Ada beberapa buku terjemahan yang tidak kuat sya baca. Tentu saja krna kualitas terjemahannya yg tidak cocok, jika tidak dikatakan jelek. Ketakutan akan hal itu meneror sya bahkan sebelum menyelesaikan paragraf pembuka cerita ini. Barang pertama, novel ini lahir dari tanah Madagaskar. Negeri yg sya tidak pernah membayangkan entah ada di bagian bumi sebelah mana. Kedua, diterjemahkan dari Bahasa Prancis. Prancis mungkin sya mafhum, sebagai penikmat sepakbola, bodoh saja kalau tidak tahu asal negara dari Ngolo Kante itu. Tapi bagaimanapun, soal kebahasaan, Bahasa Prancis sungguh berada jauh di luar jangkauan sya. Jangankan Bahasa Prancis, Bahasa Inggris saja sya tidak pernah beranjak dari level dasar.
Ketakutan saya itu ternyata keliru. Membuka halaman demi halaman justru membuat saya lupa bahwa ini adalah novel terjemahan. Sya tenggelam dalam keseruan petualangan dengan gaya penceritaan yg mengalir. Kalimat dan susunan kata-kata yang sepenuhnya tidak harus membuat sya sampai haris mengernyitkan dahi. Satu-satunya adaptasi yg perlu sya kuatkan adlah mencoba terbiasa dengan istilah dan nama tokoh yg tidak biasa sya dengar. Hal lazim yang harus dilakukan ketika bersentuhan dengan realitas dan budaya yg jauh dari asal-usul kita.
Sebagai pembaca yg membaca hanya sebagai sarana rekreasi, juga upaya kecil melarikan diri dari hidup yg sudah teramat kacau, tentu saja ini bukan resensi atau tulisan yg memiliki nilai literasi. Dalam hal menilai buku, saya cuma punya dua pilihan. Enak atau tidak, menurut kapasitas saya. Dan soal novel ini, sya pastikan enak. Terima kasih untuk Marjin Kiri dan Lisa Soeranto yg sudah menghadirkan petualangan Tibaar ke tengah-tengah kita jauh dari belahan bumi sana.
yaelah Daffa Ulhaq, sehari-hari jelekin islam dan ulama, ngaku sejarawan tapi ngutip Snouck, teriak dekolonialisasi tapi distorsi budaya suku bugis supaya westernized, nuduh orang buzzer pemerintah, nyuruh gue baca buku queer biar gak bodoh kayak rezim prabowo, tapi sendirinya ternyata diajak jalan-jalan yang gak seberapa sama gibran aja mau🤣
jadi murtadin gagal move on, jadi anarko cuman larping, jadi queer tapi gak sadar kelas, jadi buzzer gak sesuai sama jejak digitalnya, bawa almet UI tapi gak diakuin, malu-maluin gue aja lu @hist0riann
tuhan melindungi setiap langkah mereka yang turun ke jalan hari ini. terima kasih sudah memperjuangkan kepentingan semua orang. doa baik selalu. ✊🇮🇩 tinju ke atas.
Saya nggak akan lupa sama si bajingan ini. Hanya berjarak dari 2 minggu setelah Tragedi Kanjuruhan, dia main fun football bareng Jokowi di Stadion Madya.
Nggak punya empati sama sekali. Ketika Indonesia menolak Israel, dia menjatuhkan hukuman. Ketika Qatar dan Amerika jadi pelanggar HAM, dia bilang FIFA nggak bisa turut campur. Taik.
Neraka mungkin nggak akan mau menerika dia karena Gianni Infantino ini bikin minder setan paling jahat.
Piala Dunia 2030 bisa dikunci ini!❤️
- Rizky Ridho: 24 tahun
- Elkan Baggott: 23 tahun
- Mees Hilgers: 25 tahun
- Jay Idzes: 26 tahun
- Dony TP: 21 tahun
- Justin Hubner: 22 tahun
- Nathan Tjoe-a-on: 24 tahun
- Matthew Baker: 17 tahun
- Ivar Jenner: 22 tahun
- Marselino Ferdinan: 21 tahun
- Beckham Putra: 24 tahun
- Ole Romeny: 25 tahun
Setidaknya sampai 5 tahun lagi, masa depan timnas Indonesia cerah❤️
Tinggal gimana pembinaan perlu kita tingkatkan. Agar ketika generasi ini habis, generasi selanjutnya sudah siap.
@Edwinfauqon Sy jg tahunya karna punya bukunya mas, hehe. Memang khas banget. Baju2 band ERK, Silampukau, dan Majelis Lidah Berduri jg beberapa karya Pak Redi Murti. Oh ya, sama yg buku bukan 350 tahun dijajah.
Kita bisa lanjut ke pembahasan berikutnya: Apa anjuran tidak menilai buku dari sampulnya masih relevan?
Soalnya, bohong kalau sy bilang desain (dan kualitas) sampul bukan termasuk pertimbangan buat beli buku.
Contoh sampul buku yg sy suka: