Just build an interactive historical map of Jakarta using these AI tools:
ChatGPT Image 2: UI Design
Claude: code + implementation
Gemini: historical facts
Personal update: I've joined Anthropic. I think the next few years at the frontier of LLMs will be especially formative. I am very excited to join the team here and get back to R&D. I remain deeply passionate about education and plan to resume my work on it in time.
We are investigating unauthorized access to GitHub’s internal repositories. While we currently have no evidence of impact to customer information stored outside of GitHub’s internal repositories (such as our customers’ enterprises, organizations, and repositories), we are closely monitoring our infrastructure for follow-on activity.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Di era AI sekarang, jika refleksi cara dulu, kebanyakan ceremony gak penting yang habisin waktu
- Maintain JIRA (story, subtask, epic, etc) -> udah sih, tulis di Google Docs atau markdown aja
- Effort estimation -> just do it, kalau salah buang dan redo aja. Code is very cheap sekarang
- Sprint planning -> bikin mini aja, gak perlu pelototin debat detail2nya satu2. Again, just do it. Bisa jadi seiring dibikin, ketemu solusi lebih bagus dari AI
- Complex swimlane/workflow -> cukup backlog, (AI) doing, dan done aja. Toh AI yang manage, gak buat human coordination lagi
Apa lagi? 😁
sedikit intro: junior engineer pipeline lagi broken sekarang, and it might not be coming back.
yang saat ini bisa afford junior engs cuman big corps yang banyak duit.
dulu, company mau hire junior tuh kayak investasi. mereka siap ngajarin step by step, kasih lo space buat ngebreak things, terus ngebiarin 6 bulan sampe lo bener2 bisa berguna. akhir2 ini capital lagi mahal jadi banyak perusahaan pengen menghemat.
sekarang opsinya cuma dua: wait for a system that no longer exists to save you, atau sadar kalau rules udah berubah and then adapt.
gimana? stop thinking like a junior.
sebenarnya, beda junior vs mid-level itu mostly artificial, bukan semata-mata soal hard skill. kalau lo udah bisa take ownership feature, bisa debug tanpa nunggu ditemenin terus, dan bisa deploy code yang bener2 jalan — itu udah masuk mid-level. the only question is whether you'll prove it.
plusnya adalah AI sekarang jadiin ini lebih gampang. dulu mau jago butuh 2 tahun nyari solusi di Stackoverflow & code review dari senior, sekarang bisa dikebut cuma 2 bulan. tapi learning aja gak cukup. lo harus ada public proof. show your work.
bikin real project yang solve real problem. launch it. ceritain prosesnya. share your thinking. nggak harus ribet, yang penting kelihatan judgement-nya: kenapa ambil problem ini? kenapa solusi yang itu? apa tradeoff-nya?
company yang filtering out juniors, sebenernya cuma nyaring orang yang masih butuh "dipegangin". Kalau lo udah bisa take ownership, komunikasi jelas, dan bisa debug sendiri.. lo udah main di level real engineering positions.
the brutal truth is that no one's coming to develop your career anymore. tapi satu-satunya constraint itu cuma action lu sendiri. your own agency.
kebanyakan peers lo mungkin bakal terus nunggu. nunggu role junior yang "pas", nunggu diajarin dulu. terus nunggu… and basically nunggu selamanya.
the ones who make it are the ones who start building and prove you can just do things.
Kenapa belajar software architecture dan software instrumentasi/observability penting untuk software engineer?
Supaya tidak perlu merasa ada misteri atau heran ketika tiba2 ngeliat VPS lebih lambat dari managed servis kayak vercel.🙏
Still the coolest and most challenging thing I’ve ever built.
Threejs (r3f) + arduino simulation + analog simulation all happening in the browser simultaneously.
It was a wild ride to say the least.