di bangku kecil ini
orangorang tak memiliki suara
jarak demikian kosong
dan airmata tak hendak jatuh.
kita saling
menatap dan menemukan
halhal imajiner
seperti masa datang
serta kebohongan yang
tak jadi.
satu dua hujan membentuk garis-garis tempias di kaca, lalu meleleh tanpa jejak.
sore tempat kita saling bersandar seperti menjanjikan pengharapan, ataukah masa lampau?
nostalgia dan masa depan saling berkelindan, di luar jendela orang-orang bergegas, sedang kita hanya bisa terusmenerus jatuh.
berapa lama lagi sebelum keseluruhan?
berapa dentum lagi sebelum meluruh?
“aku lelah,” seseorang berbisik
jika nanti angin segara
menerbangkanmu mencapai
gemuruh dunia paling tinggi
jika nanti laut samudera
melarungkan seluruh
pedihmu sedihmu paling jauh
biarkan aku
tetap menjadi
pelukmu paling dekat
cintamu tanpa jarak
.: repetisi
lihatlah
hal hal yang muncul
di dalam hujan:
pesan pesan singkat darimu
setahun setahun lalu,
kecupan kecupan
perpisahan perpisahan kita,
sekelumit kata kata
yang hilang dalam hilang
dalam dalam
jatuh jatuh
tulislah surat
bila kata-kata
terasa seperti
sonambulis
ceritakan tentang
cinta yang insomniak
hari-hari penuh mimpi
atau bahkan genting malam geming
saat aku tak ada
dan rindu begitu jauh
tulislah surat
bila hati yang jatuh
butuh tujuan
untuk
berhenti
barangkali selalu ada
kasut dan sepasang kaki
jejak-jejakmu di dalam cinta
sebelum ombak sampai
pada segala yang belum
dan akan terhapus
barangkali pernah ada
sepasang kasut
menunggu kata-kata
yang tak kunjung
terucapkan
angin penjuru
membelai
daun-daun
pohon yangliu
suaramu
perlahan mengakhiri
perlahan mendesir
dan kudengar
cinta yang pernah
perpisahan yang segera
ataukah hujan badai
di ufuk penghabisan