Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
رجل مهاجر ومشرد يقترب من بائع تاكو في الاكوادور ويمد له يده لكن البائع رفض اخذ المبلغ وحضر له الاكل واعطاه، واكتشف ان الرجل كان بحاجة الى حضن اكثر من الطعام
Una cámara de seguridad instalada en una estación de metro de Bogotá captó una escena que nadie esperaba y que, días después, inspiraría a millones de personas en redes sociales.
Todo ocurrió un lunes a las 5:42 de la mañana. Mientras gran parte de la ciudad aún dormía, las cámaras mostraban a Mateo, un joven de 19 años que trabajaba limpiando los pasillos de la estación durante la madrugada. Llevaba un uniforme desgastado, unos zapatos viejos y una mochila negra apoyada junto a un cubo de agua.
Al principio, las imágenes parecían una rutina común. Mateo barría el suelo mientras los pasajeros pasaban apresurados sin mirarlo. Pero minutos después ocurrió algo que cambió por completo la percepción de quienes vieron el video.
Cuando terminó de limpiar una esquina de la estación, sacó varios libros de su mochila, miró el reloj y se sentó en el suelo junto a la pared para estudiar. Con los mismos guantes de trabajo puestos, comenzó a repasar apuntes de matemáticas y física. Cada cierto tiempo se levantaba para seguir limpiando y luego volvía rápidamente a sus libros.
Durante casi dos horas repitió exactamente la misma rutina:
Trabajar. Estudiar. Trabajar. Estudiar.
Sin descanso.
Más tarde, uno de los supervisores reveló que Mateo llevaba más de un año viviendo así. Trabajaba desde la medianoche hasta las seis de la mañana y después viajaba directamente a la universidad para asistir a sus clases de ingeniería.
El video se volvió viral cuando una empleada del metro compartió las imágenes con una frase que conmovió a miles de personas:
“Mientras muchos se rinden por cansancio, otros luchan en silencio por sus sueños.”
Las redes explotaron. Millones comenzaron a compartir el clip, impresionados por la disciplina del joven. Aunque el cansancio era evidente y por momentos parecía quedarse dormido, Mateo siempre volvía a abrir sus libros y continuaba estudiando.
Días después, periodistas lograron entrevistarlo. Con una sonrisa humilde, contó que su padre había fallecido cuando él era niño y que su madre sobrevivía vendiendo comida en la calle. Desde pequeño entendió que la única forma de cambiar su vida era estudiando.
“Hay días en los que siento que no puedo más”, confesó. “Pero recuerdo por qué empecé. Quiero darle una vida mejor a mi mamá.”
Sus palabras tocaron el corazón de millones. Poco después, la universidad confirmó que Mateo no solo estudiaba ingeniería, sino que además era uno de los mejores alumnos de toda la facultad.
Tras la viralización, muchas personas decidieron ayudarlo. Una empresa se ofreció a cubrir todos sus gastos universitarios hasta graduarse y otras personas le regalaron una laptop y materiales de estudio.
Pero más allá de la ayuda o la fama, lo que realmente impactó fue el mensaje que dejó su historia.
Ese viejo video de CCTV recordó algo que muchas veces se olvida: los sueños más grandes suelen construirse en silencio. Detrás de cada logro casi siempre existen noches largas, sacrificios invisibles y personas que, aun estando agotadas, se niegan a rendirse.
Hoy, la estación de metro sigue funcionando como cualquier otro día. Pero para millones de personas, ese rincón donde un joven estudiaba sentado en el suelo se convirtió en un símbolo de disciplina, esfuerzo y esperanza.
Lucu banget emang negara kita. Statusnya doang raja sawit dunia, tapi pas ada ilmuwan jenius asli ITB mau neliti kode genetik sawit malah dicuekin. Ujung-ujungnya riset dia dibayarin Malaysia sama Amerika, dan sekarang hak patennya malah dipegang tetangga sebelah.
Nama ilmuwannya Dr. Muhammad Arief Budiman. Dulu pemerintah kita gak punya visi sama sekali buat ngedanain riset DNA sawit. Karena keahliannya gak difasilitasi di negeri sendiri, si pak dokter akhirnya merantau ke Amerika buat lanjutin riset raksasa ini.
Pas tahun 2013, dia beneran sukses memetakan seluruh kode genetik kelapa sawit yang berharga mahal banget itu. Tapi ya gitu, karena modal risetnya dari kantong pemerintah Malaysia dan perusahaan Amerika, keuntungan mutlak dari penemuan maha karya ini ya gak lari ke Indonesia.
Bener-bener definisi punya aset emas tapi yang pinter malah numpang digaji di rumah tetangga karena di rumah sendiri cuma disuruh sabar dan ikhlas. Giliran udah sukses di luar negeri, baru deh nanti akun jurnalis pada sibuk bikin judul "Bangga! Anak Bangsa Mengharumkan Nama Dunia". Pret lah wkwk.
1/
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
Banyak yg tanya soal kasus Nadiem. Ada yang DM, “Kok Abang diam di kasus Nadiem?”
Pagi ini saya bunyi.
- Saya menyimak pendapat Pak Anhar Gonggong
- Saya mengamini semua opini Anhar
- Lebih dari itu Zyrex konon indikasi diambil grup LBP, mereka kebagian dominan pengadaan Chrome Book
- pihak kedua terbanyak adalah https://t.co/BRlznyGhJf.
Khusus Bhinneka saya pernah 3 tahun di sana, sebagai Creative Director, mulai 2001. Saya kenal pendirinya dan pengelolanya. Selama saya di sana bhinneka tiga tahun berturut daoat Bubu Award, e-commerce terbaik.
Premis saya: HARGA CHROME BOOK itu ketinggian. Fakta sudah jauh hari direncanakan.
Soal hukuman Nadiem ketinggian? Bagi saya salah dia sendiri tak berani buka suara indikasi Jkw, LBP, menjadi bagian. Maka dia telan sendirilah barang ni.
Begitu opini saya. Jadi saya tak ikut advokasi Nadiem. Pun sebagai Mendiknas, saya menyimak ia tak paham pedagogik, di eranya tak ada terobosan pendidikan mendidik!
Demikian
Kita kesampingkan Nadiem, iseng sorot google.
Sy punya dugaan (semoga salah ya), bhw google ingin melakukan lock-in ekosistem di Indonesia (terutama para pelajar), & itu bukan sekadar strategi bisnis cari untung.
Itu adalah bagian dari strategi hegemoni digital global.
Indonesia punya populasi terbesar ke-4 di dunia dng struktur usia yg sangat muda (bonus demografi).
Target jangka panjang mereka adalah, dng memasukkan chromebook & google workspace ke sekolah², google bukan hanya jual laptop hari ini, tp juga utk yg lebih luas kelak.
Mereka sdng membentuk kebiasaan (habit formation) ratusan jt calon konsumen, pekerja, & pemilih masa depan.
Merka ingin menciptakan siklus ketergantungan alami. Cmiiw.
Gak cuma 2, tp puluhan Dirjen dan Direktur dicopot dr jabatan trs dijadiin Plt (Pelaksana Tugas) !
Tp 2 org itu (Dir. SD dan Dir. SMP) lebih krusial karena mereka anggota tim teknis dan menolak chromebook.
Netizen mana tau fakta ini. Pokoknya Nadiem dikriminalisasi !
Punteun, yang menghapus rekrutmen CPNS Guru itu terjadi di era beliau.
Jutaan guru kami sekarang terjebak dalam skema PPPK yang dimana, guru guru kami terancam putus kontrak jika kemampuan fiskal daerah tidak mendukung
Dan kini, anggaran pendidikan sendiri telah dipangkas oleh MBG. Ini jelas jelas berpengaruh terhadap pengurangan dana transfer ke daerah khususnya soal anggaran pendidikan
Dan setiap 5 tahun, guru guru kami was was soal keberlanjutan karir mereka & ini bukan masalah kinerja baik/buruk, ini soal anggaran daerah. Apalagi ini guru ASN yang jumlahnya mencapai jutaan
Selama Nadiem jadi menteri yang paling membekas tuh keluar istilah "komersialisasi pendidikan", kenaikan UKT yg tinggi bgt, sampe ada regulasi PTN BH. Ini masih ada data pas rapat isu semasa aku masih di persma
Aku inget banget di base, ada beberapa cerita soal mereka sampe mengundurkan diri karena dapet golongan paling tinggi pembayaran IPI pas pendaftaran mahasiswa baru
Terus yg paling parah Sekjen blunder bilang "pendidikan tinggi hanya kebutuhan tersier"🫠