Pahlawan itu bernama Sururi
“Agama mengajarkan bahwa merawat lingkungan itu sunah,” tutur Sururi, seorang pegiat lingkungan yang yang menjadikan agama sebagai pijakannya selama lebih dari tiga dawasawarsa dalam melawan beringasnya abrasi dan rob yang mengancam Kota Semarang.
Perjuangan Sururi dimulai pada 1995. Saat itu, konversi hutan mangrove menjadi tambak udang windu secara masif telah menghilangkan benteng alami pesisir, mengakibatkan abrasi yang mencapai 3,5 kilometer dari garis pantai semula.
Pada masa awal ini, Sururi berjuang sendirian dengan modal pribadi yang sangat terbatas. Ia mencari bibit hingga ke luar daerah, namun tingkat kegagalannya sangat tinggi.
Tahun 1997 menjadi titik balik penting ketika Sururi bertemu dengan Prof. Sudharto P. Hadi, seorang akademisi dari Universitas Diponegoro. Pertemuan ini menjembatani semangat akar rumput Sururi dengan bimbingan ilmiah mengenai penanaman mangrove.
Sejak saat itu, Sururi telah menanam jutaan pohon yang kini berdiri kokoh membentuk barikade hijau seluas lebih dari 85 hektare. Dampaknya, ia berhasil mendorong mundur garis laut yang semula kritis menjadi berjarak sekitar 1,3 hingga 1,4 kilometer dari permukiman.
Keberhasilan ini pada akhirnya menyelamatkan tempat tinggal bagi kurang lebih 15.000 jiwa di tiga kelurahan di Kota Semarang: Mangunharjo, Mangkang Wetan, dan Mangkang Kulon.
Masyarakat menjulukinya sebagai “Kiai Mangrove” atau “Profesor Mangrove”. Puncaknya, pada tahun 2024, Pemerintah Indonesia menyematkan penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan sebagai penghormatan tertinggi bagi sang penjaga pesisir yang telah mewakafkan hidupnya demi masa depan anak cucu.
Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia, mari kita simak kisah konsistensi Sururi dalam menjaga pesisir Kota Semarang.
Source: National Geographic Indonesia
(26/08) PPP Bajomulyo memberikan fasilitasi Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Ivet Semarang, dihadiri oleh Paguyuban Coldstorage, HNSI Pati, SMKN 4 Pati, SMK JAPA. Ada berbagai beasiswa yang ditawarkan termasuk 30 kuota beasiswa KIP pada Fakultas Kemaritiman
(28/08) Kepala PPP Bajomulyo memimpin rapat koordinasi dan sosialisasi rencana pelaksanaan rehabilitasi dermaga TPI Juwana Unit 1 yang akan dimulai minggu ini. Dihadiri instansi tim maritim terpadu juwana dan paguyuban nelayan serta paguyuban basket dan coolbox.
@dkpjateng
Ketika YouTube dan TikTok Menjadi Koran Pagi
Dulu, orang memulai hari dengan koran di meja makan.
Hari ini, mereka membuka TikTok di tempat tidur.
Kalau dulu berita datang dari jurnalis, sekarang ia datang dari wajah-wajah muda yang berbicara cepat di layar ponsel.
Kalau dulu berita dibaca, sekarang berita ditonton—dalam video vertikal 60 detik, dengan musik latar dan subtitle berwarna.
Perubahan ini tidak lagi sekadar tren.
Ia adalah realitas baru yang diperlihatkan oleh Nic Newman dari Reuters Institute dalam presentasinya di Global Media Forum 2025.
Data yang Tidak Bisa Diabaikan
Dalam survei global, Nic menunjukkan bahwa:
Di India dan Thailand, lebih dari 55% pengguna menggunakan YouTube untuk mencari berita setiap minggu.
TikTok, yang dulu dianggap aplikasi joget, kini menjadi sumber berita utama bagi generasi muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia, Filipina, dan Brasil.
Di Afrika dan Amerika Latin, dominasi platform video ini bahkan lebih kuat—karena aksesnya lebih mudah, tampilannya lebih menarik, dan bentuknya lebih ringan daripada membuka portal berita.
Koran?
Televisi berita?
Bahkan Facebook?
Semakin banyak ditinggalkan.
Apa yang Salah dengan Itu? Mungkin Tidak Ada. Tapi Juga Tidak Sederhana.
YouTube dan TikTok memang membuka ruang yang lebih demokratis.
Semua orang bisa menjadi reporter. Semua peristiwa bisa terdokumentasi. Tidak perlu izin redaksi. Cukup kamera depan dan koneksi internet.
Tapi...
siapa yang mengkurasi?
siapa yang memverifikasi?
siapa yang bertanggung jawab?
Di balik algoritma TikTok, tidak ada redaktur. Yang ada adalah logika keterlibatan:
Semakin kontroversial, semakin naik.
Semakin emosional, semakin disebar.
Semakin aneh, semakin dilihat.
Dan tanpa sadar, kita tidak lagi membaca berita untuk tahu apa yang penting. Tapi untuk tahu apa yang ramai.
News is Now a Performance
Di TikTok, berita bukan lagi laporan.
Ia adalah performansi:
Bagaimana Anda menyampaikan emosi.
Bagaimana Anda menjelaskan krisis geopolitik dalam 30 detik.
Bagaimana Anda menarik perhatian sebelum swipe ke konten selanjutnya.
Yang muncul di layar bukan jurnalis. Tapi creator.
Yang menentukan bukan redaksi. Tapi algoritma.
Apakah semua creator itu buruk? Tentu tidak.
Beberapa sangat cerdas, adil, dan bahkan lebih berani daripada jurnalis konvensional.
Tapi sistemnya?
Ia tidak dibangun untuk kebenaran. Ia dibangun untuk keterlibatan.
Dan di situlah masalahnya.
Paradoks Baru: Informasi Semakin Mudah Diakses, Tapi Kebenaran Semakin Sulit Dikenali
Ketika YouTube dan TikTok menjadi sumber utama berita,
kita sebenarnya sedang bergerak dari struktur editorial ke pasar atensi.
Berita yang kita terima tidak lagi ditentukan oleh nilai jurnalistik,
tetapi oleh logika teknologis:
> Yang paling banyak ditonton = yang paling banyak dipercaya.
Ini adalah demokratisasi, tapi juga disorientasi.
Ini adalah kebebasan, tapi juga kebingungan.
Bukan Soal Platform, Tapi Soal Prinsip
Kita tidak bisa menyalahkan TikTok atau YouTube.
Mereka hanya cermin dari apa yang kita cari, apa yang kita klik, dan apa yang kita habiskan waktu untuk menonton.
Yang perlu dipertanyakan adalah:
Apakah kita masih ingin tahu kebenaran?
Atau kita hanya ingin tahu apa yang sedang viral?
Dan yang perlu dipikirkan newsroom adalah:
Bagaimana membawa prinsip jurnalisme ke dalam format baru—bukan sekadar pindah ke platform baru.
Karena jika berita hanya mengikuti suara terbanyak,
maka yang akan hilang bukan hanya institusi,
tetapi kebijaksanaan kolektif kita sebagai masyarakat.
IF/AI
Buat anak-anak daerah atau siapapun itu, kalo kalian mau mulai bisnis di bidang agribisnis, gue kasih utasnya nih!
GRATIS!
Syaratnya, share dan save thread ini dulu ya!
This is Borobudur in Indonesia, one of the world's most important and mysterious buildings.
Why? Because it's the largest Buddhist temple ever built — and it was also abandoned for nearly one thousand years...
PPP Bajomulyo menerima penghargaan dari @kkpgoid sebagai Juara II Pelabuhan Perikanan Daerah Teladan. Pencapaian ini tak lepas dari kerja keras dan keikhlasan seluruh Pegawai di PPP Bajomulyo, semoga hal ini menjadi semangat dan motivasi untuk menjadi lebih baik kedepannya 👏🙏
Diskominfo Jateng berkomitmen memangkas angka anak stunting, lewat program Satu OPD satu Desa Dampingan. Di 2024, Desa Plosokerep-Sragen terpilih untuk diberdayakan selama setahun.
Pendampingan juga diberi untuk pemberdayaan UMKM, pemanfaatan internet, sampai pelatihan pertanian
Presiden AS Joe Biden diam-diam menyetujui pengadaan senjata dan pesawat tempur baru senilai miliaran dolar untuk Israel. Senjata yang disetujui Presiden AS minggu ini termasuk 1.800 bom MK84 berat 2.000 pon dan 500 bom MK82 berat 500 pon | #JoeBiden#Israel#AmerikaSerikat
@FitriAg18 Dulu pernah coba buat bakso dari berbagai ikan air tawar, yg paling enak memang bakso ikan lele. Tp bener ini bs sampai 80 rb/kg. Mantap lah klo begitu.👍👍
Pelatihan untuk Pelatih (TOT) tentang Pelatihan Berorientasi Aksi Partisipatif (PAOT) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO) dari tanggal 20 s/d 21 Februari 2024👏👍
@ilo@dkpjateng@cdkwtjateng@ppp_morodemak