Betul.
Ga usah selalu keliatan ingin baik adalah kunci, ga usah kejar perfection terus menerus.
Karena pada akhirnya, kita (bisa) jahat di cerita masing-masing.
Dan kita bukan kesempurnaan itu sendiri.
To live is to learn. Always.
Betul, ga ada yang sempurna di dunia ini. The point is, i’ve learned from my mistakes, and i will never make them again. Actually, kunci ketenangan adalah bodo amat about what people think because they never knew what i’ve been through.
i regret to inform you that personal growth rarely comes from acquiring new knowledge and almost always from:
-getting humiliated
-showing up terrified and doing it anyway
-admitting you might be the problem
Imagine nobody could see your life. No Instagram to post on. No one to impress with your job. No one to envy your travels. No one to admire your book collection. No one to praise your productivity. No one to validate your hobbies. What would you still want your life to look like? What would you do with your time? Be honest. If nobody could ever see your life, what would enough look like to you?
The older I get, the more I realize that energy management is more important than time management. You can have 10 free hours and accomplish nothing. Or you can have 4 hours of high energy and make enormous progress. Protect your energy, not just your calendar.
Unfortunately, you will have to teach yourself how to stop talking to someone you still want to talk to. You’ll cry, your chest will hurt like crazy, you’ll feel like you’re losing your mind. But you will survive it 😭
instagram has brainwashed an entire generation into thinking expensive international trips are a life goal, even when they don’t even own a house.
the west convinced you to fly thousands of miles, blow your savings, take 200 pictures and call it “finding yourself.”
every country has mountains, beaches and pretty streets.
western tourism propaganda is working exactly as intended.
Orang yang tangki cintanya penuh:
Dipuji, bilang "makasih."
Chat gak dibales, mikir "lagi sibuk kali."
Ajakannya ditolak, jawab "oke, next time."
Orang yang lagi belajar ngisi tangkinya sendiri:
Dipuji, refleks bilang "ah enggak", abis itu latihan bilang makasih.
Chat gak dibales, panik, terus nenangin diri.
Dia keliatan dari caranya bertahan, tanpa nyusahin siapapun, tanpa adu luka. Tetep jalan, meski gemetarnya masih ada.
Both are signs of growth.
One shows peace, the other shows courage.
Saya 2 tahun kerja di BRGM kedeputian Litbang. Selama periode kerja BRG mungkin ada > 200 riset didanai, termasuk juga kerjasama riset dengan WRI, DHI, dll.
Risetnya multidisiplin, bahkan interdisiplin.
Kita ga kekurangan riset, tapi risetnya yg gak pernah diimplementasikan.
Sanggahan utk @bagus_muljadi
Bagus Muljadi benar di beberapa poin teknis: lahan gambut memang sangat sulit dipadamkan (butuh volume air sangat besar, water bombing mahal dan sering “hit and miss”), riset prediksi berbasis meteorologi-hidrologi-tutupan lahan berguna untuk early warning, dan tumpang-tindih wewenang pusat-daerah memang menghambat respons.
Namun, keseluruhan framing-nya mengandung kelemahan serius yang membuatnya kurang berguna sebagai diagnosis kebijakan.
👇
Kesimpulan
Analisis Muljadi kuat di sisi teknis gambut dan pentingnya pencegahan berbasis data. Ia lemah sebagai diagnosis politik-ekonomi karena cenderung menggeser fokus ke “budaya” dan masyarakat sambil relatif lembut terhadap kegagalan regulator dan aktor ekonomi besar. Pendekatan yang lebih utuh harus menggabungkan:
- Prediksi dan sains (yang dia dorong),
- Penegakan hukum yang tidak tebang pilih terhadap korporasi,
- Insentif ekonomi yang membuat membakar lahan tidak menguntungkan,
- Penguatan kapasitas daerah tanpa meromantisasi “budaya riset” sebagai obat segala.
Tanpa itu, seruan “budaya riset” tetap menjadi retorika akademis yang aman, bukan solusi operasional.
Suka senewen liat akademisi yang mau "mengedukasi" masyarakat setempat soal hidup berdampingan dengan lahan gambut dan bertarung melawan kebakaran. Seakan, masyarakat setempat ga punya pengetahuan dan pengalaman bagaimana hidup di wilayah rawan kebakaran hutan (1/5).
Salah satu wildest dream gw adalah jadi asprof/dosen di oxford terus jadi geek dan maniac academic tp abis liat ini gw jadi gamau lagi.
Kayak, terlalu ga napak tanah mas. Issue gambut masalahnya karna lack of research? Common… maybe bisa jadi salah satu tp itu pst small part.
Hmmm sorry to say tapi stressing masalah kebakaran hutan pada ketiadaan budaya riset di daerah, dalam kondisi negara yang nggak percaya riset, nggak ngasih anggaran riset, dan Presiden yang bilang akademisi goblok sih……..agak absurd menurut saya.
@clumsy_exp Nggak ada yang bilang itu ga relevan😃
Lebih ke soal riset play a small part di kasus ini compared to enforcement dan juga tanggung jawab masyarakat nggak lebih besar dr company and pemerintah.
Bukan hujatan performative karena gak dapet untungnya jg😔
@bagus_muljadi Saya paham anda researcher di bidang lingkungan, tapi mungkin nggak ada salahnya buat explore point soal tanggung jawab lingkungan dr pemerintah dan company yg jelas2 punya andil lebih besar.
@bagus_muljadi Saya ga bilang semua org yg bahas riset = ga napak tanah mas 😔
Riset jadi berasa ngga napak tanah kalau pihak yang gak punya authority seperti masyarakat lokal yg dititikberatkan soal ini.