April tahun 2018.
BPPT bikin diskusi tentang potensi tsunami di Pandeglang.
Lalu, penelitinya dipanggil Polda Banten.
"Kita Polda tidak diam. Senin kita layangkan panggilan untuk dihadirkan Rabu atau Kamis," kata Dirkrimsus Polda Banten Kombes Abdul Karim saat dihubungi wartawan di Serang, Banten, Jumat (6/4/2018).
"Dengan dia melakukan pernyataan itu, sebagian besar warga Pandeglang khawatir. Kedua, investasi pengaruhnya ke sana, takut karena potensi tsunami," ujarnya.
"Kita lihat dulu motifnya, apa dasar bicara seperti itu."
"Bikin gaduh itu"
***
Desember 2018.
Tsunami terjadi.
Di Pandeglang.
Kalau ingat, Tsunami tersebut membawa korban.
Tiga personel band Seventeen tewas dalam peristiwa itu.
Jaklingko ini simbol gotong royong (yg duduk pojok akan bantu ngetap penumpang lain), juga simbol peduli rakyat jelata. Lu akan sering sekali menemui penumpang yg saldonya bener2 tiris (as in bahkan 5rb aja ga ada) dan mereka sgt bergantung ke sini. Nice policy @aniesbaswedan
Sebagai sandwich gen juga, dulu aku sempet mikir gini, sampe akhirnya aku sadar kalo rezeki kita yg besar itu adalah titipan Allah SWT utk anggota keluarga kita yg "ga punya" jalur rezeki sebesar kita.
"Gimana maksudnya?"
Aku jelasin di bawah 👇🏻
DIRECTOR'S NOTE
Pengepungan di Bukit Duri jelas menceritakan kelompok masyarakat (termasuk pelajar) yang memiliki nilai hidup yang rusak termasuk menjadi pelaku kekerasan dan rasisme. Perilaku seperti ini tidak mungkin terjadi di ruang hampa. Ini adalah produk dari SISTEM YANG GAGAL. Dengan menggambarkan kerusuhan sebagai siklus, film ini justru mengkritik pembiaran struktural—yang tentu saja mencakup negara sebagai aktor besar. Ini adalah pilihan kami ketika memutuskan untuk bersuara lewat Pengepungan di Bukit Duri. Kami tidak ingin membuat film ini menjadi panflet politik (walaupun kalau ada filmmaker lain yang melakukannya ya nggak apa-apa). Tapi setiap ruang kosong yang dibiarkan oleh negara—dalam pendidikan, keadilan, dan keamanan—diisi oleh kekacauan. Dan itulah bentuk kritik kami. Perhatikan di awal film ketika ada demonstrasi dan peserta demonstran dilempari, polisi hanya diam dan membiarkannya terjadi)
Ini adalah film tentang akibat. Tapi semua akibat punya sebab—dan itulah yang kami sisipkan dalam lapisan narasi. (Termasuk di berita-berita, bahkan public annnouncement di stasiun kereta).
Film ini nunjukin anak-anak yang brutal, tapi perilaku mereka bukan lahir begitu saja. Perilaku itu lahir dari masyarakat yang sudah terbiasa menyakiti. Dan masyarakat itu dibentuk oleh arah kebijakan, nilai-nilai negara, dan cara bangsa ini menyikapi luka.
Tipe film yang menunjukkan 'akibat' seperti film Pengepungan di Bukit Duri ini bukan baru. Malah biasanya film yang 'mengkritik vertikal' biasanya menunjukkan keabsenan penguasa dalam hidup karakter-karakter rakyatnya. Seperti film Parasite (2019). Film ini tidak menyebut pemerintah Korea Selatan secara langsung. Tidak ada menteri, presiden, atau polisi yang dikritik secara verbal. Tapi kita diperlihatkan ada keluarga miskin yang rumahnya setengah di permukaan setengah di basement yang toiletnya aja hampir setinggi langit-langit. Di sisi lain, keluarga kaya hidup di rumah beraksitektur keceh, yang bahkan nggak terbiasa dengan “bau” orang miskin.
Atau Shoplifters (2018), di mana satu Keluarga miskin dalam film ini mencuri bukan karena ingin jahat, tapi karena sistem ekonomi tidak memberi ruang hidup yang layak. Tidak ada menteri sosial dalam cerita. Tidak ada poster kampanye pemerintah. Tapi ketimpangan hidup kerasa banget.
Atau, nah ini salah satu film favorit saya, Bully (2001) bikinan Larry Clark yang juga nunjukin sekelompok remaja yang nilai hidupnya kacau. Tidak ditunjukkan secara eksplisit dalam film bahwa mereka adalah produk dari sistem yang gagal, dari pemerintah yang gagal melindungi mereka. Tapi jelas bisa ditarik kesimpulan.
Penonton kita nggak bodoh. Dan kita seharusnya berhenti bilang bahwa kalau bikin film harus dijelas-jelaskan sejelas-jelasnya, severbal-verbalnya biar penonton paham dan nggak salah paham seolah-olah cuman kita yang bisa paham dan orang lain nggak punya kemampuan untuk memahami. Betapa arogannya kita kalau begitu. Rasisme tidak pernah dilahirkan. Nggak ada anak terlahir rasis. (Ini kami tunjukkan secara gamblang lewat karakter Anak Pembuka Pintu). Tapi anak diajarkan untuk jadi rasis, oleh orang-orang dewasa yang terbentuk jadi rasis karena dibiarkan (bahkan dibentuk) oleh penguasa. Sejarahnya panjang di negeri kita, yang akan membuat penonton mau mendalaminya setelah menonton film ini. Sebuah film genre. Film yang penyajiannya dibuat agar aksesibel untuk siapa saja, bahkan mereka yang hanya hadir untuk menikmati filmnya sebagai hiburan. Dan dengan cara inilah kami percaya pesannya akan sampai ke lebih banyak orang. Karena film adalah pengalaman manusia dan bukan hanya slogan.
Terima kasih dan selamat menyaksikan.
Saya mah udah gak pernah nyervisin apa2 lagi di BEC. Mahal. Urusan servis hape/tablet android dan iPhone ke Kang Ajo di ITC Kebon Kelapa, urusan PC dan Laptop ke Pak Yakub di BTM Kircon. Murah, mantap, no tipu2.
Baru gajian, eh duit cuma numpang lewat.
Baru dapet bonus, eh ada aja pengeluaran mendadak.
Baru terima THR, eh malah harus ganti ban mobil.
Dulu aku selalu merasa seperti ini. Sampai suatu hari, guruku yang mulia mengajarkan mindset yang mengubah hidupku.
~A Thread
Gak ngurusin ranah yg jd hak Allah (takdir). Cukup mikirin ranah yg jd kewajiban seorang hamba (ikhtiar)
"Aku udh usaha tapi kok hasilnya bla bla"
Jangan. Jangan ngurusin. Itu hak Allah. Kita gak akan sanggup. Stress sendiri entar. Cukup ikhtiarnya aja yg dijalanin
@F2aldi tetap berprinsip menikah karena agama sih mas, jd kalau ada halangan nanti curhatnya se enak “Ya Allah aku menikah atas anjuranmu dan menjalankan agama, tunjukan kemudahan dan kelancaran atas ibadahmu”
at the lowest point berharap dan bersandar sama Allah itu enak banget