HR Bukhari no 26
Banyak sekali faedah yg bisa diambil dari hadits ini yg diantaranya:
1. Peringatan kepada kaum wanita agar tidak melaknat dan kufur terhadap kebaikan suami.
2. Fitnah wanita yang bisa menghilangkan akal laki² yang cerdas sekalipun.
3. Kekurangan akal dan agama wanita yg dimaksud adalah dari persaksian dan haid mereka (lihat hadits utk lebih jelas), dan kekurangan ini bukan dosa melainkan keringanan dari Allah.
4. Sedekah dapat menghapus dosa.
5. Keteladanan para shahabiyyat dengam bertanya secara santun untuk menuntut ilmu.
Di dalam darah Prabowo Subianto ada dua sisi dari perang yang sama, dan mereka dulu saling berhadapan di medan tempur perang Diponegoro
Satu leluhurnya melawan Belanda.
Satu leluhur lain jadi bagian pasukan yang mengawal penangkapannya.
Ini bukan metafora. Ini silsilah.
Garis ayah, klan Djojohadikusumo.
Kakek buyutnya: Kertanegara IV alias Raden Banyak Wide. Senopati Diponegoro, mimpin ratusan pasukan di front Urutsewu-Panjer, Kebumen.
18 April 1829, dia tertangkap Belanda di Kemit.
Nggak cuma satu jalur. Nenek Prabowo, Siti Katoemi Wirodihardjo, juga bawa darah "pemberontak."
Ayahnya keturunan Ki Ageng Wiroreno, panglima Diponegoro untuk divisi Prambanan. Setelah perlawanan runtuh 1830, dia menetap di Banyumas.
Sampai di sini, ceritanya rapi: trah pejuang, garis lurus ke presiden.
Tapi pindah ke garis ibu: klan Sigar dari Minahasa, ceritanya balik 180 derajat.
Buyut dari buyutnya, Kapten Benjamin Thomas Sigar, bukan cuma di kubu Belanda. Dia perwira Pasukan Tulungan (hulptroepen) , pasukan bantuan Minahasa yang direkrut Belanda karena kas kolonial nyaris jebol menghadapi Diponegoro.
Pasukan yang dipimpinnya ikut dalam rombongan yang mengawal ketat Diponegoro menuju pengasingan pertama di Manado, setelah ditangkap lewat siasat Jenderal De Kock, Maret 1830.
Balas jasanya: diangkat Hukum Besar Langowan, pangkat kehormatan Mayor, status disetarakan warga Belanda.
Jadi begini posisinya:
Garis ayah → darah senopati yang dikejar Belanda.
Garis ibu → darah kapten yang bantu menangkap musuh itu.
Dua pihak yang baku hantam 1825–1830, ketemu lagi lima generasi kemudian.
Sekarang, kira2 keturunan mereka ini cenderung di garis yang mana??
(Silakan Manteman nilai sendiri)
الكاتب السعودي الكبير غازي القصيبي:
المشكلة ليست في قسوة الحياة، بل في توقعاتنا الرومانسية عنها ."
نحن لا نتألم لأن الحياة صعبة، بل لأننا رسمنا لها صورة غير حقيقية، تخيلنا أنها ستكافئ النوايا الطيبة فورًا، وأن الجهد سيُثمر دائمًا في موعده، وأن الناس سيتصرفون وفق ما نستحق لا وفق ما هم عليه، وعندما تصطدم الصورة بالواقع، تنكسر توقعاتنا.
الحياة لم تعدنا بالعدل الفوري، ولا بالراحة الدائمة، ولا بالنهايات السعيدة المصممة خصيصًا لنا.
هذه أفكار تسللت إلينا من القصص، ومن لحظات النجاح التي نراها دون أن نرى خلفها سنوات الفشل، ومن رغبتنا العميقة في أن يكون العالم أكثر لطفًا مما هو عليه.
القيمة الحقيقية هنا أن النضج يبدأ حين نفصل بين "ما نتمناه" وبين "الحقائق".
حين ندرك أن الألم جزء من المعادلة، وأن الخذلان احتمال وارد، وأن الطريق لا يمهّد نفسه لأحد، عندها فقط تتحول الصدمة إلى وعي، والشكوى إلى مسؤولية، والانكسار إلى صلابة.
توقعاتك هي عدستك، إن كانت حالمة أكثر من اللازم، ستُضخّم الخيبات، وإن كانت واقعية، ستُحسن قراءة الأحداث ."
Love is the mark of the people of tasawwuf (Sufism), as mentioned in Maybudī’s classical tafsir. The Sufis are the people of ‘ishq, a word derived from ‘ashaqah, which refers to a kind of vine. When this vine winds itself around a tree, the tree withers and dies. In the same way, worldly love and the ego die within the Sufi.
Karena masyarakat tradisional membaca kehidupan melalui alam, salah satunya binatang. Sifat-sifat hewan jadi metafora bagi sifat manusia. Misalnya dalam konteks Jaranan, ada peran namanya Celeng Srenggi (Babi Hutan) yang maknanya adalah simbolik sifat naluriah liar manusia.
Isyarat Sufi
Wahai pengembara jalan cinta, syair ini adalah kisah sebuah bunga yang rindu pulang kepada asalnya. Bunga itu adalah ruhmu. Ia tumbuh di taman dunia, meminum embun waktu, menari bersama angin peristiwa, lalu perlahan lupa bahwa ia bukan penghuni taman ini. Karena itulah Rumi mengirimkan angin sebagai pembawa pesan: "Kembalilah kepada kemanisan asalmu."
Bunga merasa dirinya bunga, padahal hakikatnya berasal dari gula. Ia mengagumi warna dan keharumannya sendiri, padahal sumber segala keindahan berada di tempat yang lebih dalam daripada warna dan aroma. Begitulah ruh manusia. Selama ia masih terpukau oleh bentuk dirinya, ia belum sampai kepada asalnya. Namun ketika ia melebur ke dalam samudra Sang Kekasih, bunga dan gula menjadi satu kemanisan yang tak dapat dipisahkan.
Rumi lalu mengajarkan rahasia perjalanan para pecinta: naiklah dari bumi menuju langit, dari maqam ke maqam, dari tabir ke tabir, hingga sampai kepada liqa’—perjumpaan. Akan tetapi, perjalanan itu bukanlah perjalanan kaki, melainkan perjalanan pelepasan. Sebab terdengar seruan dari alam rahasia:
"Lepaskan sayapmu, datanglah tanpa sayap."
Selama seorang salik masih terbang dengan sayap amalnya, ilmunya, kesalehannya, atau bahkan pengalaman ruhaninya, ia belum benar-benar sampai. Burung-burung dunia terbang dengan sayap, tetapi burung cinta terbang dengan ketidakberdayaan. Ketika semua sandaran runtuh, ketika tidak tersisa apa pun selain kebutuhan kepada Allah, saat itulah pintu kedekatan mulai terbuka.
Karena itu para arif tertawa kepada dunia. Bukan karena mereka membencinya, tetapi karena mereka telah melihat sesuatu yang lebih nyata daripada dunia. Mereka seperti seseorang yang telah menyaksikan lautan, lalu tidak lagi terpesona oleh genangan air. Mereka merobek pakaian-pakaian identitas yang menutupi ruhnya: pakaian nama, kedudukan, kebanggaan, dan segala yang disebut "aku". Sebab di hadapan Matahari Hakikat, semua pakaian itu hanyalah bayang-bayang yang sebentar lagi lenyap.
Kemudian Rumi menyingkap sebuah rahasia yang sangat halus. Ia berkata bahwa keberadaan manusia seperti besi, sedangkan kelembutan Tuhan seperti magnet. Besi tidak mengetahui mengapa ia bergerak; ia hanya merasakan tarikan yang tak mampu ditolaknya. Demikian pula hati para pecinta. Ada saat-saat ketika mereka merasa rindu tanpa mengetahui kepada siapa mereka rindu. Mereka menangis tanpa tahu apa yang hilang. Mereka mencari tanpa tahu apa yang dicari. Sesungguhnya itu adalah tarikan Sang Kekasih yang sedang memanggil mereka pulang.
Lalu besi itu ditempa. Dipukul dengan api, dibakar oleh ujian, dilebur oleh kerinduan. Bukan untuk menghancurkannya, melainkan agar ia berubah menjadi cermin. Sebab hati yang belum pecah oleh cinta belum mampu memantulkan cahaya. Setiap luka yang datang kepada para pecinta adalah pahatan Sang Pengukir pada cermin jiwa mereka.
Dan ketika perjalanan itu mencapai ujungnya, kata-kata pun menjadi tidak berdaya. Lidah berhenti, akal terdiam, dan hanya hati yang masih berbicara. Di sanalah Rumi berpaling kepada Syams, matahari ruhani yang membangkitkan seluruh keberadaannya. Sebab cahaya sejati tidak lahir dari huruf, suara, warna, atau rupa. Ia lahir dari perjumpaan.
Maka seluruh ghazal ini sesungguhnya adalah undangan untuk pulang. Pulang dari bunga menuju gula. Pulang dari bentuk menuju makna. Pulang dari diri menuju Dia.
Dan ketika perjalanan itu sempurna, sang pejalan akan menyadari bahwa sejak awal ia tidak pernah berjalan sendiri. Angin yang membimbingnya, kerinduan yang membakarnya, air mata yang mengalir dari matanya, bahkan jalan yang ia tempuh—semuanya adalah Sang Kekasih yang sedang menuntunnya kembali kepada Sang Kekasih.
Pepatah Arab pernah berkata:
ليس كل ما يلمع ذهبا
"Tidah semua yang berkilau itu emas."
Jadi, jangan mudah tertipu dengan apapun yang menggiurkan matamu dan memanjakan nafsumu, sebab tidak semua yang memikat matamu akan memberikan manfaat dan kebaikan untukmu. Hati-hatilah!
Sahabe usülünü öğrenmek isteyenler;
Hanefi usulü sizi kaliteli bir şekilde Hz. Abdullah ibni Mes’ud’un usulüne رضي الله عنه
Maliki usulü sizi kaliteli bir şekilde Hz. Abdullah ibni Ömer’in usülüne رضي الله عنه
Şafii usulü sizi kaliteli bir şekilde Hz. Abdullah ibni Abbas’ın usülüne رضي الله عنه bağlar!
İmâm-ı Şâfî (rahimehullah):
"Kendine en büyük zulüm ve haksızlığı yapan kişi;
-Kendisine değer vermeyene karşı tevazu gösteren,
-Kendisine hiçbir faydası dokunmayacak kimsenin sevgisini kazanmaya çalışan
-Kendisini hiç tanımayan birinin övgüsünü kabul eden kimsedir."
BAB KE 107
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
Salah Satu Tanda Lemahnya Iman adalah Tidak Melihat Lembutnya Takdir
مَنْ ظَنَّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذَلِكَ لِقُصُوْرِ نَظْرِهِ
Siapa yang mengira kemahalembutan-Nya terlepas dari kemahakuasaan-Nya, berarti ia memiliki pandangan yang sempit.
KEMAHAKUASAAN ALLAH TERLIHAT Saat Allah menimpakan petaka dan ujian kepadanya. Jika ia mengira bahwa kelembutan Allah itu terpisah dari kekerasan-Nya, hal itu menandakan pandangannya sempit. Sekiranya pandangannya sempurna, ia akan menyadari bahwa dalam petaka dan ujian itu ia banyak mendapat kelembut-an Allah. Misalnya, dengan ujian itu, ia bisa mendekatkan diri kepada-Nya.
Ujian yang ditimpakan Allah kepada hamba-hamba-Nya pasti bertolak belakang dengan keinginan mereka dan membuat nafsu syahwat mereka meronta. Tentu setiap hal yang mengganggu atau menyakiti nafsu pasti akan berbuah baik, bahkan sebelum hamba itu
kembali kepada Allah dan mengetuk pintu-Nya. Ini adalah faedah terbesar dari ujian dan cobaan. Hamba yang mendapatkan ujian akan mendapati bahwa jiwanya lemah, kekuatannya terbatas, dan sifat-sifat yang telah mendorongnya melakukan dosa atau maksiat serta menguatkan keinginannya terhadap dunia adalah batil.
Dengan ujian itu, biasanya seorang hamba akan meraih ke-tundukan hati, sabar, rida, tawakal, zuhud, dan ingin bertemu Allah. Bagaimanapun, sebiji sawi amalan hati lebih baik daripada segunung amalan anggota tubuh. Dengan ujian itu pula, ia akan mendapatkan penghapusan dosa dan kesalahan serta meraih kelembutan Ilahi lainnya.
“Pada masa Jayanagara, Gajah Mada sudah tampil sebagai hulubalang yang disegani. Ia diduga anak seorang patih Majapahit, yakni pejabat tinggi, bukan mahapatih,” Agus Aris Munandar
Salah satu alasan gw gak pernah bosen baca Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali nih sob,
kitab ini nulis 𝗱𝗶𝗮𝗴𝗻𝗼𝘀𝗮 𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹 yang masih valid sampe sekarang. Ada satu kalimat pendek yang isinya kayak peta korupsi lengkap. Gw share ya hihi
(sebuah utas)
“Orang-orang menyantap rempah-rempah bukan karena rasanya yang enak, tetapi yang kadang lebih penting, karena apa yang disimbolkannya. Rempah-rempah mencitrakan dengan tegas cita rasa yang elegan, ekslusivitas, dan kekayaan,” Jack Turner