Besyukurlah kalian jadi fans barca di final world cup kali ini, sampe final ngga perlu ganti skin, ga perlu minjem prestasi pemain atau tim lain. Konsisten dr awal sampe akhir 👏👏👏👏
Btw ngga perlu pake skin netral, menyelamatkan sepakbola bla bla bla 🤪🤪🤪🤪
@unmagnetism titik terendah sebuah fans adalah udah biasa aja/udah ga takut liat idolanya kalah, tapi lebih takut/ lebih stres kalo rival idolanya punya 2 piala😂.
jadi sebenernya spanyol bukan nyelamatin sepakbola, tapi nyelamatin ego fans yang udah gilaa
@unmagnetism titik terendah sebuah fans adalah udah biasa aja/udah ga takut liat idolanya kalah, tapi lebih takut/ lebih stres kalo rival idolanya punya 2 piala😂.
jadi sebenernya spanyol bukan nyelamatin sepakbola, tapi nyelamatin ego fans yang udah gilaa
🚨 Zlatan Ibrahimović on Lionel Messi not winning the World Cup Golden Ball:
🗣️: “What else did Messi have to do to win it? I genuinely don’t understand the criteria anymore. If you look back at 2018, Luka Modrić won the Golden Ball without winning the World Cup. So what changed now?
“Messi carried Argentina throughout the tournament, delivered when it mattered most, and was once again the player everyone feared. If that wasn’t enough, then tell me what is.
“It feels like the standards are always different when it comes to Messi. Every other player gets judged one way, but with him, people suddenly move the goalposts. It’s always against Messi.
“I’m happy for Rodri, but from a football perspective, I don’t think anyone had a stronger case than Messi.”
Waktunya nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola.
Di MetLife Stadium, New Jersey, Messi jalan pelan menuju podium runner up. Bahunya sedikit membungkuk, matanya berkaca kaca saat medali perak digantung di lehernya.
Spanyol baru saja menang 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Argentina gagal pertahankan gelar. Tapi bagi jutaan orang yang nonton, malam itu bukan tentang kekalahan. Malam itu adalah tentang akhir sebuah era.
Messi berusia 39 tahun. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, langkahnya nggak secepat dulu, tapi matanya masih sama. Penuh api, penuh cinta untuk sepakbola. Sepanjang turnamen cetak delapan gol, kasih assist krusial, dan bawa Argentina yang sempat terseok hingga final. Messi main kayak umur 29 tahun, bukan 39. Tapi usia nggak pernah bohong. Tubuhnya lelah, dan sepak bola tak lagi beri ruang untuk keajaiban selamanya.
Kita ingat Qatar 2022. Malam itu Messi mengangkat trofi yang selama 36 tahun tak pernah diraih Argentina. Air mata bahagia mengalir deras.
“Saya sudah lengkap,” katanya saat itu.
Tapi Tuhan memberinya satu babak lagi. Satu kesempatan terakhir untuk menari di panggung terbesar. "The Last Tango", begitu ia tulis di postingan sebelum final. Tango terakhir. Dan meski berakhir dengan nada sedih, tango itu tetap indah kok.
Bayangkan seorang anak kecil dari Rosario yang dulu menderita kekurangan hormon pertumbuhan, kini berdiri di final Piala Dunia untuk ketiga kalinya.
Lihat wajah para pemain Spanyol saat membuat guard of honour. Ada rasa hormat di mata mereka. Mereka tahu, mereka baru saja mengalahkan legenda hidup, panutan mereka sendiri.
Nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola. Mungkin beberapa bulan lagi di Inter Miami, mungkin satu atau dua pertandingan persahabatan terakhir dengan Argentina. Lalu lampu stadion akan padam untuknya. Nggak ada lagi momen ankara messi yang bikin bek lawan mati kutu. Nggak ada lagi senyuman malu malu saat ia mengangkat trofi.
Yang tersisa adalah warisan yang nggak bisa dihapus. Bukan hanya rekor gol, assist, atau Ballon d’Or. Tapi Messi ngajarin kita bahwa bakat saja tak cukup. Dibutuhkan hati yang besar, ketahanan yang luar biasa, dan cinta yang tak pernah pudar.
Untuk Leo, terima kasih. Terima kasih telah membuat jutaan anak di seluruh dunia percaya bahwa mimpi bisa diwujudkan meski berkekurangan dan tantangannya besar.
Kau bukan runner up malam ini, Leo. Kau adalah pemenang seumur hidup.
Sekarang, istirahat yang pantas. Dunia sepak bola akan terus berputar, tapi tak akan pernah sama lagi tanpamu.