Why do talented people compete so fiercely for government jobs in China? In our @cps_journal paper with @FengBo10517365, @he_qiwei, and Xin Jin, we identify state power as a key reason—with implications beyond China. https://t.co/jAtXLc2Rt3 🧵
"Selama menjalankan tridharma"
-> Berarti S3-nya mesti di kampus sendiri
-> Di luar Jawa banyak kampus yang gak ada S3-nya
-> Sama aja boong
-> Kalaupun iya bisa dan diizinin di Jawa, di kampus sendiri
-> Tri dharma itu makan 40-60 jam seminggu
-> Kapan ngerjain riset kuliah S3-nya?
-> Sama aja boong
Emprut.
"Dari mana datangnya kekuasaan politik? Prinsipnya sederhana saja: diktator membutuhkan dukungan dari rakyat yang diperintah. Tanpa dukungan itu, diktator tidak akan sanggup mengamankan dan mempertahankan sumber-sumber politik" (hlm 24)
Donlot gratis di https://t.co/4J6VEhZjjL
Francis Fukuyama recently shared a compelling piece titled “The Myth of Authoritarian Efficiency” by political scientists Jørgen Møller and Svend-Erik Skaaning (Aarhus University / V-Dem project).
The article dismantles the popular notion that authoritarian regimes—particularly China—are simply better at “getting things done.” Drawing on historical data and comparative evidence, the authors argue that democracies consistently outperform autocracies over the long term across critical domains:
• Military effectiveness: Democracies have won more than 80% of wars since 1815. Greater legitimacy enables citizens to make greater sacrifices, and democratic alliances prove more durable.
• Economic performance: While autocracies can drive catch-up growth to middle-income levels, they struggle to transition to innovation-driven, knowledge economies that require rule of law, intellectual property protection, and open debate. High-quality democracies show a modest but robust long-run growth advantage.
• Avoiding catastrophe: Autocracies periodically produce large-scale man-made disasters (Mao’s Great Leap Forward, Soviet collectivization). Institutional checks and public scrutiny in democracies make comparable failures rare.
• Crisis management & environment: Transparency, independent science, and accountability lead to better outcomes on pandemics, climate policy, and environmental indicators. China’s zero-COVID flip-flop and overstated economic statistics illustrate the risks of centralized, unaccountable decision-making.
The authors acknowledge democracies can be slow and messy, but emphasize that self-correction mechanisms ultimately make them more resilient and effective than systems that concentrate power without feedback loops.
Francis Fukuyama, author of the landmark book The End of History and the Last Man, continues to spark important conversations about the enduring strengths of liberal democracy in an era of renewed authoritarian confidence.
Full article (highly recommended):
https://t.co/rdLYptPLnY
What’s your take—do you see evidence of this “myth” playing out in emerging markets or great-power competition today?
#Democracy #Geopolitics #China #EmergingMarkets #InternationalRelations #PoliticalEconomy
Hai semuanya, aku kerja di sektor energi & iklim udah ~10 tahunan.
Mari kujelaskan mengenai pemadaman ini, tapi nggak bisa pendek ya hehe :)
1️⃣ Perjalanan listrik ke rumah kita = panjang
Ini ilustrasi sederhana ya, ada 4 titik penting:
📌 Pembangkitan ➡️ apapun sumber energinya, PLTU = batu bara, PLTD = solar, PLTS = listrik dst
📌 Transmisi ➡️ jalur logistik utama dan jarak jauh (jalan tol)
📌 Distribusi ➡️ jalur cabang mendekati konsumsi, ibaratnya jalan raya dan jalan gang
📌 Konsumsi ➡️ pelanggan, dari rumah sampai pabrik besar
Mahasiswa yang ngerjain skripsi itu adalah bagian dari society. Nulis skripsi bikin mahasiswa itu mikir tertib, sistematis, dan mampu menyampaikan pemikiran secara tertulis. Kemampuan itu beneficial buat society.
Produk skripsi itu bukan naskahnya, tapi manusia yg nulisnya.
Kalau anda bertanya,
siapa sih rujukan aksi jalanan yang baik?
Ada gak teori demo, aksi massa yang bisa dipelajari?
“jagoan” atau ahli dalam demo jalanan/protes jalanan (street protests/demonstrations) adalah:
Gene Sharp (Amerika Serikat, 1928–2018)
Sang “Machiavelli of Nonviolence”
Dia adalah pakar nomor satu soal strategi protes non-kekerasan.
Buku ikoniknya From Dictatorship to Democracy dan daftar 198 Methods of Nonviolent Action dipakai oleh aktivis di seluruh dunia (dari Serbia, Ukraina, Arab Spring, hingga Hong Kong dan Myanmar).
Bukan pemimpin massa di jalan, tapi “otak” di belakangnya, mengajarkan cara mengorganisir demo, occupation, civil disobedience, dan taktik jalanan yang efektif tanpa kekerasan.
Banyak diktator yang “jatuh” gara-gara metode dia.
Sharp lahir 21 Januari 1928 di North Baltimore, Ohio. Pernah dipenjara 9 bulan karena menolak wajib militer saat Perang Korea (pacifist).
Belajar di Ohio State University (BA & MA) dan Oxford University (D.Phil. di bidang teori politik).
Mendirikan Albert Einstein Institution (1983) untuk riset dan pendidikan tentang perlawanan non-kekerasan.
Meninggal 28 Januari 2018 di Boston
Karya Utama & Kontribusi Terbesar Sharp:
The Politics of Nonviolent Action (1973)
Buku paling penting (3 volume, ~900 halaman). Ini tesis PhD-nya yang direvisi. Sharp menganalisis bagaimana kekuasaan itu rapuh dan bisa dihancurkan dengan menarik “sumber kekuasaan” (pillars of support) seperti kepatuhan rakyat, militer, birokrasi, ekonomi, dll.
Di sini ia mengklasifikasikan 198 Methods of Nonviolent Action daftar taktik lengkap yang masih dipakai sampai sekarang
From Dictatorship to Democracy:
A Conceptual Framework for Liberation (1993) Buku tipis (sekitar 90 halaman) yang ditulis untuk aktivis Burma (Myanmar) anti-junta.
Jadi “buku suci” gerakan demokrasi dunia: diterjemahkan ke >34 bahasa, mudah diselundupkan, dan dipakai di Serbia (Otpor!), Georgia (Rose Revolution), Ukraina (Orange Revolution), Arab Spring (Mesir, Tunisia), dll.
Intinya:
Jangan lawan diktator dengan kekerasan (karena mereka lebih kuat di situ), tapi lumpuhkan mereka dengan non-kooperasi massal dan taktik pintar.
Pengaruh di Dunia Nyata:
Serbia 2000: Otpor! pakai bukunya untuk jatuhkan Slobodan Milošević.
Arab Spring: Aktivis Mesir, Tunisia, dll baca dan terapkan metodenya.
Color Revolutions di Eropa Timur (Georgia, Ukraina, Kyrgyzstan).
Banyak gerakan pro-demokrasi di Burma, Iran, Hong Kong, Belarus, dan lain-lain.
Sharp menekankan strategi, bukan sekadar spontanitas. Ia ajarkan:
• Pahami musuh dan sumber kekuasaannya.
• Rencanakan dengan matang (bukan cuma emosi).
• Pertahankan disiplin non-kekerasan supaya dapat dukungan luas.
Ada yang tuduh ia “alat AS” atau terkait institusi Barat (CIA, NED, dll) karena pengaruhnya di revolusi yang “pro-Barat”. Sharp dan pendukungnya selalu membantah karena ia bilang metodenya netral dan bisa dipakai siapa saja melawan penindasan.
Sharp mengubah cara dunia melihat perlawanan: non-kekerasan bukan lemah, tapi lebih efektif secara historis untuk menggulingkan diktator.
Banyak aktivis dan organisasi (seperti CANVAS di Serbia) masih mengajarkan metodenya sampai sekarang.
Jika Anda tertarik bisa baca disini.
Salam darah juang✊🏽
https://t.co/IXUZYva4XF
New Introduction to Special Issue!
The politics and governance of phase-out: a framework for empirical research by Adrian Rinscheid, Florentine Koppenborg & Gregory Trencher.
@gregtrencher
https://t.co/sg0SPhNWnW
#PublicPolicySchoolsoftheFuture brings together 54 essays from 58 leading thinkers to explore how our world is changing and what that means for the leaders of tomorrow.
📚 Download your free copy: https://t.co/s9qmWZ1vPA
#LKYSPP#PublicPolicyEducation
In her EJIR article, Maria Amjad argues that a systematic analysis of the rebel organization using the framework of Historical Institutionalism (HI) is best suited to understand the variation in rebel commitment to peace processes.
You can read it here: https://t.co/45zG71mAvI
kritik ku atas mediasi teknokratik dan bagaimana kemarahan masyarakat seringkali justru diterjemahkan menjadi bahasa kebijakan yang agar ‘mudah diterima’ oleh aktor-aktor pemangku kepentingan.
https://t.co/5W2YCwFywR
Melalui aksi langsung, massa tidak sedang menolak nilai demokrasi; mereka sedang mengambil kembali hak veto politik ketika saluran formal disumbat oleh otoritas. https://t.co/7ynyiZkZEe