5 tuntutan bem ui:
1. Menghentikan pemborosan APBN
2. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
3. Menghentikan Program MBG dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
4. Menghentikan militerisme di ranah sipil.
5. Mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak.
Tujuh Sabda Terakhir Yesus
Tujuh Sabda Terakhir merupakan ucapan-ucapan Yesus yang dicatat secara terpisah oleh keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) selama kurang lebih enam jam Ia tergantung di kayu salib.
Dalam tradisi kristiani, rangkaian ucapan ini dianggap sebagai "Wasiat Terakhir" Sang Mesias yang merangkum seluruh misi kedatangan-Nya ke dunia.
1. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)
Di tengah siksaan fisik yang hebat, Yesus tidak mengeluarkan kutuk dari mulut-Nya, tetapi Ia menyatakan permohonan ampun bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya dan Ia menunjukkan kasih yang melampaui logika manusia.
2. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43)
Sabda ini ditujukan kepada salah satu penjahat yang disalibkan di samping-Nya yang menunjukkan penyesalan. Yesus memberikan harapan bahwa keselamatan tersedia bagi siapa saja yang percaya, bahkan di detik terakhir hidupnya.
3. "Ibu, inilah anakmu!" dan "Inilah ibumu!" (Yohanes 19:26-27)
Meski dalam kondisi sekarat, Yesus memastikan Ibunya (Maria) akan dijaga oleh murid yang dikasihi-Nya (Yohanes). Yesus menunjukkan tanggung jawab kemanusiaan dan kasih seorang anak.
4. "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) (Matius 27:46)
Yesus dalam keadaan amat tersiksa secara fisik harus merasakan perpisahan dari Bapa secara batin karena Ia memikul seluruh dosa umat manusia.
5. "Aku haus!" (Yohanes 19:28)
Ucapan ini menegaskan sisi kemanusiaan Yesus yang nyata. Ia merasakan haus fisik yang luar biasa, sekaligus menggenapi nubuat yang tertulis dalam Kitab Suci.
6. "Sudah selesai." (Yohanes 19:30)
Ia tidak menyatakan seruan kekalahan, melainkan deklarasi kemenangan. Yesus memandang bahwa misi penebusan dosa umat manusia dan seluruh tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya telah tuntas dikerjakan.
7. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." (Lukas 23:46)
Frasa terakhir ini hendak menunjukkan ketaatan mutlak dan kepercayaan penuh kepada Allah Bapa. Yesus mati bukan karena nyawa-Nya direbut paksa. Ia menyerahkannya dengan sukarela.
Pengorbanan adalah manifestasi kesadaran dan amalan memberi dan berbagi, buah keterlepasan dari kemelekatan diri sendiri.
Selamat merenungi dan memaknai Jumat Agung nan suci bagi segenap umat kristiani.
#JumatAgung#JumatSuci
there are seven confirmed deaths so far in the span of three days
1. affan kurniawan
2. sarina wati
3. saiful akbar
4. muhammad akbar basri
5. rheza sendy pratama
6. sumari
7. rusmadiansyah
rest in peace. 🥀
Sepertinya tanda-tanda Krisis sudah di depan mata, jika punya dana/ aset simpan baik-baik, jangan boros belanja.
Saya berbicara kepada kalian yang masih terjaga. Sebab bicara kepada orang marah gak ada guna.
Quote dari anak muda gen z ini menggetarkan bagaimana kondisi negara ini dan para pejabat hingga anggota DPR RI dan DPRD.
Rakyat yg memilih klen kok malah klen yg memeras, mencekik, biat kebijaka tdk pro rakyat.
Bacot klen nantang-nantang buat kegaduhan menjadi bom waktu.
Ini kronologis sampai bisa jadi seperti hari ini. Makanya jangan jumawa dan flexing aja tuh kalian yang sedang di atas.
1.Katanya efisiensi, tapi jumlah menteri banyak, wamen-wamen dikasih jabatan komisaris BUMN.
2. Kenaikan PBB di berbagai daerah, sampai nilai yang fantastis, memicu demo besar terutama di Pati.
3. Di tengah himpitan ekonomi, harus menyaksikan kenaikan tunjangan DPR yg tidak masuk akal. Eh, anggota dewannya pada joget lagi di Senayan. Setelahnya banyak yang ngeles bela diri dengan statemen nggak masuk akal.
4. Provokasi bbrp anggota DPR termasuk Sahroni.
5. Pecah demo besar, jatuh korban jiwa yang dilindas Rantis Brimob.
6. Demo makin besar.
Sepertinya siapapun presidennya, siapapun DPRnya, siapapun aparatnya, hidup saya (alhamdullilah sekarang) masih nyaman-nyaman aja dan tidak terganggu.
Tapi masak melihat orang-orang hidupnya sengsara karena kedzaliman tidak membuat batin kita terganggu?
Ayo lawan, semampu kita.
Marah artinya bukan ikut-ikutan. Tapi masih punya nurani. Tidak seperti mereka. Rakyat cuman jadi objek dan objekan. Diperas dan ditertawakan. Ditindas dan dilindas. Mereka nggak mau lihat rakyat menderita, nggak mau dengar rakyat teriak kelaparan. Mereka cuman mikir gimana bisa nimbun harta. Hidup cuma sekali. Lawan! Suarakan. Yang penting nggak diam.
Teman-teman yang sudah membuat pilihan yang salah di masa lalu, bertobatlah. Jangan cari pembenaran. Bukalah pikiran dan hati nuranimu. Baca sejarah, baca berita, lalu adillah sejak dalam pikiran.