@dcarprio sesungguhnya tawaran ini bukan untuk memikat hati atau menggodamu, tuan. tak sedikitpun hal tadi terbesit dalam relung inginnya. juwita datang membawa kebaikan semata kau adalah teman satu atapnya, yang akan selalu bertemu hingga waktu menemukan perpisahannya.
"mulai, ya?"
@dcarprio terkejut? tentu saja. kepanikan mulai menjalar bagai sulur-sukur tanaman krukut. alisnya mengerut seperti karet terkena udara dingin. akankah seraut wajah kian manis itu yang kamu nanti-nanti, kakak? benar?
"aku belum apa-apain. sumpah!"
@2DimensiMenfess salahkan nasib yang membuatnya terpeleset dari sepeda beberapa gang dari tokomu berada. juwita pikir, mengayuh dengan cepat akan membuat ia sampai di tempatmu awal waktu, namun nampaknya ia justru harus mendorong dengan kaki yang separuh tertatih.
"kak, betulan?" lesu.
@dcarprio "ump.. iya, kak." asmara mengerjap beberapa saat sebelum tangannya mengambil tudung untuk menutup dua piring yang belum bertuan.
kemudian ia duduk di seberangmu, "kakak suka pedas?"
@dcarprio angguk-angguk, "iya, untuk kakak yang lain juga."
pembawaan asmara memang demikian adanya, selalu bersuka-cita; kecuali kalau ada yang iseng menakutinya.
"biar aku panggil yang lainnya dulu, kak."
@dcarprio hei kakak! ini bukan akal-akalan, ya. juwita kan bukan seperti kamu si tukang usil!
bakat sang ibu yang hobi memasak seeprtinya menurun kepada anaknya. karena itu, lihatlah di atas meja makan itu, ada beberapa piring isi nasi goreng teri sambal hijau.
begitu menemukan satu kotak isi obat dan pertolongan pertama, gadis itu kembali menemuimu dengan wajah yang berkemilau ceria.
duduk ia tepat di sandingmu, "aku ijin mulai ya?" @dcarprio
betapa hatinya dirundung buncah bahagia saat lelaki itu mengamini maunya.
"tunggu sebentar, kak." katanya sebelum melengang ke dalam kamar dengan pintu mahoni berplitur cokelat yang menggantung papan kecil atas namanya sendiri.
@semakperdu Lalu, kilat tatapanmu itu—ah, seketika mengunci seluruh dayanya, merampas tiap derap langkah hingga ia terpaku tanpa sanggup berkutik.
“Yasudah, mau pakai apa obatinnya?”
Ia pun melabuhkan raganya pada sebuah kursi tak jauh di sana. ——
di antara terpaan angin yang menghadang, nampaknya minuman hangat mampu meredam kedinginan. salju yang turun bagai sebuah air mata alam yang tak berkesudahan. barangkali langit sedang menangis oleh karena nasib wanita yang terombang-ambing dalam perasaan.