Jangan kau tangisi kehilangan dunia, karena ia bukan tempat tinggal. Tangisilah waktumu yang hilang tanpa mengingat Allah. Sebab disanalah letak kerugian sejati."
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
حين تظن أن الأمل انتهى، تذكّر أن الله قادر على تغيير كل شيء في لحظة. فلا تيأس…!
Saat kamu merasa harapan telah sirna, ingatlah bahwa Allah mampu mengubah segalanya dalam sekejap. Maka Janganlah putus asa…
Sibuk saja mengumpulkan dan berbangga diri, padahal tak menggunakannya di dunia
dan berat hisab di akhirat.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Berbangga-bangga dalam memperbanyak dunia telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)
#AaGymNote
Biarkan para penzalim dihancurkan para penzalim lainnya. Kita perbanyak Shalawat Asyghil saja…
“Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad
Wa asyghilizh zhalimin bizh zhalimin
Wa akhrijna min bainihim salimin
Wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in
Duhai Allah sampaikan shalawat (dan salam) kepada Sayyidina Muhammad. Sibukkanlah para penzalim (agar mendapatkan kejahatan) dari penzalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. (Dan sampaikanlah shalawat dan salam kami) kepada keluarga (Sayyidina Muhammad) dan sahabatnya.”
Ledakan wereng itu bukan kebetulan,
tapi akumulasi dari cara kita memperlakukan sawah.
Saat nitrogen berlebih kita berikan,
saat tanam tidak serempak kita lakukan,dan saat pestisida kita pakai tanpa kendali.
Di situlah kita sedang “mengundang” wereng datang.
Wereng tidak tiba-tiba jadi musuh.
Kitalah yang tanpa sadar menciptakan kondisi terbaik untuknya berkembang.
Ingat…
Pertanian bukan sekadar produksi,
tapi tentang menjaga keseimbangan kehidupan di dalamnya.
Kalau ekosistem sehat,
hama pun akan terkendali dengan sendirinya.
Semoga Bernanfaat..🙏
Kunjungan Tim Agrinas ke Kopdes di NTT membuka mata:
1️⃣ Karyawan Kopdes cuma gotong royong tanpa gaji, hanya manajernya yg dibayar Agrinas.
2️⃣ 400 KK di Desa tersebut diminta belanja Rp1 juta/bulan, agar omset Kopdes Rp400 juta/bulan.
Inilah program yg membebani warga desa.
لا تُكثر من الشكوى فيأتيك الهمّ، ولكن أكثِر من الحمد تأتيك السعادة.
Jangan terlalu banyak mengeluh karena akan menjadi kekhawatiran yang berlebihan; sebaliknya, bersyukurlah, maka kebahagiaan pun akan datang kepadamu.”
— Sayyidina Ali bin abi Thalib
*بسم الله..........*
"Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan di hisab pada hari kiamat adalah Shalatnya.
Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi."
(HR. Abu Daud).
#pengingatdiri
3 Enzim Teman Petani: Mudah Didapat dari Sekitar
Sering membuat kompos atau POC kan?
Saya kira setiap petani pasti sangat akrab dengan 2 kerjaan ini, yakni membuat kompos, dan membuat pupuk cair untuk menyuburkan tanaman.
Dua-duanya prosesnya sama, namanya dekomposisi atau penguraian.
Masalahnya, penguraian alami itu lama. Jerami itu, kalau dibiarkan begitu saja, 4 bulan belum hancur.
POC juga begitu, sudah 2 bulan masih bisa saja berbau busuk.
Sebab itulah, biar cepat, kita butuh alat percepatannya, atau semacam mesin pemotongnya. Nah, pemotong itu namanya enzim.
Ya, sebelum memasuki pembahasan yang lebih rumit, kita tuntaskan dulu pelan2 pembahasan yang dasar2, yakni enzim.
Apa itu enzim? Bedanya dengan bakteri atau jamur apa?
Cuuuusss....
#literasipertanian #enzim #dekomposisi
Ilustrasi AI
Mengubah Serasah Daun Jadi Kompos Mahal
Sudah biasa bikin media tanam dari sampah daun? Atau biasanya beli di toko tanaman?
Nah, kan banyak tuh biasanya serasah daun berguguran di halaman atau di jalanan. Kadang hanya disapu, lalu dibakar biar bersih.
Sayang sekali sebenarnya. Padahal, itu bisa sangat berharga. Paling minimal, kita tak perlu lagi membeli media tanam yang mahal kalau mau menanam di pot atau langsung di tanah pekarangan.
Bisa juga kita bikin kompos layaknya kohe untuk ditebar di sawah. Untuk jangka panjang, bahkan manfaatnya lebih bagus daripada kohe.
Caranya? Sangat amat mudah. Begini.
#literasipertanian #mediatanam #kompos
Ilustrasi AI
Membaca jejak tikus (jalur aktif) adalah kunci utama agar umpan atau perangkap yg kita pasang tdk sia-sia. Tikus adalah hewan yg punya kebiasaan (makhluk kebiasaan), mereka hampir selalu melewati rute yg sama setiap malam utk mencari makan.
Strategi Pemasangan Umpan di Jalur Tikus
Pasang Tepat di Sisi Jalur: Jangan menaruh umpan persis di tengah jalan secara mencolok jika menggunakan jebakan mekanis, karena tikus bisa curiga (neofobia). Letakkan di sepanjang dinding, galengan/pematang, atau rute tersembunyi yg mereka lalui.
Gunakan "Umpan Tanpa Racun" Dulu (Pre-baiting) Ini trik rahasia para petani sukses. Selama 1–2 hari pertama, pasang umpan biasa yg enak (misal : ikan asin, kelapa bakar, atau jagung) tanpa racun di jalur tsb. Biarkan tikus merasa aman dan mengira itu adalah sumber makanan baru yg legal. Setelah mereka lahap, baru campurkan racun di hari berikutnya.
Samarkan Bau Manusia : Tikus punya indra penciuman yg sangat tajam. Saat menyiapkan dan memasang umpan, wajib gunakan sarung tangan. Jika umpan berbau keringat atau tangan manusia, tikus sering kali enggan mendekat.
Catatan Penting :
Jika jalur tsb mengarah ke area luar atau semak-semak, cobalah urut terus sampai menemukan lubang aktifnya. Menaruh umpan atau jebakan di dekat pintu keluar lubang mereka sering kali memberikan hasil yg jauh lebih cepat dan mematikan.
Strategi membaca jejak ini jauh lebih efektif daripada sekadar menebar umpan secara acak di tengah sawah atau ruangan. Selamat mempraktikkannya, semoga pembasmian hamanya sukses bersih.
Semoga Bermanfaat...🙏
#tipspasangumpantikus
Pertanian Alami Itu Bukan Pertanian Organik
Ada yang sudah mencoba atau menjalankan pertanian alami?
Ya, pertanian alami, bukan bukan pertanian organik.
Pertanian alami dengan organik sering dianggap kembar. Sama-sama “anti kimia”, sama-sama “ramah lingkungan”. Padahal filosofi, praktik, dan tujuan akhirnya beda jauh.
Menyamakan keduanya ibarat menyamakan aquarium aquascape dengan danau, atau dokter dengan tabib. Kok bisa?
Utas
#literasipertanian #pertanianalami #pertanianorganik
Fase Awal (Bibit & Anakan)
Tanam bibit muda 12–16 hari, bukan 25 hari.
Hanya 2–3 bibit per lubang + jarak yang cukup (20×20 atau Legowo).
Kasih Nitrogen di hari ke-7–10, bukan nunggu kuning.
Pakai sistem macak-macak, bukan genang terus.
Hasilnya? Anakan produktif bisa 18–25 per rumpun. Bukan cuma banyak, tapi kuat.
Bakar Jerami: Subur Sesaat, Tagihannya Panjang
Sering lihat petani membakar jerami sisa panennya di sawah? Mengapa mereka melakukan itu?
Saya pernah bertanya (protes, tapi dalam hati) pada beberapa tetangga sawah yang melakukan itu. Jawabnya mengejutkan.
"Kalau habis dibakar, tanaman berikutnya tumbuh subur kok nyatanya. Kalau langsung dibajak malah kurang bagus tanamannya. Bisa asem-aseman".
Yang lain juga sama. Membenarkan. Loh? Kok bisa? Jangan2 dia benar, dan saya yang salah. Bagaimana ini?
Utas
#literasipertanian #unsurhara #kimiatanah #biologitanah #ekologi
HASIL PANEN PADI ITU BUKAN DITENTUKAN DI AKHIR.
Banyak yg baru “serius” saat padi mulai bunting.
Padahal… saat itu kita cuma bisa memperbaiki, bukan menentukan.
Fakta di lapangan
Hasil panen sudah mulai ditentukan sejak awal tanam.
Mulai dari :
kondisi tanah
kekuatan perakaran
keseimbangan hara
manajemen air
Semua itu jadi fondasi.
Kalau fondasinya kuat, tanaman akan jalan sendiri dgn lebih stabil.
Kalau dari awal sudah salah… sebaik apapun perlakuan di akhir, hasilnya tetap terbatas.
Jangan tunggu fase akhir utk berharap hasil maksimal.
Karena panen itu…
bukan keajaiban di akhir,
tapi akumulasi keputusan sejak awal.
— RAyAD
Halo teman2. Sudah sarapan? Kira2 dari pertanian jenis apa sarapanmu kali ini?
Mari kita bandingkan Pertanian Konvensional vs Organik vs Alami supaya lebih paham mana yang lebih baik untuk kesehatan, lingkungan, dan kantong kita.