beredar surat tentang kegilaan cara kerja kopdes :
- Barang datang , dikordinasikan Babinsa, bukan pengurus Kopdes
- Barang dijual, oleh pegawai Agrinas yang ditempatkan di gerai
- Uang hasil jual, diambil PIC Agrinas setiap 2 hari, bukan ke pengurus
- UMKM lokal jualan, tapi bayarannya nunggu Agrinas, kapan tidak jelas dan tidak di kasih sampe hari ini
- Pengurus Kopdes, tidak dilibatkan sama sekali dalam rantai manapun
- Yang punya kontrol, Agrinas + Babinsa/Kodim
- Kopdes bukan milik desa nama desa dipinjam,
- tapi kendali penuh ada di Agrinas & militer.
- Pengurus hanya jadi pajangan
Kalian sadar gk ?
banyak daerah yg udah mulai demo tapi gk disiarkan media
Daerah yg sudah mulai Demo:
- Jakarta (Cikini Raya & Badan Gizi Nasional)
- Bandung (DPRD Jabar)
- Medan (Lapangan Merdeka)
- Kendari (Bundaran Tank)
- Semarang
Katanya mulai merembet ke Sulawesi & Sumatera juga 💀
Ya Allah ... kenapasi info2 gini lewatnya malah dari media luar 😭😭😭 yang di sukabumi stay safe, semoga lekas surut. Lihat di media lokal sampai hari ini masih tinggi airnya 😭💔
BREAKING: media Jepang menyebut pemerintah Indonesia memakai buzzer untuk membungkam publik dengan cara menuduh warga yang kritis sebagai "antek-antek asing"
---
Antek-antek asing mendunia guys.
Saya dari kecil gak ada yang melarang “Jangan nakal, jangan coret-coret…” (Karena ortu tidak ada).
Yang bikin survival mode itu bukan karena anak sering dilarang-larang, tapi karena gak punya backup.
Anak orang kaya juga sering dilarang sama ibuknya pas main. Coba dia main di comberan, atau hujan2an. Ibu kaya punya standar tinggi terhadap anaknya, jadi aturannya malah lebih ketat.
Bedanya anak orang kaya punya backup pas mau coba ini itu saat gede. Makanya ada bocil dengan pede bilang “enakan jadi perintis.”
Ya karena dia punya backup jika gagal.
Kita kalau gagal ya hancur lebur. Mulai dari nol besar. Ngumpulin modal aja harus menyisihkan gaji UMR.
Anak orang kaya mah modal tinggal pinjam papa. Misal pun pinjam di bank, gak takut gagal bayar karena mindsetnya selalu ada percobaan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya tergantung sekaya apa keluarganya.
Bagi anak orang kaya, uang itu cuman seperti token/kredit di sebuah game.
Singapura dan Malaysia menolak keras ide Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang akan memajaki kapal-kapal yang melewati Selat Malaka.
Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa Selat Malaka harus tetap bebas dan terbuka. Ia menambahkan, tidak boleh ada satu negara pun yang akan membatasi navigasi atau mengenakan biaya baru pada kapal yang menggunakan rute tersebut. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pun memastikan bahwa setiap keputusan yang berkaitan dengan Selat Malaka tidak dapat dibuat secara sepihak.
Sementara itu, Jubir Kemlu RI Yvonne Mewengkang memastikan seluruh kebijakan pemerintah terkait Selat Malaka akan sejalan dengan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Sebelumnya, Purbaya melihat potensi penerapan pajak bagi kapal yang melintas di Selat Malaka. Kebijakan tersebut seperti yang dilakukan Iran di Selat Hormuz. “Dan seperti arahan presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran, kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia,” katanya di acara Simposium PT SMI, di Hotel Ayana, Jakarta, Rabu (22/4).
Purbaya menyebut, jika skema di Selat Hormuz diterapkan di Selat Malaka, Indonesia bisa memperoleh tambahan pemasukan yang cukup besar. Pendapatan itu bisa dibagi untuk tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura.
📸: Dok. Shutterstock.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
📝: bisnisupdate | update | bisnis | oneliner | R074 | R029 | E093
#bicarafaktalewatberita #kumparan
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe