menutupi sebagian wajahnya dengan rambutnya. Ia mendarat di antara tubuh-tubuh yang kini kembali mati.
“Wangsapati…” gumamnya, mengepalkan tangan. “Kau harus membayar kematian orang tuaku… dan warga desa ini.”
Meski siap bertarung mati-matian, Tegar sada, ia belum boleh membuka dirinya sepenuhnya. Trah Wangsapati bukan hanya Gendra.
Masih ada mayat-mayat keramat lain. Masih ada tulah yang pernah menghancurkan desanya.
Ia tak boleh mati di sini.
“Rajah Pemulang Roh,” ucapnya datar. “Untuk memastikan yang mati… tetap mati.”
Gendra menatapnya tajam.
“Kau yang memasangnya.”
Tegar tak menjawab. Ia tetap menggoreskan kuas di tangannya, menambahkan rajah di tanah.
Gendra melirik mayat-mayat di sekelilingnya. Ekspresinya sulit dibaca.
“Kau tidak bisa menghentikanku.”
“Aku tahu.” Tegar menyimpan kainnya. “Rajah ini hanya menahan mayat biasa. Bukan kekuatan dari tanah keramat. Bukan perwujudan Patiwongso yang melekat padamu.”
Gendra mengerutkan dahi.
“Kau tahu batas ilmumu.”
Ia tidak gegabah. Orang yang memahami batas dirinya dan lawannya, ibukan lawan yang bisa diremehkan.
“Aku mau mayatnya, Kyai Pranggas,” perintah Gendra.
Sosok mayat keramat itu bergerak. Haus nyawa.
Ia melesat ke arah Tegar, namun saat mencapai tempat itu…
Tegar menghilang.
“Aku bukan datang untuk menghadapi mayat itu…” suara Tegar muncul dari sisi lain.
Gendra diam, menunggu.
“Keluarkan mayat dan keranda itu!” suara Tegar kembali terdengar. “Mayat yang kalian arak untuk membantai satu desa, bawa ke hadapanku!”
Gendra tersenyum tipis.
Kyai Pranggas mengangkat tangan ke arah bayangan yang bergerak. Mereka menangkap posisi Tegar.
“HAHAHAHA! Rupanya… urusanmu lebih dari sekadar pertarungan ini.”
Sraaaak!
Tubuh Tegar tiba-tiba terseret oleh kekuatan hitam dari telapak tangan Kyai Pranggas. Ia berusaha bertahan, mencengkeram tiang rumah.
”Manusia sepertimu hanya serangga di tangan Kyai Pranggas,” ucap Gendra. Dengan satu isyarat, Kyai Pranggas menggerakkan tangannya, dan…
Namun—Craatt!!
Tangannya terputus.
Tubuhnya terhisap. Terangkat. Dicekik oleh cengkeraman makhluk itu.
Darah menetes. Tubuhnya meronta.
“Kau hanya manusia biasa,” ucap Gendra dingin.
Dalam satu gerakan singkat, Kyai Pranggas meremas leher Tegar hingga terdengar bunyi retak yang mengerikan. Tulang itu patah tanpa ampun, dan tubuh Tegar seketika melemas di dalam cengkeraman makhluk tersebut.
“Jangan pernah memandang tinggi dirimu di hadapan Wangsapati.”
Belum berhenti di situ, cengkeraman Kyai Pranggas berpindah ke kepala Tegar. Jari-jarinya yang kaku namun kuat menekan tengkorak itu perlahan, lalu semakin keras, hingga akhirnya pecah.
Darah muncrat, mengotori tangan dan tubuh makhluk itu, sementara tubuh Tegar benar-benar tak lagi bergerak.
Namun di saat yang sama…
“Memangnya kenapa… kalau aku manusia biasa?”
Suara itu muncul dari arah lain.
Tenang. Jelas. Hidup.
Senyum di wajah Gendra menghilang seketika. Ia menoleh perlahan, lalu kembali melirik tubuh yang masih berada di tangan Kyai Pranggas.
Sebuah rajah menyala dari dalam tubuh yang baru saja dihancurkan itu.
Cahaya tipis merambat di bawah kulitnya, membentuk pola-pola yang tidak seharusnya ada pada tubuh mati. Dalam hitungan detik, wujud itu berubah, bukan lagi Tegar.
Hanya salah satu mayat yang sebelumnya dikendalikan oleh Gendra.
“Aku tidak mungkin meremehkan pembunuh orang tuaku…”
Suara Tegar kini terdengar lebih jelas, datang dari tempat lain yang tidak langsung terlihat.
Belum sempat Gendra bereaksi,
mayat di tangan Kyai Pranggas tiba-tiba menyala.
Api menyembur dari dalam tubuh itu, membakar dengan cepat dan ganas. Bukan api biasa, panasnya terasa berbeda, seolah mampu melahap bukan hanya daging, tapi juga sisa-sisa energi yang menempel pada jasad tersebut.
Kyai Pranggas refleks melempar tubuh itu menjauh. Mayat yang terbakar itu jatuh dan hancur menjadi abu di tanah.
Namun api itu tidak padam.
Ia menjalar di tangan Kyai Pranggas, membakar kulit keringnya tanpa henti, seperti sesuatu yang hidup dan menolak untuk dilepaskan.
“Rasakan itu!” teriak Tegar. “Sekarang katakan! Di mana mayat itu?!”
Gendra terdiam sejenak. Lalu terdengar tawa kecil yang tertahan di tenggorokannya.
“Haha…”
Tawa itu pecah.
“HAHAHAHA!”
Ia menatap ke arah datangnya suara Tegar, matanya menyipit, seolah akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.
“Kau… Yudaprana,” ucapnya pelan, namun penuh penekanan. “Jadi orang-orang tua bodoh itu gagal menghabisi kalian semua…”
Tawanya kembali meledak, kali ini lebih liar, lebih tidak terkendali.
Di sisi lain, api di tangan Kyai Pranggas semakin membesar, menjilat hingga ke lengan.
PRELOVED !!!! ❤️
Guys mau jual Sepeda Anakku Merk Parklon, masih Lengkap, Masih Bagus banget, dijual karna anak nya udah tinggi, pengen ganti sepeda, yuk di beli yuk 🥹
#parklon#preloved#padalarang
Ini Promptnya ya
”Berdasarkan telapak tanganku, aku ingin kamu membuat panduan lengkap tentang seni membaca telapak tangan. Analisis telapak tanganku; gaya panduannya harus rapi dan minimalis, dengan garis-garis tipis, bentuk yang membulat, dan secara keseluruhan terlihat mewah.
Fokuslah pada seni membaca telapak tangan; buatlah kontur sederhana berwarna hitam di atas latar putih untuk garis-garis utamaku, sebagai karya seni kecil. Lakukan yang terbaik ”
Sedih banget abis interview di tempat kerja temenku, seminggu kemudian Psikotest, ngga ada kabar lagi, tau nya gugur 🥹🥹🥹🥹
Bener bener sedih banget, bener bener berharap bisa kerja.
Bismillah,
Halooo, mau coba jualan di X siapa tau ada yang mau jajan 😁
Kita punya best seller di Spring Roll Tuna Mayo & Ayam.
📍Bandung Barat (deket Kantor Bupati)
Tersedia juga di Shopeefood, Gofood & Grabfood, nama nya DNS FOOD.
@KomunitasMurah#springrolls#bandungbarat