BESOK, RIBUAN pemuda & publik (banyak dr luar jkt) akan hadir di Conf on 🇮🇩 Foreign Policy u/ ikut diskusi re politik luar negeri. Semoga @Menlu_RI berkenan hadir di tengah2 konstituen diplomasi. Banyak isyu2 polugri yg perlu dijelaskan kpd rakyat. Daftar: https://t.co/t2tExHz2QS
Jusuf Kalla pernah bilang: penyakit bangsa kita adalah harus melihat mayat bergelimpangan dulu baru kita sadar ada bahaya. Artinya: kita tidak biasa berpikir antisipatif, proaktif & preventif. Sy setuju. Warning signs bencana Sumatra sudah lama ada tapi tidak diindahkan.
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
In recent days, my team and I have received many enquiries from New Zealand and Cook Islands media about New Zealand’s relationship with the Cook Islands.
At this uncertain and challenging time, it is more important than ever to underline New Zealand’s steadfast support for the Cook Islands people.
The people of the Cook Islands are New Zealand citizens and integral members of the New Zealand family.
New Zealand is proud to work with and support the Cook Islands people, both here at home and on the ground in Rarotonga and the outer islands.
Over recent years, New Zealand has worked hand-in-hand with Cook Islanders. To name just a few areas:
🏥 Health – Ensured Cook Islanders can continue to access healthcare in New Zealand; supported better health outcomes in the Cook Islands in mental health, cancer care, and access to medicines.
🚨 Emergency support – Provided emergency budgetary support to help the Cook Islands people, government and economy through the economic shock caused by COVID-19.
🌱 Resources & environment – Funded projects to support pest eradication, promote renewable energy, increase capability & surveillance in the fisheries sector, and enhance water management practices in the outer islands.
🏛 Good governance – Reflecting our shared democratic values, we have held inter-parliamentary exchanges and training, and shared expertise with the Ombudsman and Auditor-General to strengthen democratic institutions, and enhance transparency and accountability.
🛡 Defence and security – Provided training to the Cook Islands police force; bolstered disaster response capabilities; supported the Cook Islands on cyber security; and provided maritime surveillance support via our P-8 Orions and the Australian-funded Te Kukupa II patrol boat.
🎭 Culture and heritage – Supported cultural festivals & heritage projects that celebrate our deep, longstanding cultural ties, shared heritage and history, including through Waitangi Day, Matariki and Te Maeva Nui commemorations.
In 2025, we celebrate 60 years of free association between New Zealand and the Cook Islands.
Over these 60 years, New Zealand’s support for the Cook Islands people has been unwavering.
-WP
Ketika dia diterpa isu perselingkuhan, mata hati dan logika saya termasuk yang menyangkalnya. Selamat Ibu Vero, Tuhan memberkati. 🙏
https://t.co/M6BatV78Hj
The Foreign Minister was pleased to re-connect with his Indonesian counterpart, Retno Marsudi.
They discussed:
-how to further strengthen the 🇮🇩 / 🇳🇿 comprehensive partnership;
-upcoming high-level visits; and
-joint efforts to secure the safe release of Phillip Mehrtens.
The Minister of Foreign Affairs met Indonesian Ambassador Fietje Maritje Suebu this evening.
They discussed the strength of 🇳🇿/🇮🇩 relations, two-way trade, engagement with the Pacific Islands Forum, and Indonesia’s successful chairing of ASEAN in 2023.
🇳🇿 🤝 🇮🇩
Mission Next Gen Aircraft has launched - flying our first zero-emissions flight in the skies of Aotearoa from 2026 ✈️ #FlightNZ0 Find out more here: https://t.co/XfEdh3LwNw
Pada tanggal 12 Juli 2022 Ibu Dubes Fientje Maritje Suebu didampingi KF dan PF Pensosbud dan PF Ekonomi menerima kunjungan Ketua NZIA dan Pengurus.
Pada kesempatan tersebut dibahas mengenai kerja sama program ke depan.
Salam sehat.
#inidiplomasi#indonesianway#indonesiajaya
Pada 13 Juli 2022, Dubes RI melakukan pertemuan dengan salah satu Pro Vice-Chancellor and Dean AUT, Prof. Guy Littlefair, sebagai perkenalan sekaligus membahas potensi penguatan kerja sama pendidikan tinggi.
#inidiplomasi#indonesiamaju#g20#recoverstronger#recovertogetherss
4. Amb. Fientje also expressed the readiness of the Indonesian government to provide technical development assistance related to the environmental protections and climate change mitigation efforts as deemed fit for Niue.
3. Amb. Fientje Suebu conveyed the mandates given by President Joko Widodo to continue strengthening cooperation and friendship between the two countries in various sectors, including trade; tourism; social-cultural; in regional and international fora including in the PIF
2. “I have the conviction that 2022 will mark the fresh start of strong and prosperous bonds between the two countries, although our diplomatic relation is relatively young as we started it in 2019”, said Amb. Fientje Maritje Suebu to the @PremierNiue , Hon. Dalton Tagelagi
1. On Tuesday, 19 July 2022, Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of the Republic of Indonesia, H.E. Fientje Maritje Suebu, presented Letters of Credence to the @PremierNiue, Hon. Dalton Tagelagi at Niue High Commission in Wellington
Dubes RI menjamu @PremierNiue dan delegasi di Wisma Duta pada Selasa (19/7). Sederet kuliner khas Indonesia seperti Tumpeng, Rendang, dan Soto Ayam menemani percakapan. Premier Niue dan delegasi juga berkesempatan mencicipi kopi asal Indonesia 🇮🇩🇳🇺🤝
On Friday (22/7) Malaysia officially handed over the ASEAN Community in Wellington Chairmanship to Indonesia in a ceremony at the Indonesian Embassy. Indonesia will assume the chairmanship for the next 6 months 🇮🇩🇲🇾🇹🇭🇻🇳🇸🇬🇧🇳🇰🇭🇲🇲🇱🇦🇵🇭🤝
Sobat @indonesiainwellington, tanggal 1 Juni 1945 adalah Hari Lahir Pancasila. Keluaga Besar KBRI Wellington mengucapkan Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila. pada tanggal 1 Juni 2022.