If you're an Arsenal fan and never got the chance to watch Arsenal's trophy lift, you can relive all 44 minutes of Arsenal's title winning celebrations here 😍
Gue mau nulis agak panjang tentang fenomena "Arsenal vs everybody" di era sosmed ini, dan coba se fair, dan sejujur mungkin.
Kalo ada yang mau komen dengan opini jujur silakan, mau repost kalo sepemahaman ama gue juga terimakasih
Gue ijin quote postingan ini ya kak @arsenatasyas , karna gue nganggep di mutual gue, beliau ini salah satu Gooners yg rasionil, dan argumen nya kuat.
Jadi alasan utama kenapa buanyak banget fans base dari banyak klub, bahkan di luar PL jadi pada seneng ngledek, atau istilah yg lg hits - ngebanter, menurut gue (udah banyak yg bilang juga), adalah karena :
Banyaknya akun" yang boleh dibilang besar, sangat besar, dalam dan luar negeri, seringan bikin konten, teks atau video, yang emang sifatnya rage, click bait. Demi farming engagement. Dan, harus diakui, berhasil.
Yang mengherankan, ada juga yang secara kasat mata ga cari engagement demi monet, tapi sering kali opininya, -- sorry, ga berdasar. Tapi ya sudahlah 😃
Situasi ini, lagi lagi di era sosmed ini jadi bola salju yang akhirnya berujung pada munculnya posting / konten yang merupakan reaksi atas komen" ngawur tadi, yang terlihat, atau emang keliatan men-generalisir semua fans Arsenal kek orang" dibalik akun" tadi.
Dan karna akun" yang direspon publik tadi masih juga ga berubah, ya sudah, membuncah lah itu publik yg aktif di sosmed, lebih nylekit dalam ngebanter
Padahal banyak juga Gooners yang rasional, pun risih ama kontennya akun akun tadi. Gue banyak punya kawan Gooners, yang sering duduk bareng ngopi ngebir, dan punya opini masuk akal. Banter? Biasa.
Nah yang jadi "korban" menurut gue justru yang rasionil ini. Karena makin nylekitnya opini fans dari klub lain, akhirnya kecebur dan ikut bereaksi.
Rame lah temlen.
Perihal istilah HARAMBALL , gue kmrn sempet lempar topik diskusi, bahwa haramball adalah hak smua klub bola, dan oleh sebab itu maka penghakiman atas itu harus dikurangi di lini masa, karena ... halaaah, malah memplesetkan pembukaan UUD
Ya begitulah intinya, haramball adalah approach pragmatis, untuk tujuan utama glory. Latar belakangnya? Banyak.
Yunani di Euro 2004, udah sampe final lawan Portugal, tuan rumah dengan squad bertabur bintang saat itu.
Internazionale di final UCL 2010 vs Barcelona juga melakukan hal yang sama.
Bahkan, dari aspek defensive yang rigid, LFC di semifinal leg 2 2005 lawan Chelsea udah mendekati kategori ini, possession 40% vs 60%
Pada kasus Arteta, gue coba minta jeminai bikin infografis hasil olah data dari sejumlah sumber.
Dari situ gue menyimpulkan, kenapa memilih approach ini, utamanya ya demi glory, prestasi. Arteta perlu membuktikan diri bahwa dia mampu, setelah memasuki musim ke 7 nya menukangi Arsenal.
Dan yang mungkin (dugaan gue) , adanya tuntutan dari manajemen untuk segera mewujudkan prestasi, setelah memberikan support penuh untuk berproses, berprogres, dalam bentuk nyata invenstasi cukup besar. Nett spend Arsenal sejak ditukangi Arteta sekitar £760 juta.
Tapi emang ga smua akan suka, bahkan bbrp kawan gw yang fans Arsenal, yg menikmati era Wengerball juga bilang ga menikmati. Karena dahulu terbiasa liat maen cepet 1-2 touch pass ala Henry, Bergkamp, Pires, Ljunberg.
Gue bahkan dulu berharap LFC era itu, bisa maen kek Arsenal.
Kira kira gitu lah. Panjang lebar tulisan sepi makna ini
Tabik
Arsenal juara bikin kita lihat Rice, Saka, Odegaard, Arteta, dan Emirates yang meledak.
Tapi di balik semua itu ada mesin yang lebih sunyi: revenue.
Karena di sepakbola modern, trophy tidak cuma dimenangkan di lapangan.
Trophy juga dimenangkan di laporan keuangan. 🧵
Source pic: The Athletic