#SeoKangJun jelasin lebih lanjut, kalau karakter yang dia mau itu harus seperti layaknya “manusia.” Tapi karakter di kebanyakan karya itu menurutnya terlalu “perhitungan.”
Waktu dia baca script #ALoveOtherThanYours, dia merasa orang ini (Namgoong Ho) sangat kontradiktif. Meskipun berasal dari lingkungan yang sangat kurang beruntung, dia juga sangat ceria dan juga sensitif. Jadi, dia adalah karakter yang punya banyak sisi bertentangan. Kangjun sendiri juga berpikir kalau manusia itu juga kontradiktif.
Kalau dia memerankan karakter yang seperti “manusia,” dia mau membuat karakter itu terasa seperti seseorang yang benar-benar hidup di suatu tempat di suatu masa.
Hal-hal yang tidak bisa dijelaskan seperti ‘Karakter ini tumbuh besar seperti ini, tapi kenapa dia hidup seperti ini?’ ‘Dia seseorang yang seperti ini, kenapa di situasi ini dia melakukan hal ini?’
Menurutnya, hal-hal seperti itu sangat menarik dan justru lebih mencerminkan sisi manusia.
prabowo nih ditanyain soal IHSG anjlok bilangnya "rakyat desa ga main saham", sekarang pas rupiah lagi lemah ngomongnya "rakyat desa nggak pakai dollar".
rakyat desa rakyat desa mulu ajg, lu itu presiden bgst, bukan lurah.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Sadarkah kalian kalau program MBG ini dampaknya 3 kali lebih besar sehingga hidup rakyat kelas bawah semakin susah?
1. Rp335 triliun pertahun dari uang pajak kita dipakai untuk program ini.
Akibatnya?
Pos penting lain kekurangan dana.
Alokasi untuk membangun jalan, perbaikan sekolah, rumah sakit, menaikkan gaji guru, dan lain-lain yang seharusnya prioritas menjadi terkesampingkan.
2. Dari data yang ada, MBG menjadi kontribusi penyebabnya defisit anggaran, utang negara tambah banyak, bunga utang membengkak, dan ruang fiskal negara menyempit.
Akibatnya?
Negara nggak punya "cadangan" lagi buat bantu rakyat karena fokus untuk menutupi defisit.
3. Kebijakan terpaksa harus diambil untuk menutup defisit anggaran, seperti: menaikkan PPN, memotong subsidi BBM/listrik, mengurangi bansos lain.
Akibatnya?
Harga bahan pokok semakin mahal. Beras, minyak goreng, bensin naik, tagihan listrik melonjak, daya beli rakyat biasa langsung semakin tertekan.
Baru jalan 1 tahun saja dampaknya sudah sangat terasa bagi masyarakat kelas bawah, bayangkan bagaimana 3-4 tahun ke depan.
Sudah saatnya pemerintah meninjau ulang MBG supaya benar-benar hemat dan bermanfaat sehingga tidak semakin membebani masyarakat kelas bawah.
Suamiku bukan PNS tapi aku harus ikut Dharma Wanita karena aku PNS. Yang paling kasian lagi adalah istri tentara yg juga jadi PNS. Jadi persit + DWP. BELUM KALAU DI RUMAH ADA PKK. PKK ini harus direvitalisasi karena asumsi yg mendasarinya adalah pemberdayaan perempuan (yg mana kita sudah kerja + sekolah tinggi, masihkah dibilang kurang berdaya? Apakah kita hanya dianggap berdaya jika kita rajin arisan dan piket bersih-bersih TOGA?). Tatalaksana keluarga & rumah tangga itu tanggungjawab suami-istri. Sebelnya lagi, kalau bapak² ada acara, pasti ngrepotin ibu² PKK urusan konsumsi
Negara terbesar keempat di dunia.
Negara paling rentan terancam bencana nomor dua di dunia.
Negara dengan gempa terbanyak 2023-2024 di dunia.
Negara dengan gunung api terbanyak ketiga di dunia.
Ini yang bodoh siapa?
❗️#PrayForSumatera ❗️
Yuk ramaikan terus supaya kawan kita di Sumatera mulai dari Sibolga, Padang sampai Aceh supaya dapat bantuan dan perhatian serius dari pemerintah.
Kamu bisa bantu donasi melalui : https://t.co/raOLTVZIE3
Jadi gimana?
Orang yang kemarin melabeli aktivis peduli krisis iklim dan sosio ekologis sebagai "wahabi lingkungan" dan "alarmisme global" itu masih bisa omong besar gak lihat realitas semacam ini?
Susah memang kalau akal dan keberpihakannya udah dibeli sama kekuasaan
Arsip Prabowo, Senin (30/12/2024):
"Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit, nggak usah takut apa itu namanya membahayakan, deforestation.
Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Benar nggak? Kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan?"
Siklon di dunia intensitasnya makin tinggi (menguat) dan wilayah yg tadinya “aman” jadi berisiko.
Pemanasan global (akibat aktivitas manusia) memperparah siklon yg sudah ada.
Lebih lanjutnya jangan percaya saya tapi laporan 254 halaman ini aja.
https://t.co/UyF3BwL9fp
Banjir longsornya jelas karena ketidakmampuan tanah untuk meresapi curah hujan tinggi. Karena apa? Hutannya gundul gada pohon..
Di sisi lain gundulnya hutan pohon bikin gas karbon terperangkap+bikin efek rumah kaca makin parah, bumi makin panas, pola cuaca berantakan+ iklim berubah
#TempoThread
Presiden Prabowo berencana memperluas lahan sawit dan mengorbankan pohon hutan.
Katanya, sawit juga pohon yang dapat menyerap karbondioksida🌳
Tapi, emang pohon sawit dan pohon hutan itu beneran sama, ya?🤷♀️
A Thread