Kisah Operator Arknights: Endfield [Lima Kawan: Nyala yang Memecah Gulita]
Akhirnya, percikan kecil pun menjadi lidah api agar kau bisa menyalakan fajar
🎁Arknights: Endfield
Perjalanan dimulai dalam [5] hari.
Perilisan global Arknights: Endfield secara resmi dirilis pada 22 Januari!
Ikuti kami di @AKEndfieldID dan bagikan ulang postingan ini untuk kesempatan memenangkan hadiah menarik!
▼// Hadiah Event
Kartu Hadiah $20 x 20
Arknights: Endfield - Set Kartu Pos - Snapshot Orientasi 1.0 x 10
▼// Periode Event
17 Januari 2026 – 24 Januari 2026 (UTC+8)
▼// Aturan Event
https://t.co/6XXhQ5rNGW
▼//Daftar lebih awal di Situs Web Resmi kami: https://t.co/poqqUir9xQ
Pra-registrasi untuk Arknights: Endfield kini dibuka di semua platform. Imbalan capaian global untuk pra-registrasi 35 juta, dan juga imbalan atas pencapaian global follower social media resmi, semuanya sudah terbuka. Setelah perilisan resmi, Endministrator dapat mengambil imbalan berisikan 5★ Operator [Snowshine], [Basic HH Permit]×20, dan 5★ Weapon [Finishing Call], dan sebagainya.
#ArknightsEndfield #Endfield #Endfield0122
Trailer Cakrawala Baru [Misi] Arknights: Endfield
“Kau mungkin telah melupakan wajah-wajah ini, tapi mereka akan mengingat wajahmu.”
Lawan takdir, mulai ulang Kehidupan, dan bentuk kembali masa depan Talos-II.
Endministrator, kali ini, kau tak lagi sendirian.
@rx105Gphis Yang dibahas disini perkara "golongan" / agama nya, perkara orang yang melakukan pelecehan memang sudah sepantasnya dihukum. Tapi coba liat kenyataannya kemana arah argumen di kolom komentar, makanya saya mengatakan "harap berhati-hati".
@rx105Gphis Kalau anda memang yg "Maha Kuasa" boleh saja berkata seperti itu, saya sj tak berani menyebutkan "sebab" nya krn bisa berujung fitnah, krn seperti yg dijelaskan faktor "sebab" itu banyak & hanya Tuhan yg tau. Hukum karma itu tak bias & tak memihak siapa pun atau golongan manapun
@rx105Gphis Benar, memang karma phala nya ada, tapi berupaya agar "akibat" atau phala tidak menjadi hal yang lebih buruk kedepannya juga suatu "karma". Karma phala tak sesederhana "sebab-akibat" di satu titik, tapi dilihat jauh ke belakang dan tidak hanya 1 penyebab, tapi bisa banyak faktor
@Wawanda@GlHindu Benar akun ini tidak menindak akun tersebut, tapi akun ini jg tidak menindak/memblokir akun yg memprovokasi Hindu, sehingga seharusnya kritikan hanya ditujukan pada akun ini. Namun opininya sekarang sudah mengarah kemana-mana. Semoga pelaku pelecehan mendapatkan hukuman yg berat
@ecilox Bisa kasih saya bukti dimana kalo menjaga bisa mencegah individu yang provokatif 100%, Golongan atau agama apapun itu? Sudahkah kamu menasehati sesama mu yang provokatif juga?
@999nokitaro@GlHindu Saya pun mengecam tindakan orang yang bersangkutan, tapi bila seluruh "golongan" di cap membiarkan kejahatan dan jatuhnya menyerang hal-hal diluar itu dan KALIAN jg permisif. Bukan tidak mungkin masalahnya melebar kemana-mana dan dimanfaatkan pihak lain.
Mohon hati-hati ya min, masyarakat Hindu, minoritas dan terutama Bali sedang jadi target overhate yg terorganisir dan akan semakin masif kedepannya karena memang ada yang memainkan isu ini untuk kepentingan pihak tertentu. Bila ada yang seperti itu lebih baik tak usah ditanggapi
Sok toleran itu maksudnya gimana? Apa karena Mindu rajin ngucapin selamat hari raya ke semua agama? Ya maap. Agama kami memang mengajarkan toleransi. Maitri (ramah), karuna (welas asih), mudita (empati), upeksa (toleran) itu diajarkan sejak SD sbg sikap dasar utk semua orang (tidak membedakan agama, suku dan ras).
Bahwa ada individu yang menyimpang, kan kita semua bisa baca berita dunia, tho? Ngga perlu semua dikomentari. Lagipula penyimpangan2 itu juga bisa ditelusuri: kecenderungan individu atau karena dorongan tafsir keyakinan. Kalau karena tafsir, ini bahaya karena bisa menjangkiti banyak penganut. Ini perlu mitigasi bahkan oleh majelis agama. Kalo penyimpangan individu, biar dia bertanggungjawab sendiri. Dirujak aja, ngga akan ada yg ngebela karena teman seagama.
Argumen ini justru semakin menunjukkan arogansi "superioritas" jawa-sentris, sumber beritanya tidak akurat tapi asal main konflik horizontal. Yang tersinggung mungkin bukan cuma Bali, tapi bisa jadi daerah lain di luar Jawa
Lu pada mestinya juga ngaca, penyebab aktivisme lu gk laku karena suka mainin isu rasis & SARA gk jelas. Itu yang bikin sosok "toleran padahal licik" macem mulyono makin mudah dapat suara. Makin hari makin hilang kepedulian gw ma bangsa ini gara-gara pemerintah dan lu orang
No hope for this nation, biarpun semisal rezim sekarang tumbang, kroni-kroninya masih ada dan tidak ada jaminan mereka yg kontra akan tetap berada di sisi rakyat, spektrum politik negeri ini aja udah aneh, dibilang demokratis tapi mayoritas "kanan". Emang paling bener bubar aja
Saya dari Bali pun setuju dengan federalisasi, pengaruh dari pusat terutama elit partai sudah terlalu merajalela disini dan semestinya Bali bisa menjadi "Daerah Istimewa". Secara Pendapatan Asli Daerah, Bali pun tergolong mandiri dengan ketergantungan dari pusat kurang dari 40%
Jika kembali terjadi huru-hara 1998 di Indonesia, saatnya kita refleksi kegagalan Reformasi.
Untuk kita yang di daerah luar Jawa punya dua pilihan, Federalisasi Indonesia atau menjadi negara sendiri.
Negara Kesatuan dengan otonomi daerah terbukti hanya omon-omon.
Ya jelas, soalnya Bali sasaran empuk buat over-blaming & over-hating, berbagai motif kebencian karena adanya perbedaan bisa disatuin dengan kedok alasan tertentu. Gak heran bila tragedi seperti awal 2000an bisa saja terjadi lagi. Tapi semoga saja tidak.
Yaelah sebelum tahun 2045, ni negara jg udah bubar (atau ada wilayah yg melepaskan diri). Pola nya udah keliatan. Generasi muda yg bobrok, naiknya tren berbau "SARA" menjadi kebiasaan, kondisi geopolitik dan iklim yg makin gak karuan, udah seperti bom waktu
Saka "kleng" itu mana paham soal Bali, protes pendatang & wna tapi masih ngarep ke pemerintah korup yg cuma bikin Bali jd sapi perah. Kalo mau bener ngerubah Bali ya minta "daerah istimewa" atau perlu ya merdeka sekalian, bukan bikin sentimen.
Another Day, Another Stereotyping.
Negara yg katanya "bersatu" makin hari makin sering "gesekan" antar golongan perihal politik. Sementara para elit nya ya pada ketawa liat ini. Kalopun negara ini bubar mereka masih bisa hidup nyaman
Untuk kasus orang Rusia, yang paling ngaruh ya ada di praktik "Visa on Arrival" tanpa penjamin dan pemerintah daerah gak punya kewenangan untuk itu, itu urusan imigrasi dan pemerintah pusat, semisal Bali punya kewenangan untuk imigrasi mungkin akan berbeda situasinya
Gw jengah sebenarnya soal konflik horizontal seperti ini, emang paling bener Bali tuh merdeka aja atau minimal jadi "daerah istimewa". Kondisi orang Ruski yg merajalela seperti sekarang gak terlepas dari kebijakan orang pusat juga padahal
Perihal kasus properti yg makin mahal / gentrifikasi sebenarnya bukan cuma karena orang Bule, tapi jg dari luar Bali yang main "cuci uang", masih inget banget dulu kasus Transjakarta "cuci uang" buat beli properti di Bali dan yang terbaru kasus Net89. Itupun baru yg ketauan 😹