Di kantor gw ada satu aturan yang paling sering diprotes anak baru.
Semua wajib manggil rekan kerjanya pak atau bu. Mau baru lulus kuliah pun wajib dipanggil pak atau bu.
Tau gak kenapa? Penting loh ini.
Kalau ada yg tanya alasannya, HRD gw selalu bilang, “Biar saling menghormati dan menghargai.”
Tapi sebenarnya bukan itu, ada drama dibalik aturan kaku ini.
Dulu waktu gw masih kerja sama orang, ada manajer baru. Sebut saja namanya Juwita. Dia ini bu manajer yang cantik, pintar, kerjanya sat set, dan baru lulus kuliah.
Manajer, baru lulus, kok bisa? Bisa. Soalnya dia anak owner. 😆
Dia manggil semua orang dengan sapaan mas atau mbak, nggak peduli umur atau jabatannya. Memang budaya kantor di sana begitu.
Ya nggak ada yang salah juga. Lagian banyak kok cowok umur 50-an yg lebih senang dipanggil mas daripada om. Gw sering dengar sendiri,
“Jangan panggil saya om, dek. Panggil mas aja.” gitu kira-kira.
Dalam perjalanannya, Juwita terkenal sebagai bos tsundere. Galak dan dingin pas jam kerja, tapi kalau lagi ngobrol berdua atau lagi nyemangatin tim bisa ramah banget. Banyak karyawan cowok, baik yg masih single maupun yg udah punya buntut di rumah, mengidolakan dia.
Efeknya, yg rajin jadi makin rajin, yg sering datang telat mulai datang kepagian.
Sampai suatu siang, pas jam istirahat, tiba-tiba ada cewek datang ke kantor ngamuk-ngamuk kayak sapi kurban lepas.
“Mana itu lontay yg namanya Juwita?! Keluarin sini! Berani-beraninya gangguin lakik gw! Dasar cewek gatel! Gw garukin aja sini!”
Lobby langsung heboh. Orang warehouse pada keluar, anak-anak kantor pada langsung ngumpul di lobby.
Untungnya HRD cepat turun tangan. Setelah dibujuk beberapa menit, cewek itu akhirnya mau masuk ke ruang meeting. Juwita juga dipanggil masuk. Sekantor langsung gosip kanan-kiri.
Rupanya cewek yg ngamuk itu adalah istri dari salah satu bawahan Juwita. Sebut aja namanya Adi. Kebetulan hari itu Adi nggak masuk kerja. Memang orangnya udah lama bermasalah performancenya, jadi satu tim udah sering kesel.
Istrinya cerita, Adi hampir tiap malam nongkrong sama teman-teman kantornya. Belakangan obrolannya sering tentang “mbak Juwita”, anak baru yg cantik. Ya nggak usah gw jelasin lah isinya gosip laki-laki kalau lagi ngomongin cewek. Lucunya, istrinya sering ikut dengerin.
Nah, kebetulan pas hari itu Adi nggak masuk, jadi Juwita berkali-kali WA dan telepon.
“Mas Adi, di mana?”
“Mas, yg kamu janjiin kemarin itu mana?”
“Mas, aku tuh nggak bisa kamu gini terus. Kita perlu ngomong.”
😅
Masalahnya, Adi punya dua HP. Satu buat kerjaan, satu lagi buat pribadi. Hari itu HP kerjaannya ketinggalan di rumah, kelihatannya emang udah niat bolos. Jadinya semua chat itu dibaca istrinya lewat notifikasi.
Ya udah…
Lakinya tiap malam ngomongin cewek cantik bernama Juwita. Tiba-tiba muncul chat dari “Juwita” isinya begitu.
Ngamuklah dia.
Dia sama sekali nggak tahu kalau Juwita itu ternyata atasan suaminya.
Walaupun akhirnya istrinya minta maaf berkali-kali, Juwita melihat ini sebagai kesempatan bagus buat ganti pemain. Adi pun kena tindakan tegas terukur.
Alias PHK.
Jadi sejak punya perusahaan sendiri, gw bikin aturan sederhana.
Semua wajib panggil pak atau bu. Gw cuma males kalau ada suami pulang ke rumah, terus istrinya baca chat dari teamnya:
“Mas… aku telat.”
Pernah di marahin guru geografi pas SMA gara-gara pas lg bahas negara eropa terus nanya " Bapak cerita negara Eropa emang pernah kesana?" Langsung dimarahin, sambil beliau bilang "Emang Guru Agama cerita neraka pernah ke neraka? " (salah saya di mana?) -_-
Sweden is committing more than €100 million to a sweeping classroom overhaul: replacing tablets and screens with traditional printed textbooks to help reverse falling student performance and sharpen focus.
After more than a decade of embracing digital-first education, Swedish authorities are now pivoting back to paper-based learning. Official data and recent studies cited by the Ministry of Education show that prolonged screen use in class has been linked to shorter attention spans, weaker reading comprehension, and reduced critical-thinking abilities.
Research consistently finds that reading on illuminated screens requires greater mental effort and invites more distractions compared to the calm, linear experience of physical books—factors believed to have contributed to declining academic outcomes in recent years.
Under the new plan, every student will receive printed textbooks for all core subjects, restoring books as the central learning tool. Digital devices and online resources will remain available as supportive tools, but they will no longer dominate daily instruction.
This bold €100+ million investment signals Sweden’s leadership in rethinking the role of technology in education. It underscores a broader, growing recognition worldwide: while screens provide speed and access, the hands-on, distraction-free engagement of physical books supports deeper concentration, stronger memory retention, and more effective long-term learning.
By choosing paper over pixels, Sweden is charting a path toward a more balanced, evidence-informed classroom future—one that puts proven pedagogical principles ahead of unchecked digital trends.
Orang di foto ini.
1. Sjahrir, anak jaksa
2. Agus Salim, anak Jaksa juga. Kepala Kejaksaan Riau jaman Belanda
3. Sumitro Djojohadikusumo, anak Ketua DPA pendiri Bank BNI
4. Sudjatmoko, anak dokter inlander generasi pertama lulusan Belanda.
5. Charles Tambu, anak imigran Tamil
3 years old - Mommy, I love you
10 years old - Mom, Whatever
16 years old - My Mom is so annoying!
18 years old- I'm leaving this house
25 years old - Mom, you were right
30 years old - I Want to go to Mom's house
50 years old - I don't want to lose my Mom
70 years old - I would give up everything to have my mom here with me
You only have one Mom
Take care of her when she's still alive.
Six consecutive wins and GBK went absolutely insane tonight. Jakmania turned the noise into something unreal, like the whole stadium was alive and raging.
Happy birthday Persija, keep this pace and the title’s ours, no doubt. 🔴🔥
Selamat ulang tahun Persija Jakarta! Lebih dari klub, ini adalah identitas, kebanggaan, dan rumah bagi jutaan hati yang tetap setia. Semoga langkahmu semakin terang, prestasimu semakin tinggi, dan setiap laga menjadi kemenangan yang membanggakan.
#InfokomJakmania
#PersijaSelamanya
#WeRiseAgain
97 tahun berdiri, terus berinovasi dan berprestasi mengharumkan sepak bola negeri ini. Tidak hanya sekedar nama, tetapi menjadi bagian sejarah kebangkitan tanah air tercinta.
Persija akan terus maju, akan terus bangkit, dan akan terus berjuang. Memberikan yang terbaik di segala lini, menjadi yang terdepan memberikan kebangaan. Untuk kota Jakarta dan Jakmania tercinta, terlebih untuk Indonesia.
Dirgahayu Persija, jaya raya selalu, selamanya!
#WeRiseAgain #Persija