Dengan bukti telak dan mutlak mahasiswa dan para ojol yang ngaku disewa puluhan juta untuk “bertemu” dengan Gibran lalu disebarluaskan berita positifnya, @gibran_tweet bersama tim media akan memutar otak untuk tdk menggunakan cara2 demikian lagi untuk manipulasi citra dan persona. Ia akan menaikkan ‘bar’ sosok yang dibayar. Bisa lembaga atau figur legitimate dgn ‘price’ yg jauh lebih besar. Tunggu saja.
Inilah beban berat sejarah bangsa yg tak terpecahkan selama kita dipimpin perusak etika dan norma yg percaya semua bisa dibeli, direkayasa dan dibayar. Bagaimanapun watak ke Fufufafa an akan muncul dalam dirinya dalam hidup yang nyata: manipulatif dan penuh dendam.
Cara2 manipulatif dan penuh dendam sesungguhnya sudah kentara sejak dulu. Contoh ia selalu meretweet kritik atau mention netizen yang mempermasalahkan kinerjanya saat jadi walkot dengan bahasa: “Siap salah, “Bapak benar, atau sekedar retweet saja. Ia sesungguhnya sedang memberi pesan pd buzzer bayaran: “Serang ini!”
Masih ingat secara spontan dia memprovokasi pendukung di debat capres dgn cara bangkit berdiri meminta sorak-sorak lebih kencang? Atau menghina Mahfud MD dengan celingak-celinguk di podium? Atau melontarkan pertanyaan dgn singkatan atau pertanyaan super susah yg tdk ada kaitannya dgn debat hanya untuk menjatuhkan lawan? Lalu dgn vulgar mencium tangan dgn membungkuk keterlaluan? Persis spt Jokowi. Licik dan licin tapi bergaya bijak dan sok sopan.
Itu adalah bukti2 sifat manipulatif terpendam, tapi ‘kelepas’ atau ucul karena dia sering tdk bisa mengendalikan emosi. Belum lagi membayar views dan komentar di Youtube dan IG nya agar tampak ‘didukung’.
Jadi camkan, apapun manuver Gibran tdk akan ada yang otentik, murni, atau berangkat dari hati. Selamanya.
tercatat ada 8000 WNI yang sedang meminta proses pergantian kewarganegaraan dengan alasan:
- Gaji bagiakan langit-bumi
- dokter di Indonesia Rp10-30 juta, di Singapura Rp95-130 juta.
- Sama-sama dokter tapi dihargai 10x lebih tinggi di luar
- Pajak Indonesia nyekik 35% belum termasuk pajak tidak resmi dari oknum berseragam & ormas.
- Di Singapura cuma 24%, bersih, transparan
- Lapangan kerja tidak sesuai ekspektasi 7,24 juta pengangguran,
- lulusan pintar tidak terpakai di negeri sendiri
- Kualitas hidup jauh lebih baik di luar
- pola pikir terbuka, sistem lebih jelas, tidak ada pungli
- Negara tidak hilirisasi
- otak-otak cerdas Indonesia tidak dibutuhkan di dalam negeri, akhirnya dinikmati negara lain
- Negara kaya tapi rakyatnya kabur karena kekayaan dinikmati segelintir orang, bukan yang bekerja keras
HP temen gue hilang. Besoknya syok berat, tagihan Paylater Rp12 juta dari transaksi yang gak pernah dia lakuin.
Aplikasinya dengan enteng bilang, "Pelaku masuk pakai PIN asli, berarti kelalaian user."
Temen gue sampai depresi. Gue langsung turun tangan.
3 hari kemudian, tagihan itu resmi jadi Rp0. Total biaya jadi Rp0.
Ini yang gue lakuin:
Bukan nyari HP lewat GPS. Prioritas utama adalah, amankan semua akun finansial dari perangkat lain. Login dari device cadangan, force logout semua sesi aktif. Terus telpon operator, blokir SIM card sementara. Ini krusial biar pelaku gak bisa terima OTP via SMS.
Yang paling penting dan kebanyakan orang gak tahu yaitu, minta log IP address + Device ID dari semua transaksi. Email resmi ke CS, minta data lengkap. Ini bukti kuat kalau transaksi dilakuin dari perangkat dan lokasi yang BEDA dari lo.
Buat laporan polisi (STPL). Banyak orang males ke polisi, padahal ini bukti hukum resmi bahwa lo korban, bukan pelaku yang pura-pura hilang.
Kirim surat sanggahan resmi via EMAIL, bukan chat CS biasa. Lampirkan kronologi, foto STPL, permintaan pembekuan tagihan selama investigasi. Chat CS gampang diabaikan, email formal punya kekuatan hukum.
Mereka masih nolak? Lapor OJK. https://t.co/vDQmTDwwDW atau telpon 157. OJK punya wewenang penuh buat nindak platform yang abai perlindungan konsumen. Begitu laporan OJK masuk, respons mereka biasanya berubah 180 derajat.
Alasan "PIN asli = kelalaian user" itu gak valid secara hukum. POJK 6/2022 bilang perusahaan WAJIB punya verifikasi berlapis untuk transaksi tak wajar. Kalo sistem mereka gak bedain pemilik asli vs pelaku, itu kegagalan MEREKA.
Hasilnya, hari 1 laporan polisi + sanggahan. Hari 2 eskalasi OJK. Hari 3 tagihan Rp12 juta DIHAPUS jadi Rp0.
Btw, stop nyatet PIN di Notes HP lo.
belajar mengenal laut dan hewan di dalamnya lewat buku terbaruku, Arcana Oceanis yuk!
dicetak terbatas, bisa cek di sini: https://t.co/RgEvxtku3V
tinggal 778 eksemplar, masukkan kode ARCANA5 pas mau checkout biar dapat potongan ❤️
> be Susilo Bambang Yudhoyono
> presiden ke-6 Indonesia
> naikkan bensin 400 perak diumumkan seminggu sebelumnya
> pidato live TV minta maaf tulus kepada rakyat
> tsunami Aceh langsung turun lapangan menetap di lokasi
> berhasil selamatkan Indonesia dari krisis finansial global 2008
> nilai tukar Rupiah terjaga stabil kisaran 9000
> rasio utang negara turun drastis di bawah 30%
> lunasi sisa utang kepada IMF lebih cepat dari jadwal
> berhasil bawa Indonesia masuk ke dalam keanggotaan G20
> wujudkan perdamaian di Aceh setelah konflik berdarah puluhan tahun
> sahkan program BPJS Kesehatan untuk melindungi rakyat Indonesia
GMAIL LO BUKAN PENUH. CUMA KOTOR DOANG.
Tadi storage gue udah 13.8GB dari 15GB, hampir aja bayar Google tambahan.
Eh ternyata bisa dibersihin dalam 20 menit doang, tanpa ilang satu invoice penting pun.
Langsung pake 5 filter otomatis ini:
Gaji 15 Juta Tapi Istri Masih Ngeluh Kurang. Bukan Istrinya yang Boros, Bapak Aja yang Gak Punya Sistem.
Tanggal 25, gajian cair. Bapak buka mobile banking, transfer 15 juta bulat-bulat ke rekening istri. Bapak taruh HP di meja, senyum bangga, lalu bilang: "Udah masuk ya Ma, semua gaji bulan ini. Atur aja."
Gaji Bapak 10 juta. Pengeluaran tetap 7 juta. Secara matematika, harusnya sisa 3 juta.
Tapi tanggal 23, Bapak buka m-banking. Saldonya: Rp 147.000. Masih seminggu sebelum gajian.
Istri WA: "Mas, susu anak habis. Beras tinggal setengah kilo."
Bapak baca. Bapak ketik: "Bentar ya, nanti Bapak transferin."
Tapi Bapak gak transferin. Karena Bapak gak tau harus transfer dari mana.
Ke mana hilangnya 3 juta itu? klo bpk ga nulis pengeluaran, dijitak istri
*Rahasia di Balik Daging Qurban Alot & Bau*
Pernah gak dapat daging qurban yang pas dimasak rasanya alot banget mirip sandal jepit, plus baunya prengus minta ampun? 😩🥩
Secara ilmiah, ternyata ada alasan kenapa daging qurban sering kali lebih keras dibanding daging supermarket. Yuk, kita bongkar rahasianya di thread ini! 👇
Dikasih tau sama temen aku orang luar kebiasaan mereka selalu digunakan 😭
Buat bayi yang batuk sampe gak bisa tidur…
Dan pas dicobain eh beneran dong nyenyak sampe pagi 🥹🙏🏻
Ya Allah, lindungilah kedua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan, yang diduga diculik oleh militer Israel. Selamatkanlah mereka sehingga bisa kembali ke tanah air dalam keadaan sehat. Amin ya Rabbal 'alamin.
WAKTU TERBAIK BUAT BELI BARANG
iphone → oktober
emas → juni & juli
mobil → desember
cooler → februari
kulkas → oktober
mesin cuci → maret
ac → januari
tv → desember
motor → november
laptop → september
headphone → november
smartwatch → april
Ganti presiden → 2029 jika bisa lebih cepat
orang pintar bukan cuma cari diskon, tapi tahu kapan harga paling murah.
Bookmark postingan ini sebelum belanja besar.
ASTAGA… KENAPA BARU TAU SEKARANG‼️😭
Ternyata gak perlu beli worksheet anak..
Ada banyak website yang nyediain printable worksheet GRATIS buat stimulasi anak di rumah, tinggal download + print sendiri🥹✨
Serius ini ngebantu banget buat daily activity toddler 👇🏻
Tiga hal yang mungkin perlu mulai kita wariskan selain biaya kuliah:
1. Cara berpikir soal uang dan cara kerjanya.
2. Satu skill konkret yang langsung bisa dipakai di dunia nyata.
3. Kejujuran bahwa dunia sudah berubah dan kita harus berubah cara mempersiapkan anak.
Bukan soal salah siapa.
Tapi soal mau berubah atau tidak.
Orang tua kita kerja mati-matian karena sayang.
Itu tidak pernah salah.
Tidak akan pernah salah.
Yang perlu kita perbarui bukan niatnya. Tapi petanya.
Karena anak-anak kita berhak dapat bekal yang sesuai dengan dunia yang akan mereka hadapi, bukan dunia yang sudah kita tinggalkan.
Setelah jadi orang tua dan mikirin ini lebih dalam,
saya jadi sadar, menyiapkan anak itu bukan soal seberapa besar pengorbanan kita.
Tapi seberapa jujur kita mau belajar bareng mereka. 🙏🏻
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Anak saya suka sekali main lego dan belakangan suka nonton content creator lego. One day dia bilang kalau besar mau jd content creator lego.
Lalu saya coba lihatkan video dan foto bangunan arsitek dan mesin2 aeorspace, saya bilang ini the real life lego.
Sejak itu tiap anak saya lihat bangunan yg estetik atau mesin besar dia suka bertanya itu bikinnya gimana, bahannya dari apa aja, gambar awalnya gimana ya.
Memang bener sih, dulu kita sering ditanya kalau gede cita2nya mau jadi apa. Saya baru mulai biasakan ke anak saya, suka dan maunya bikin apa. Bikin nggak sekedar bikin tapi apa yg kelak bisa bermanfaat buat banyak orang.