[Panduan bila menemui opini nyeleneh ttg. agama di Twitter]
1. Cek dulu siapa yg ngomong. Punya background belajar agama atau sekadar cuap-cuap. Lihat pula apa warna agamanya.
Jika tidak jelas, skip atau counter. Jika jelas, cek tahap selanjutnya.
@_rosyid__ Kenapa emangnya kalau belajar ke guru tak bersanad?
Mendiskreditkan hasil belajar orang, padahal hasil belajarnya bener lho. Lintas mazhab yang ngomong lho ini.
Lebih cepat ketikan penuh emosi daripada akalnya.
@WinonaAmanda92 Kita terlalu jahat kepada orang baik, dan terlalu baik kepada orang jahat.
Kalau Anies mesti standarnya tinggi jangan gini dan gitu.
Tapi klo ke Prabowo, semua ucapannya dicari alasan untuk husnuzon.
Kontrastrategi yg lagi ramai dijalankan: mengerdilkan aktivisme digital. Bahkan bukan sekadar itu, tetapi sampai di demonize.
At the same time kita harus sadar, marah di medsos belumlah cukup utk mengubah. Perlu ada pengorganisasian protes.
Upaya mengerdilkan aktivisme digital warga dalam isu kejahatan ekologis kebakaran hutan dengan tuduhan bahwa suara di ruang publik tak lebih dari ‘kebisingan yang menggeser gawang dari daerah ke pusat’, menjadi sebentuk kenaifan struktural.
@kevvraii Tetaplah bermimpi jadi orang hebat bro.
Yang perlu diluruskan bukan mimpinya, tapi prinsip ketika mencapai posisi ilmuwan itu.
Prinsip yg bagus dari UGM: locally rooted globally respected.
Punya aktivitas sosial di akar rumput meski academic geek.
@rayxelhudriano@thoriqatuna Beratus-ratus diskursus fikih saling mengkritik dan menyatakan salah.
Ini hanya masalah diskursus ilmiah. Bukan berarti menyatakan salah = mensesatkan menghinakan.
Paham nda?
@rayxelhudriano@thoriqatuna Ngga, ngga ngaco. Ini pandangan Mazhab lain. Ungkapan2nya juga tidak menyelisihi adab dlm belajar dan praktik fikih.
Masalahnya anda belajar atau tidak?
@reftif_ Masalah karhutla direduksi menjadi masalah ketidakpahaman daerah. Duh! Bertahun2 sudah perizinan lahan gambut selalu melibatkan pusat.
Kasian saya melihatnya, "phd reduksionis".
@yekakun@sibambaang Saya setuju ini. Saya penyimak speech dan dialog Anies di lintas ruang.
Masalahnya ada di masyarakat akar rumput yg mmg cenderung lebih peduli klo ada pemberian dan hiburan.
Apalagi ini konteksnya Kalimantan, sila simak ket. Deny Indrayana ttg duitokrasi.